Advertisements

New Normal, Program Abnormal?

Ikka Ummu Al Fatih

Istilah new normal kini semakin diperbincangkan seiring dengan pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai. Seperti diketahui, semenjak merebaknya COVID-19 di penjuru dunia, termasuk Indonesia, aktifitas masyarakat sangat dibatasi. Mulai dari memperbanyak aktifitas di rumah hingga mengenakan protokol kesehatan ketika berada di ruang publik. Semua dilakukan untuk menghentikan persebaran virus Covid-19.

Pandemi COVID-19 juga berdampak pada keadaan ekonomi negara-negara terdampak, tak terkecuali Indonesia. Dan kini, Pemerintah berencana melonggarkan aktivitas sosial serta ekonomi dan bersiap kembali beraktivitas dengan skenario new normal. Pemerintah gencar mewacanakan program New Normal dan mulai menerapkannya pada lingkungan kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sekretaris Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Dwi Wahyu Atmaji mengatakan skenario ini merupakan pedoman yang disiapkan agar PNS dapat bekerja optimal selama vaksin Corona belum ditemukan. Dia mengatakan waktu penerapan skenario kerja ‘new normal’ ini akan bergantung pada arahan dari Gugus Tugas Covid-19.(CNBC,25/5/20)

Kembali masyarakat dibuat bingung oleh kebijakan pemerintah saat ini yang akan menerapkan skenario New Normal di Tengah-tengah wabah yang belum usai. Apa sebenarnya new normal itu? New normal adalah berlakunya kembali kehidupan seperti biasanya. Pendidikan dan fasilitas umum di buka dan kehidupan kembali normal. Ya memang kita akan mengahadapi fase new normal setelah wabah mereda dan selesai akan tetapi saat ini bukan waktu yang tepat karena wabah ini belum selesai. Bukan hanya belum usai tapi wabah ini masih menjangkit banyak orang dan kurva penularannya pun semakin tinggi. Sehingga New normal yang di gadang-gadang pemerintah sejatinya belumlah normal. Hal ini sejalan dengan pendapat Dewan Pakar IAKMI Dr. Hermawan Saputra

Mengutip dari merdeka.com, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr Hermawan Saputra mengkritik persiapan pemerintah menjalankan kehidupan new normal. Menurut dia belum saatnya, karena temuan kasus baru terus meningkat dari hari ke hari. “Saya kira baru tepat membicarakan new normal ini sekitar minggu ketiga/empat Juni nanti maupun awal Juli. Nah, sekarang ini terlalu gegabah kalau kita bahas dan memutuskan segera new normal itu,” ujar Hermawan saat dihubungi merdeka.com, Senin (25/5).

Apa yang sebenarnya terjadi mengapa pemerintah ingin menerapkan New normal di tengah kondisi yang tidak memungkinkan? Tidak di pungkiri bahwa wabah ini juga berimbas pada para kapitalis. Usaha – usaha para kapitalis mengalami sakaratul maut. Jika kebijakan PSBB terus di terapkan maka hancurlah mereka. Sehingga merekapun tidak mau merugi dan berambisi agar New normal segera terlaksana dan usaha mereka berjalan kembali. Tentu saja dengan alih-alih memperbaiki ekonomi yang sejatinya hanya menyelamatkan para kapitalis. Rakyatlah yang akan menjadi korban. Semakin Banyak rakyat yang akan terjangkit. Ini bisa terlihat dari fenomena saat ini. Saat masyarakat masih di batasi, kurva penularan semakin naik. Apalagi segala aktivitas di bebaskan. Apa yang akan terjadi pada negeri ini?

Dari banyaknya rentetan kebijakan-kebijakan di atas, selama sistem yang diterapkan adalah sistem kapitalis yang hanya menguntungkan sebagian orang, maka mustahil rakyat akan aman dari wabah ini. Seharusnya yang menjadi prioritas utama saat ini adalah bagaimana menyelamatkan jutaan nyawa akar terhindar dari wabah.

Jika ekonomi yang menjadi tolak ukur penerapan kebijakan New normal ini maka pemerintah harusnya menyadari bahwa Ekonomi akan hidup jika wabah ini selesai, namun nyawa yang telah gugur tidak akan pernah kembali hidup. Nyawa adalah sesuatu yang sangat di jaga dalam islam.

Allah berfirman:
وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32)

Nyawa dan keamanan rakyat akan terjaga saat sistem dari Allah yaitu sistem islam diterapan. Sudah sepatutnya kita bangun dari tidur panjang kita bahwa islam adalah solusi terbaik dalam menangani berbagai masalah. Dan sistem kapitalis tidak akan pernah memikirkan nasib rakyatnya.
Wallau’alam bi Ash shawab.

Oleh: Ika Ummu al-Fatih (Aktivis Muslimah)

http://corona.sultraprov.go.id/
Advertisements
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan (2)
Iklan (1)

tegas.co

Berita Video Kritik Berimbang & Lugas