Mengurai Masalah Islamofobia

Mengurai Masalah Islamofobia
INDRYANI PUTRI (MAHASISWA ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN UHO)

Islamofobia berasal dari kata ‘Islam dan Fobia’ yang memiliki makna adanya rasa takut yang berlebihan terhadap agama Islam dan umat muslim. Istilah ini merujuk pada nilai-nilai diskriminasi yang dianggap melekat pada Islam, berupa prasangka-prasangka buruk tak terkecuali sifatnya manipulatif dan kontroversial. Hal ini didasarkan pada  ketidaksenangan terhadap Islam dan muslim.

Deretan fitnah mengenai Islam pun bertebaran, tak ketinggalan tudingan yang sering kali dikaitkan dengannya, hingga  aktivitas terorispun seringkali dialamatkan kepada pemeluk Islam. Islamofobia tumbuh pesat di negara minoritas muslim, terbukti dengan adanya peristiwa pembakaran salinan Al-Quran.

Pemimpin partai sayap kanan Denmark Starm Kurs, Rasmus Paludan, membakar salinan Alquran, Jumat (22/3). Hal itu dia lakukan sebagai bentuk protesnya atas sejumlah Muslim yang menunaikan Shalat Jumat di depan gedung parlemen negara tersebut dikutip republika.co.id, kopenhagen.

Tidak berhenti sampai disitu, masih banyak kasus lainnya yaitu sebuah berita yang dikutip oleh bbc.com- Seorang pria bersenjatakan palu godam diperkirakan merusak empat masjid di kota Birmingham, Inggris, dalam aksi beruntun pada Kamis dini hari (21/03). Laporan pertama di terima kepolisian West Midlands, yang membawahi Birmingham dan sekitarnya, pada pukul 02:30 tentang seorang laki-laki yang menghancurkan jendela masjid dengan palu godam di Birchfield Road. Perusakan empat masjid di Birmingham tersebut terjadi seminggu setelah penembakan dia dua masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Menyebarnya Islamofobia ini sungguh mengkhawatirkan sebab telah sempurna menyudutkan kaum muslimin. Semua itu terdorong karena timbulnya rasa benci serta kecurigaan. Terbukti dengan adanya peristiwa-peristiwa yang tidak senonoh. Tidak hanya dinegara minoritas muslim seperti dibagian belahan bumi barat, wilayah yang didominasi oleh mayoritas muslimpun terjangkit penyakit anti Islam. Contohnya negara Indonesia itu sendiri, yang warganya adalah mayoritas muslim akan tetapi anti Islam masih terjebak dalam jiwa pemeluknya.

Sebuah keanehan bukan? Mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkannya. Bagaimana tidak, pengakuan terhadap keislaman hanya menjadi identitas kartu semata, padahal faktanya pemeluk Islam sendiri juga terinfeksi virus ini. Sikap anti tersebut sering menjadikan pemuda muslim takut untuk mengkaji agamanya sendiri, karena enggan disebut fanatik. Pun, tak jarang orang tua untuk mengingatkan sang buah hati dengan statement bahwa menjadi muslim cukup dengan “Islam yang biasa-biasa saja” yang akhirnya lahir menjadi generasi “yang biasa biasa” pula. Membatasi diri hanya dengan ibadah ritual, kemudian dalam aktivitas kesehariannya “Islam tak perlu dibawa bawa”. Contohnya sholat lancar maksiat lanjut, stigma negatif juga seringkali dilontarkan kepada orang yang kental untuk penampilan syar’i sehingga ujung ujungnya akan melahirkan generasi yang rusak.

Terjadinya fenomena islamofobia karena sejatinya mereka tak mengenal ajaran Islam yang sesungguhnya. Serta akar permasalahan yang lain pula karena masih banyak umat yang mengadopsi budaya dan ideologi lain begitu saja, tidak peduli meski bertentangan dengan keyakinan yang mereka anut.

Berangkat dari problem tersebut maka sudah sepantasnya kaum muslim harus mengenali ajaran akidah Islam secara benar melalui pemikiran yang cemerlang. Hal itu akan membantu mereka dalam mengenali ajaran agamanya, yang akan berujung pada kesimpulan jika mengadopsi ideologi selain Islam merupakan hal yang tidak diperbolehkan.

Tatkala seorang muslim telah mengetahui agamanya dengan benar, akan membentuk pemahaman yang kuat sehingga mampu menepiskan penyakit islamofobia dalam benak mereka. Wallahua’lam bi ash-shawab.

PENGIRIM: INDRYANI PUTRI (MAHASISWA ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN UHO)

Hub (i) kami disini
error: Content is protected !!