Example floating
Example floating
Berita UtamaSultra

Pimpin Apel Siaga Penanggulangan Bencana, Ali Mazi Harap Tingkatkan Keterpaduan dalam Kerjasama

967
×

Pimpin Apel Siaga Penanggulangan Bencana, Ali Mazi Harap Tingkatkan Keterpaduan dalam Kerjasama

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sultra, Ali Mazi saat memberikan amanat dalam Apel Siaga Penanggulngan Bencana. *Foto: JGS/Frans Patadungan © 2022 dan Ari Ardiansyah © 2022

TEGAS.CO,. SULAWESI TENGGARA – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) H. Ali Mazi, SH memimpin Apel Siaga Penanggulangan Bencana se-Sultra tahun 2022 yang diselenggarakan di Lapangan Lembah Hijau, Kota Baubau. Minggu (27/3/2022).

Apel Siaga Penanggulangan Bencana itu mengangkat tema “Meningkatkan Kolaborasi dan Integrasi dalam Mewujudkan Ketangguhan Bangsa dalam Menghadapi Bencana di Provinsi Sulawesi Tenggara”

Bertugas sebagai Perwira Apel, H. Dedet Ilnari Yusta, SE., MA., IN.CD dan Pemimpin Apel Kapten Inf. Efendi

Dalam amanatnya, Gubernur Sultra menyampaikan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan hal urgen dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Untuk itu, apel siaga tersebut sebagai salah satu langkah kesiapsiagaan mengahdapi bencana.

Gubernur juga menjelaskan, tujuan penyelenggaraan apel siaga itu adalah untuk melihat kesiapan, baik personil, peralatan, perlengkapan, maupun keseluruhan aspek pendukung penyelenggaraan penanggulangan bencana yang terkoodinir, terarah, terpadu serta menyeluruh.

“Saya berharap melalui Apel Siaga Penanggulangan Bencana, kita dapat meningkatkan keterpaduan dalam kerja sama, saling menyemangati dan saling dukung semua unsur terkait, sekaligus kita bisa memastikan kesiapan personil, peralatan dan perlengkapan yang mampu dan siap menghadapi segala kemungkinan apabila terjadi bencana khususnya di wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara, serta mengurangi risiko bencana melalui upaya pencegahan dan mitigasi,” kata Gubernur Ali Mazi.

Orang nomor satu di Bumi Anoa itu juga mengingatkan bahwa saat ini semua pihak masih diperhadapkan oleh tantangan akibat Bencana Non Alam pandemic Covid-19 yang telag berdampak negatif, tidak hanya pada sector kesehatan, namun telah mengganggu kondisi perekonomian, politik, dan social budaya serta ketertiban dan ketenteraman masyarakat.

“Kita juga masih diperhadapkan pada ancaman bencana alam bersifat kontinjensi yang waktu dan tempatnya tidak dapat diketahui sebelumnya, yang kerap kali berdampak sangat besar, dan menimbulkan kerugian materi maupun nonmateri, seperti kerusakan dan atau kehilangan harta benda, cidera fisik, psikologis serta ancaman kehilangan nyawa bagi korbannya,” ucapnya.

Tidak hanya itu, Gubernur kembali menyampaikan, bencana alam juga merusak infrastruktur dan beberapa fasilitas umum di wilayah yang terdampak. Mencermati kondisi tersebut, Ali Mazi berpesan bahwa saat ini masih ada bencana alam diprediksi mungkin akan terjadi di wilayah Sultra.

Sehingga dengan hal itu, menjadi bukti bahwa penanggulangan bencana kedepannya memliki tantangan yang semakin kompleks. Untuk itu, Gubernur meminta semua pihak harus memahami ancaman, kerentanan dan meningkatkan kekuatan serta kapasitas dalam penanggulangan bencana.

Dalam hal peningkatan kapasitas Penanggulangan Bencana, dapat dilakukan dengan:

  1. Melalui regulasi penanggulangan bencana, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota;
  2. Peningkatan kapasitas sumber daya melalui pelatihan teknis personil penanggulangan bencana; dan
  3. Peningkatan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam penanggulangan bencana melalui sosialisasi dan edukasi, serta simulasi yang tepat sasaran dan dilaksanakan secara kontinyu, serta konsisten dengan memperhatikan aspek kearifan lokal.

