oleh

Jebakan Sektor Pariwisata, Wakatobi Dibangkitkan Kembali

Jebakan Sektor Pariwisata, Wakatobi Dibangkitkan Kembali. foto: istimewa

TEGAS.CO,. NUSANTARA – Wabah Covid-19 yang berkepanjangan telah menjadikan sektor pariwisata tiarap. Padahal sebelumnya, sektor ini diproyeksikan menjadi sumber devisa negara terbesar. Namun apa daya, justru pariwisatalah yang kini paling parah terkena dampaknya.

Dilansir dari TELISIK.ID merosotnya sektor pariwisata juga melanda Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), pariwisata Wakatobi memang sudah terkenal di kancah nasional maupun internasional. Tetapi selama pandemi COVID-19 melanda dunia, sektor pariwisata terpukul, termasuk Wakatobi.

Banyak turis domestik maupun mancanegara enggan ke Wakatobi akibat wabah, banyak tempat wisata terpaksa harus tutup, ekonomi UMKM warga langsung lesu. Padahal sebelumnya, ekonomi masyarakat tumbuh cukup pesat.

Setelah dua tahun pandemi melanda Indonesia, Wakatobi perlahan mulai bangkit, tak mau terus terkurung dalam keterpurukan ekonomi. Pemerintah daerah setempat memutar otak untuk menarik kembali wisatawan yang sempat hilang.

Wakatobi Wave 2021 dipilih sebagai cara paling jitu untuk merangsang minat wisatawan, banyak kepala daerah diundang dalam giat 4-6 Desember 2021. Termasuk dari Bank Indonesia (BI) Sultra yang berkomitmen mendorong pengembangan pariwisata termasuk UMKM sebagai pendukung pariwisata.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulra, Bimo Epeyanto menerangkan, berbagai rangkaian Wakatobi Wave, mulai dari Expo UMKM, industri kreatif dan ekonomi digital, pagelaran seni budaya, festival kuliner sampai fashion show dinilai sangat membantu kebangkitan pariwitasta Wakatobi.
Alih-alih menyelamatkan ekonomi rakyat, adanya arena pariwisata ini justru semakin menggerus pebisnis lokal.

Para pebisnis kakap dengan modal yang besar telah melibas pebisnis lokal di daerah sekitaran pariwisata. Dengan kemampuan ilmu bisnis dan modal yang tipis, mereka terhempas dari persaingan.

Jebakan Sektor Pariwisata

Sektor pariwisata memang menawarkan terciptanya lapangan kerja dan aktivitas ekonomi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat setempat. Pembangunan Desa diharap dapat menggerakkan ekonomi daerah setempat, terkhusus UMKM yang makin menggeliat.

Namun, realisasinya justru sering kali sebaliknya. Pembangunan Desa Wisata akan menggerus milik warga, menjadikan mata pencaharian mereka hilang, rumah warga disulap menjadi berbagai sanggraloka megah yang hadir melengkapi kawasan wisata.

Walaupun Wisata berkonsep pedesaan tanpa penginapan mewah, tetapi permintaan pasar akan menghadirkan itu semua. Pada awalnya, UMKM mungkin bisa menghadirkan penginapan dan restoran bagi para pengunjung.

Namun, seiring dengan persaingan pasar, UMKM akan kalah dengan pendatang baru yang memiliki konsep paripurna dan modal yang lebih besar.

Pun halnya terkait terciptanya lapangan kerja. Memang benar akan tercipta, tetapi lapangan kerja yang tersedia hanyalah pekerjaan-pekerjaan berupah di bawah UMR, seperti satpam, penjaga karcis, petugas kebersihan, pelayan restoran, dll..

Keterbatasan skill dan pendidikan membuat mereka diposisikan seperti yang demikian. Sungguh menyedihkan bila tuan rumah sekadar dijadikan pegawai berupah rendah.

Tabiat ekonomi neolib dalam pariwisata menjadikan menghalalkan segala cara demi meraup rente sebanyak-banyaknya. Tak terkecuali di sektor pariwisata. Dengan dalih mengundang para wisatawan, kebudayaan yang mengandung sirik pun sah-sah saja dilestarikan.

Demi menggaet wisatawan, budaya yang tidak sesuai dengan syariat malah dilestarikan Akhirnya, budaya liberal semakin kental di lingkungan wisata. Interaksi penduduk setempat dengan para turis, telah menjadikan warga semakin permisif terhadap budaya barat. Mereka seolah dipaksa menerima kebebasan tingkah laku para turis yang pada akhirnya mengilhami tingkah lakunya sendiri.

Pariwisata dalam Islam

Berbeda 180 derajat dengan Islam. Islam memosisikan pariwisata sebagai sarana dakwah dan propaganda, bukan sumber devisa negara. Adapun pos pembiayaan negara, diambil dari pos FAI, kepemilikan umum, dan sedekah.

Keindahan alam yang dijadikan tempat pariwisata seperti pantai, pegunungan, air terjun, dan yang lainnya, akan dijadikan sarana dalam menyebarkan Islam. Bagi wisatawan muslim, setelah mereka disuguhkan keelokan seluruh ciptaan Allah Swt., akan semakin kukuh keimanannya.

Begitu pun bagi wisatawan nonmuslim, yang niat awalnya ingin menikmati keindahan alam, akan disuguhkan pula ajaran Islam.

Seperti interaksi penduduk setempat dengan para turis, dengan semangat dakwah akan mewarnai para turis dengan budaya Islam. Begitu pun pemandu wisata yang dipersiapkan, ditugaskan untuk menyebarkan pemahaman Islam. Terjadilah transfer pemikiran di sana.

Sang turis, bukan hanya menikmati keindahan alamnya saja, namun juga beserta penjelasan tentang alam raya dan hakikat kehidupan seorang hamba. Jadilah wisatawan mengenal akidah Islam dan khasanah nya.

Sungguh, fungsi pariwisata dalam Islam akan sulit dioptimalkan dalam sistem kapitalisme. Jangankan berdakwah di tempat pariwisata, dalam sistem sekuler yang diadopsi negara ini, untuk berdakwah di masjid saja diawasi. Berdakwah dipaksa sesuai dengan kepentingan rezim berkuasa, rezim yang telah jelas memusuhi Islam. waullahualam

Penulis : Fhya N (Aktivis Dakwah Kampus)

Editor: Yusrif

Iklan Dishub Sultra

Komentar