oleh

Konflik AS-China Akankah Menjadi Perang?

Logo tegas.coDireksi & Redaksi tegas.co mengucapkan Selamat & Sukses Konferensi PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PW)I Sulawesi Tenggara pada 9 - 11 Juli 2021 “Tingkatkan Profesionalisme Wartawan Di tengah Pandemi Covid19 Menyongsong HPN 2022 di Kendari””
Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP)

TEGAS.CO.,NUSANTARA – Bagi AS, wilayah yang menjadi beban pikirannya adalah bagaimana mampu mengontrolnya adalah wilayah Indo-Pasifik. Dari wilayah Pasifik ini, AS mendapat serangan besar dan mendadak. Pada tahun 1941, Jepang menyerang Pearl Harbour AS. Tentunya serangan ini berhasil melumpuhkan pangkalan laut AS tersebut. AS menjadi murka. Dua bom atom dijatuhkannya di Nagasaki dan Hiroshima, Jepang sebagai balasan setimpal.

Satu hal yang perlu dicermati adalah AS ke wilayah Pasifik cukup jauh. Artinya sangat mustahil bila kapal induk perang saat mengebom atom berada di AS. Di sinilah peran adanya pangkalan militer di negara-negara sekutunya.

Mencermati hal demikian, AS tidak ingin kecolongan lagi. China dipandang menjadi batu sandungan bagi hegemoninya. China termasuk energik Power. Ambisi ekonominya mampu mendudukkannya sebagai raksasa ekonomi di kawasan Laut China Selatan. OBOR China menandai hegemoni ekonominya.

Benar bahwa AS mengakui China sebagai negara berdaulat. Di sisi lain, AS juga mengakui Taiwan sebagai negara. Pada aspek inilah, China mempermasalahkan campur tangan AS. China mengklaim bahwa Taiwan itu masih berada dalam wilayahnya. AS sendiri tidak bisa menganggap remeh klaim China atas Taiwan.

Hanya saja AS perlu untuk memperkuat negara-negara sekutunya, bila sewaktu-waktu ada serangan China. Maka tentu wajar AS bekerja untuk hal ini. AS memasok persenjataan canggih ke Taiwan. Termasuk AS mengajak sekutunya untuk berlatih perang yaitu Jepang, Perancis, Jepang dan Australia baru-baru ini. Melihat hal demikian, China mengancam Australia akan mengirim rudal balistik DF-6 ke wilayahnya. Akankah hal ini bisa memicu terjadinya perang fisik antara AS dan China?
Sebenarnya antara AS dengan China tidak memiliki track record berperang fisik. Oleh karena itu, eskalasi ketegangan di antara AS dam China walaupun meningkat masih belum bisa menyeret keduanya berkonfrontasi senjata dengan terbuka. Paling perseteruannya adalah berbentuk perang dagang, saling menyalahkan satu sama lain dalam kasus sumber corona hingga persoalan vaksin Covid-19.

Yang dilakukan AS masih sebatas bermanuver memberi tekanan politik kepada China. Kapal perusak AS baru-baru ini berada di Laut China timur. Tentunya hal demikian menjadi sinyal kuat agar China tidak memaksa Taiwan. Termasuk juga adanya gelaran latihan militer AS guna penguatan wilayah-wilayah dalam negeri dari negara-negara sekutunya.

Walaupun eskalasi perseteruan AS-China cenderung meningkat, tetap belum berpotensi melahirkan sebuah peperangan yang besar. Kondisi pandemi yang menghajar dunia termasuk AS-China. Bahkan pandemi mampu membuat gonjang-ganjing ekonominya. Maka untuk melakukan recoveri keadaan, telah banyak pendanaan yang dikeluarkan masing-masing negara guna menyelesaikan krisis nya.

Jadi terlalu dini menyatakan akan terjadi perang AS -China. Keadaan dalam negeri di negerinya masing-masing larut dalam recovery mental dan kesehatannya. Jika dipaksakan bertempur, tentunya hanya akan menegaskan ketercorengan kedaulatan.
Demikianlah kedua pihak masih bisa menahan diri. Mereka tidak mau mengambil risiko besar terkait dampak Covid-19 di negerinya masing-masing.

AS hanya mencukupkan diri memberikan tekanan politik dan ekonomi kepada China. AS bisa mengukur kemampuannya. Walaupun AS sebagai nomor 1 dari segi alutsistanya, tidak serta merta menghalangi Rusia untuk ikut campur tangan dalam konflik. Padahal antara AS dan Rusia baru saja menandatangani perjanjian proliferasi penggunaan nuklir. Bahkan AS sempat menghimbau agar China tergabung dalam perjanjian proliferasi nuklir. Permintaan tersebut tidak serta merta mengikat China. China sendiri belum menjawabnya.

Melihat konstelasi politik global, AS hanya mencukupkan diri dalam penguatan negara-negara yang menjadi sekutunya. Melalui sekutunya itu, AS, mengetahui lebih banyak hal. Artinya yang berseteru dibiarkan terjadi di antara negara-negara sekutu AS dengan China.

Terjadi perang ataupun tidak, tetap saja negeri-negeri di wilayah Indo-Pasifik akan terkena imbasnya. Ibaratnya terdapat dua gajah berkelahi, maka pelanduk mati di tengah-tengah.

Sedangkan negeri-negeri di kawasan Indo-Pasifik, khususnya di kawasan Laut China Selatan dan sekitarnya kebanyakan notabenenya adalah negara muslim, seperti Indonesia dan Malaysia. Tentu saja miris bila kaum muslimin akan bernasib layaknya sebuah pelanduk.

Oleh karena itu guna menghadapi konflik di antara negara-negara imperialis, dunia Islam harus memiliki kekuatan. Yang pertama adalah kekuatan ideologi. Dunia Islam pernah menjadi adidaya yang hegemonik. Pastinya hegemonik dalam kebaikan. Ideologi Islam harus segera diambil seutuhnya oleh kaum Muslimin. Jangan sampai para inperialis itu tersadarkan oleh berisiknya kita dengan karut marutnya masalah.

Berikutnya, dunia Islam harus mempunyai kekuatan politik dan militer. Adalah Pakistan mampu menggunakan kedekatannya dengan AS guna mendapat senjata nuklir. Hasilnya Pakistan mampu menghadapi tekanan India. Artinya dunia Islam itu kaya raya dengan potensi SDA melimpah. Bila semua potensi tersebut terkumpul dalam pautan Aqidah Islam, maka dunia Islam akan menjelma menjadi kekuatan super powernya menggantikan hegemoninya negara-negara imperialis.

Penulis: Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP)
Editor: H5P

DMCA.com Protection Status

Komentar