Titik Nol Peradaban Islam Indonesia  di Aceh Menuai Kontroversi

tegas.co. ACEH LANGSA – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) beberapa lalu meresmikan pelatakan batu pertama titik nol di Barus, sontak menuai kontroversi dari putra putri Aceh.  Protes itu datang dari salah satu Putra Aceh yakni Khairuddin .M.pd Putra Aceh yang menjadi Pengurus Ikatan Guru Indonedia (IGI) Pusat mempertanyakan kebenarannya apakah Pasai itu di Perlak atau Barus?.

Khairuddin .M.pd
Khairuddin .M.pd

“Saat Presiden Jokowi meresmikan Barus sebagai Titik Nol Peradaban Islam Indonesia. Apa Pak Jokowi tidak gegabah dalam menetapkan itu, terlebih bukankah Jokowi paham Aceh karena pernah tinggal di Bener Meriah Aceh, tau peradaban Aceh, paham budaya Aceh yang nuansa Islami. Apa Jokowi tidak salah info ya? Dan keputusan Presiden juga menyakitkan buat saya sebagai orang Aceh,” Ungkap Khairuddin M.pd pada tegas.co Rabu malam (29/3).

Berlangganan berita tegas.co silahkan isi form di bawah ini

Lanjut Pengusus IGI Pusat. Pada tahun 2010 di Yogyakarta setelah memberi kata kata sambutan pada malam budaya di hadapan para peserta dari Asia Tenggara, saya mempresentasikan juga budaya Aceh sebagai the westernmost of indonesia yang memiliki nilai historis tinggi tidak hanya bagi Indonesia namun juga pusat masuk Islam pertama di Asia Tenggara.

“Aceh kebanggaan saya dalam hal perdaban Islam pertama, bukan hanya titik nol Indonesia, tetapi juga titik nol Islam Nusantara, bahkan ulama ulama Aceh begitu militan berjuang untuk kemerdekaan RI atas nama agama hingga titik nol nafas terakhir. Tentu saja saya berani berkata demikian setelah membaca kajian sejarah di edisi khusus Sabili dengan tema Istimewa, masa Emas Islam Indonesia, di sana disebut bahwa Pasai merupakan situs Islam pertama Asia tenggara meski banyak yang klaim Peureulak yang pertama,”Ujarnya menjelaskan kontroversi tersebut.

Menurutnya, pusat kerajaan Islam di Pasai sudah sejak Abad ke XI ditandai dengan makam2 bersejarah di sana termasuk Makam Raja Malikussaleh yang juga ulama besar yang berperan membawa masuk Islam di Aceh.

Peninggalan-peninggalan makam di Samudera Pasai lebih menyiratkan sisi sejarah tersebut ketimbang peninggalan di daerah Peurelak yang nyaris tak memiliki bekas yang gagah. Belakangan Aceh Utara sebagai tempat Samudera Pasai mulai berbenah dengan gapura megahnya, namun baru sebatas itu,”Katanya.

Sementara untuk di Peurelak bukan tanpa dasar mengklaim pusat peradaban Islam pertama Indonesia, Pada seminar kebudayaan tahun 1980 yang menghadirkan sejarahwan se Indonesia menyebutkan bahwa meski tidak memiliki bekas yang besar, namun peninggalan-peninggalan yang ada di Peurelak Aceh Timur menunjukkan bahwa Islam sudah menjejakkan bekasnya di Peurelak pada abad ke VII, ratusan tahun lebih awal dari Pasai.

Dijelaskan, dalam seminar itu pula merekomendasikan agar siapapun Bupati Aceh Timur sebagai pemegang mandat budaya yang harus mendirikan museum sebagai monumen bersejarah bahwa Peurelak adalah titik 0 peradaban Islam Indonesia. “Sayangnya hingga Bupati demisioner sekarang tidak ada yg menuntaskan amanah itu,”Katanya menyayangkan.

Sedangkan Monumen itu bernama Monumen Islam Nusantara (Monisa). Dalam konteks monisa, memang agak sulit, selain arkeologi yang tersedia di Peurelak minim, sebagian besar informasi tentang sejarah Peureulak seperti kisah Nurul A’la, Banta Amat, Nurul Qadimah dan raja-raja bersumber dari cerita orang tua-tua, sehingga akurasi datanya berkurang apalagi cerita itu sudah diwariskan oleh beberapa generasi sehingga berbagai modifikasi bisa saja terjadi dalam penyampaiannya.

Namun baik Pasai maupun Peurelak keduanya memiliki khas masyarakat Islami, terlebih 100 persen masyarakatnya beragama Islam. Kedua daerah tersebut berada di Provinsi Aceh yang kita tahu melahirkan ulama-ulama besar, seperti Nuruddin Ar Raniry, Abdurrauf as Singkili dan lain sebagainya.

“Saya tidak mau klaim kebenaran, terlebih saya percaya filosofi ketika kau merasa terlalu benar sesungguhnya kau sedang menutup kebenaran yang utuh. Terlebih jika ada bukti arkeologi secara otentik di Barus Tapanuli yang mampu membuktikan bahwa peradaban Islam berasal, itulah fungsinya menulis sebagai bukti yang membekas tak terbantah, ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan,”Tegasnya.

Ditambahkan, sesungguhnya penulisan Barus sebagai pusat peradaban Islam sudah pernah ada sejak 2015, bahwa Barus memiliki bukti arkeologi, Islam sudah ada di sana sejak abad VI. Temuan lain mengenai Barus juga diperkuat oleh Prof. Dr. HAMKA, yang menyebutkan bahwa, seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, Hamka menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Nusantara. Hamka juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika (HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama, Pustaka Panjimas, cet. 3, Jakarta, 1996, hlm. 4-5).

Berbeda dengan Pasai dan Peureulak, Barus di Tapanuli Tengah saya pikir masyarakatnya tidak 100 persen Islam, itulah mungkin yang salahsatu buat masyarakat Aceh sulit terima pergeseran sejarah itu.

Tapi saya pikir buat apa berbantah-bantah jika tak ada bukti kuat, mari saling menguatkan sebagai ciri muslim sejati. Jika memang Barus sebagai titik nol peradaban Islam hendaknya pemerintah tidak sekedar meresmikan, namun membangun monumen, museum serta pusat edukasi peradaban Islam bagi anak cucu ke depan sebagai warisan pengetahuan. Jika memang benar Barus adalah titik nol peradaban Islam, maka Aceh adalah puncak emas Islam nusantara yang insyaAllah terlihat dari pola kehidupan masyarakatnya, yach sebagaimana Aceh menyumbang emas bagi puncak monumen Indonesia.

Tak perlu berdebat untuk sejarah Islam toh, mari berdiskusi dengan bukti otentik, hingga sejarah menjadi ‘ibrah sebagaimana pesan di QS. Yusuf ayat 111, yang penting dari sejarah itu adalah kita masih berislam hingga detik ini, mari bersyukur pada Allah yang membuka jalan keislaman dari para pedagang, baik dari Barus, Peureulak maupun Pasai.

ROBY SINAGA / HERMAN

Radio FM VOA Amerika Serikat Bahasa Indonesia DMCA.com Protection Status VOA TV Bahasa Indonesia Piala Dunia di Rusia adalah yang termahal, dengan biaya sekitar 15 miliar dolar, yang antara lain dipakai untuk membangun beberapa stadion besar baru, jaringan rel kereta api dan perbaikan bandara. Ini kesempatan untuk meningkatkan citra global Rusia, namun apakah berdampak baik bagi warga Rusia?

TEGASCO

Berita Video Kritik Berimbang & Lugas

Show Buttons
Hide Buttons