Gencarkan Bahaya Radikalisme, Rezim Halangi Kebangkitan Islam

Penulis Religi: Hamsina Halisi Alfatih

TEGAS.CO., INDONESIA – Nampaknya isu radikalisme telah menjadi jargon para pembenci Islam yang justru notabenenya adalah muslim. Isu radikalisme semakin digencarkan seolah individu atau kelompok yang mendakwakan amar ma’ruf nanti mungkar adalah mereka yang paling mengancam NKRI. Kali ini Menti Agama (Menag) Fachru Rozi kembali membuat kontroversi bahaya radikalisme lewat good looking hingga hafiz Al-Qur’an.

Selain itu, pernyataan kontroversi Menag Fachrul Razi terkait adanya strategi paham radikal masuk di lingkungan ASN dan masyarakat yang disampaikan di acara webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara (ASN)’, yang disiarkan di YouTube KemenPAN-RB, pada Rabu (2/9). Atas pernyataan kontroversi bahaya radikalisme lewat good looking dan hafiz tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun geram dan meminta agar Menag kembali menarik ucapannya yang terbukti menyudutkan umat Islam.

Melalui Detiknews.com, (04/09/20) Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menarik ucapannya terkait paham radikal masuk melalui orang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik. MUI menilai pernyataan Fachrul itu sangat menyakitkan.

Semenjak Menag Fachru Razi menduduki jabatan sebagai Menteri Agama memang kerap melontarkan pernyataan yang secara gamblang menyudutkan dan menyerang umat Islam. Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi merupakan orang Istana yang berhasil menyita perhatian di antara 38 menteri Kabinet Indonesia Maju yang dilantik Presiden Joko Widodo pada 23 Oktober 2019. Fachrul Razi memang dikenal publik lewat pernyataan dan kebijakannya yang kontroversial terkait radikalisme.

“Gebrakan” pertama Fachrul di Kemenag adalah saat menyatakan ingin membatasi penggunaan cadar dan celana cingkrang di instansi pemerintah. Saat itu, Fachrul bilang ada tren mengaitkan penggunaan cadar dan celana cingkrang dengan tingkat ketakwaan. Selain itu, ia juga menyinggung alasan keamanan, (Cnnindonesia.com,11/12/19).

Narasi-narasi yang hendak dibangun oleh rezim saat ini memang senantiasa baik secara langsung maupun tidak langsung ingin merusak citra buruk Islam dimata masyarakat. Bahkan secara gamblang menyebutkan pihak-pihak yang terpapar ide Khilafah seperti dari kalangan ASN, Aparat berwajib maupun dari kalangan mahasiswa, dan lainnya adalah sebagai penyebar paham radikalisme. Dengan membangun narasi buruk seperti ini seolah memberi gambaran bahwa Khilafah merupakan sebuah ancaman yang harus dilawan.

Radikalisme sejatinya merupakan senjata utama Barat. Paham yang berasal dan merupakan ide buatan dari Barat ini sejatinya adalah ingin menghancurkan Islam. Barat paham dan sadar betul bahwasanya Islam merupakan ancaman yang nyata bagi mereka. Hal tersebut ditandai dengan kebencian Barat terhadap kebangkitan umat Islam dengan sistem Khilafahnya yang mampu mengalahkan hegemoni Barat dimasa silam. Oleh karena itu, mereka dengan sekuat tenaga berusaha untuk membendung kembali atas tegaknya khilafah Islam yang telah runtuh sejak tahun 1924 lalu.

Karenanya, ambisi Barat yang ingin menghancurkan Islam tentu tidak akan berjalan dengan mudah tanpa kaki tangan penguasa komprador terutama di negeri-negeri Muslim salah satunya Indonesia. Dengan arahan Si Tuannya (Barat) penguasa di negeri ini tak segan menggebuk siapa saja yang mencoba mendakwahkan kebangkitan Islam, Khilafah

Dari sini pula bisa kita menilai bahwa sebenarnya, narasi serta isu radikalisme yang hendak dibangun hanyalah untuk menutupi segala bentuk permasalahan atas kegagalan sistem kapitalisme di negeri ini. Hal ini bisa kita lihat bagaimana setiap tahunnya kasus korupsi semakin marak yang menjerat setiap pejabat yang duduk di kursi pesakitan. Belum lagi penguasaan Sumber Daya Alam oleh pihak swasta maupun Asing yang semakin tak terbendung. Ditambah dengan kebijakan pemerintah yang seenaknya menaikkan subsidi BBM maupun Tarik Daya Listrik yang kemudian diperparah dengan banyaknya pungutan pajak yang semakin mencekik rakyat.

Dari segala macam persoalan inilah yang seharusnya membangkitkan kesadaran umat dari seluruh elemen untuk melawan isu radikalisme yang dibangun oleh Barat serta kaki tangannya. Sebab jika hal ini terus berlanjut tanpa adanya perlawanan lewat dakwah maka kita akan tetap dirugikan dan disudutkan melalui proyek radikalisme.

Oleh karena itu, apapun posisi kita sebagai hamba yang bertakwa kepada Allah SWT tetaplah mendakwakan Khilafah. Sebab, dengan bangkitnya Islam dengan sistem Khilafahnya yang akan memberikan kebaikan, kesejahteraan, dan kedamaian bagi seluruh umat di dunia.
Wallahu A’lam Bishshowab

PENULIS: Oleh: Hamsina Halisi Alfatih
EDITOR: H5P

tegas.co

Berita Video Kritik Berimbang & Lugas