Memperkerjakan Asisten Rumah Tangga, Sebuah Dilema

Memperkerjakan Asisten Rumah Tangga, Sebuah Dilema
MARIATI IMPI, SKM (MEMBER WCWH)

Dewasa ini memiliki Asisten Rumah Tangga seakan menjadi sebuah kebutuhan pokok bagi sebagian orang. Ketidakmampuan melakukan semua pekerjaan rumah tangga membuat kehadiran ART sangat dinantikan.

Kebanyakan yang menggunakan jasa ART adalah ibu rumah tangga yang banyak memiliki aktivitas di luar seperti bekerja, aktif dikegiatan sosial, berdakwah dan lain sebagainya.

Walau demikian tidak sedikit juga ibu rumah tangga yang tidak bekerja diluar tetapi membutuhkan bantuan ART dalam menyelesaikan tugas domestiknya.

Menilik begitu beratnya aktivitas rumah dan kantor sehari hari yang dilakukan hampir bersamaan tentu menjadi ujian bagi pasangan suami istri yang bekerja. Suka dan duka pasti menjadi menu sehari-hari.

Psikolog Keluarga dan Anak, Sani B. Hermawan mengatakan memiliki ART memang ditujukan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah sehingga mengurangi kelelahan kedua pasangan suami istri. “ kelelahan akibat bekerja ini memang bahaya karena akan memicu timbulnya stress dan emosi yang tidak stabil. Hal ini bisa membuat hubungan buruk bahkan merusaknya,” kata Sani.  (Bisnis.com. 07/06/2015).

Keengganan Memiliki ART

Namun berbagai faktor juga menghambat adanya keinginan untuk memperkerjakan asisten rumah tangga, karena tak selamanya keberadaan mereka langsung membuat semua persoalan selesai. Terkadang ada juga ART yang bikin majikannya “makan hati” dan justru menambah masalah baru. Misalnya ART yang sibuk dengan gadgetnya saat bekerja, sambil masak, nyuci, setrika, gadget tak pernah lepas.

Ada juga yang kalau diingatkan atau diberitahu “protap” yang berlaku di rumah, justru membantah. Selain itu keberadaan ART juga malah menambah boros bahan-bahan keperluan rumah tangga karena terkadang sulit mengajak ART untuk berhemat.

Belum lagi faktor kejujuran. Ini adalah hal yang paling penting yang tak bisa dikesampingkan mengingat sehari-hari mereka tinggal atau keluar masuk rumah kita. Bukan hal baru kalau kita sering mendengar ART maling dirumah majikannya.

Yang lebih mengerikan lagi adalah kasus penganiayaan dan penculikan anak yang biasanya dilakukan oleh asisten rumah tangga, seperti yang marak terjadi belakangan ini.

Disamping itu,pada saat ini mencari ART bukanlah pekerjaan yang gampang. Biasanya pekerja rumah tangga datangnya dari kampung-kampung namun sekarang banyak gadis kampung yang berpendidikan sehingga tidak mungkin lagi mereka mau bekerja sebagai asisten rumah tangga. Kini mereka gengsi dan lebih memilih untuk bekerja di toko, pabrik, cafe dan jenis pekerjaan lainnyadiluar urusan kerumahtanggaan.

Sehingga sekarang ini sekedar mencari yang mau menjadi pekerja rumah tangga saja sulit apalagi yang pintar, dalam hal ini yang memiliki keterampilan dasar rumah tangga dan memiliki integritas terutama kejujuran.

Pandangan Ulama mengenai Asisten Rumah Tangga

Untuk hal yang terkait dengan asisten rumah tangga ada nasehat dari seorang ulama yang bernama Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, beliau berkata: Tidak mendatangkan pembantu itu lebih utama dan lebih baik. Jika seorang wanita mengurus sendiri urusan-urusan yang wajib baginya dirumahnya, kemudian ia senantiasa meminta  pertolongan kepada Allah dan tidak mengambil pembantu itu lebih baik baginya dan lebih jauh dari resiko bahaya. Karena terkadang pembantu itu orang yang tidak punya perhatian terhadap ajaran agama. Sehingga membahayakan lingkungan rumah dan penghuninya. Juga berbahaya bagi sang suami ketika suami ada dirumah, dan juga para lelaki lain yang ada di rumah.

Namun jika kebutuhannya sangat urgent dan darurat maka hendaknya pilih pembantu dari muslimah yang baik. Lalu berilah peringatan padanya dan juga senantiasa awasi sehingga tidak terjadi hal-hal yang menyelisihi aturan Allah. (http:/www.binbaz.org.sa/mat/2014).

Sebagian para ulama juga menfatwakan bahwa memperkerjakan asisten rumah tangga itu dibolehkan, tapi hanya dalam dua keadaan yakni :

  1. Jika keadaannya darurat atau sangat membutuhkan sekali
  2. Jika bisa selamat dari hal-hal yang dilarang oleh syariat, seperti melihatnya, berduaan dengannya, atau bercampurnya wanita yang bukan mahram, dan lain-lain.

Dari uraian tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sebaiknya kita tidak memperkerjakan ART, karena lebih banyak resistensinya dibandingkan manfaatnya, dan sulitnya memenuhi syarat dari ulama yang membolehkannya. Kecuali bila keadaan darurat atau mendesak. Wallahu a’lam bisshawab.

PENULIS : MARIATI IMPI, SKM (MEMBER WCWH)

Hub (i) kami disini
error: Content is protected !!