Liberal Semakin Berani Kotak Katik Ayat Allah, Kafir Tetaplah Kafir

Di sistem demokrasi saat ini apa yang tidak mungkin bagi para penguasa atau orang-orang yang haus akan kekuasaan untuk mengutak-ngatik ayat Allah. Masih sangat jelas di ingatan kita bagaimana mereka mengatakan bahwa harus ada Islam nusantara, padahal dalam agama Islam oleh nabi kita yaitu Muhammad SAW, adalah hanya satu agama yaitu agama Islam rahmatan lil alamin bukan Islam nusantara.

Tidak cukup sampai di situ saja sistem demokrasi ini mulai menggila dengan larangan sebutan kafir bagi non muslim. Seperti yang dikatakan oleh ketua besar nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj saat rapat pleno dalam musyawarah nasional (Munas) alim ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama(NU) di pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Jawa Barat 27 Februari 2019.

Memang sebutan kafir bukan sesuatu yang asing di telinga umat Islam. Bahkan baik sadar maupun tidak hampir setiap hari kaum muslimin pernah menghafalkan kata tersebut ketika membaca Alquran. Karena kata kafir sendiri oleh Allah SWT disebut berulang-ulang kali di dalam al-quran, semua itu untuk menunjukkan orang-orang yang tidak mau menerima Islam atau mereka yang bukan dari golongan muslim. Namun, belakangan ini sebutan kafir oleh sebagian orang dianggap mengandung konotasi negatif, karena perkataan tersebut terdengar merendahkan atau menyinggung perasaan golongan lain di luar agama Islam. Bahkan tidak jarang penyebutan kafir di acara-acara tertentu sering mendapat kritikan langsung dari pihak tertentu.

Menurut ketua pBNU penyebutan kafir dapat menyakiti perasaan non muslim di Indonesia. Dianggap mengandung unsur kekerasan teologis, bagi non muslim. Sungguh disayangkan mereka mengatakan hal tersebut dan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah seorang prof/ kyai nU yang sering muncul di televisi justru Mereka ingin merubah kata kata kafir. Padahal jelas dalam bahasa Arab kata kafir adalah non muslim lalu Mengapa mereka marah dengan sebutan itu, ketika mereka dikatakan non muslim mereka tidak marah padahal sejatinya bahasa Arabnya adalah kafir.

Jika kita melihat ke belakang bahkan sampai saat ini kekerasan psikis bahkan fisik sebetulnya lebih banyak dirasakan oleh kaum muslim sendiri. Apakah bukan kekerasan teologis dan psikis namanya saat umat Islam hari ini terus di pojokan dengan label “intoleran”, yang mereka selalu menggembar-gemborkan mengancam NKRI, teroris dll, hanya karena menolak dipimpin oleh orang-orang kafir.

Dalam konteks global, yang banyak menjadi korban psikis maupun fisik saat ini adalah kaum muslim yang dilakukan semena-mena oleh kaum kafir bukti nyata adalah saudara kita dipalestina oleh kekejaman kafir Yahudi Israel, rohingya oleh kebrutalan rezim kafir Budha, uighur oleh keganasan rezim kafir komunis Cina oleh kejahatan kafir Hindu dsb. Tapi di sistem saat ini tidak peduli terhadap Apa yang dirasakan atau penderitaan saudara-saudara Muslim kita di negara-negara muslim, mereka hanya sibuk dengan kebahagiaan mereka sendiri saat ini mereka lebih sibuk dengan Pilpres 4 April 2019, jadi penghapusan kata kafir di Indonesia berkaitan dengan Pilpres nanti karena jika kita melihat pada kasus Ahok yang bukan muslim dia berani menghina ayat Allah yaitu surat Al Maidah ayat 51, tapi sungguh disayangkan pengadilan menyatakan Ahok bersalah dalam pasal 156a, bentuk penistaan agama dan menghukumnya hanya 2 tahun penjara.

Kata kafir bukan berasal dari manusia sendiri tapi berasal dari Allah, lalu Mengapa mereka ingin mengutak-ngatik Allah,? Tapi tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka yang terlilit pada sistem kufur saat ini, islam tapi menolak ayat Allah dengan kata kafir, bukankah jika menolak ayat Allah berarti mereka dikatakan kafir juga, seperti yang d katakan Imam an-nawawi “siapa saja yang tidak mengkafirkan orang yang beragama selain Islam seperti Nasrani atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan ajaran mereka, maka dia telah kafir meskipun bersamaan dengan itu dia menampakkan dirinya Islam dan meyakininya”. (an-nawawi,  rawdhah ath-thalibin,3/444). Padahal Jelas dalam Alquran banyak kata kafir bertaburan dalam ayat-ayat Allah, seperti surat Al Maidah ayat 17 dan 72″ sungguh telah kafir orang-orang yang menyatakan bahwa Allah adalah putra Almasih putra Maryam”. Dalam ayat lain “sungguh telah kafir orang-orang yang menyatakan bahwa Allah adalah oknum ketiga diantara tiga oknum”( TQS al Maidah 73). Sendiri ada salah satu surat yang khusus dinamai dengan surat al-kafirun.

Jadi istilah kafir bukanlah sebutan untuk menghinakan golongan yang menganut agama lain. karena dalam Islam kata kafir memang digunakan bagi mereka yang tidak mau menerima ajaran Islam. Karena makna dibalik istilah itu sendiri adalah menyembunyikan atau ingkar terhadap dakwah Islam. Wallahu A’lam Bishawab.

PENULIS: UMMU ARSYAD / HAMSIA (Pemerhati Umat) Konawe Selatan

PUBLISHER: MAS’UD

Whatsapp
error: Content is protected !!