Melalui momentum apel siaga itu, Gubernur kembali menyampaikan beberapa hal untuk menjadi perhatian dalam pelaksanaan penanganan bencana yang akan dihadapi, khususnya bagi para personil di garis depan, sehingga mendapatkan solusi dan dapat bertindak cepat, efektif dan efisien, tepat sasaran dan tepat manfaat:

  1. Pedomani prinsip penanggulangan bencana sesuai dengan undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana;
  2. Selalu siap siaga sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan siap, untuk dikerahkan baik dalam wilayah sendiri maupun wilayah lainnya;
  3. Lakukan sosialisasi dan himbauan secara intens kepada masyarakat untuk mengantisipasi dan siap hadapi bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi;
  4. Terus tingkatkan kemampuan teknis dalam rangka memberikan bantuan kepada masyarakat yang tertimpa bencana, utamanya di saat keadaan darurat;
  5. Tingkatkan kerja sama yang sinergis dengan instansi terkait dalam penanganan bencana alam yang terjadi;
  6. Laksanakan tugas kemanusiaan tersebut dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab, serta tetap jaga diri;
  7. Yang tidak kalah penting demi kelancaraan dan keberhasilan dalam melaksanakan tugas mulia penanggulangan bencana, adalah selalu bermunajat memohon kepada tuhan yang maha kuasa, agar senantiasa diberi kesehatan, kekuatan, kesempatan, dan bimbingan serta perlindungan-nya.
Foto bersama jajaran Forkopimda. *Foto: JGS/Frans Patadungan © 2022 dan Ari Ardiansyah © 2022

“Akhirnya, saya selaku Pimpinan Daerah Sulawesi Tenggara, menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada BNPB, Forkopimda, TNI/Polri, Bupati/Walikota, Basarnas, Tagana, BPBD Provinsi dan Kabupaten/Kota serta semua pihak yang selama ini telah bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab dalam penyelengaraan Penanggulangan Bencana di Sulawesi Tenggara, baik Bencana Non Alam Pendemi Covid-19, maupun bencana alam. Semoga kita semua terus bersemangat dan bersinergi dalam kesiapsiagaan tangguh bencana,” kata Gubernur Ali Mazi.

Bencana Alam Tahun 2022

Apel ini diikuti seluruh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, dan instansi terkait, TNI, Polri, Satpol PP, Damkar, Tagana, Tim Reaksi Cepat (TRC), Senkom dan Palang Merah Indonesia (PMI) serta para relawan yang terlibat.

Apel Gelar Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Sulawesi Tenggara tersebut dipimpin Gubernur Ali Mazi. Dihadapan seluruh peserta Apel Gelar Kesiapsiagaan, Gubernur Ali Mazi, Pemda Sultra merupakan First Responder penanggulangan bencana yang dituntut untuk melakukan langkah-langkah preventif dan komprehensif dalam penanggulangan bencana.

Faktor utama penyebab bencana sering terjadi karena perilaku manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan dan keberhasilannya sangat bergantung pada tingkat kesadaran masyarakat dan kesadaran semua komponen yang terkait. Oleh karena itu, setiap program yang telah dilakukan perlu dievaluasi.

Apel Kesiapsiagaan ini, sangat penting sebagai upaya strategis dalam melaksanakan manajemen pengelolaan bencana mulai dari tindakan preventif, hingga pasca bencana secara profesional dan bertanggung jawab, karena masyarakat sangat berharap kepada kita semua agar lebih sigap dan tanggap ketika bencana hadir.

Sejak 1 Januari hingga 18 Maret 2022 sebanyak 1.462.187 jiwa menderita dan mengungsi karena bencana alam yang terjadi di Indonesia. Hal ini berdampak pada korban meninggal dunia 27 jiwa, tiga hilang dan 586 luka-luka.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana alam Banjir, Cuaca Ekstrem, dan Tanah Longsor yang paling banyak terjadi. Total jumlah bencana hingga 18 Maret 2022, sebanyak 978 kejadian. Bencana Banjir 394 kejadian, Cuaca Ekstrem 339, Tanah Longsor 188. Kemudian, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) 44, Gelombang Pasang dan Abrasi 8, serta Gempa Bumi 5 kejadian.

Bangunan rumah yang mengalami kerusakan sebanyak 18.884 unit. Rumah yang mengalami Rusak Berat 3.300 unit, Rusak Sedang 3.483 unit, dan Rusak Ringan 12.061 unit. Fasilitas Pendidikan yang rusak 332 unit, Tempat Peribadatan 137 unit, dan Fasilitas Kesehatan 60 unit. Jembatan yang rusak sebanyak 63 unit, dan Kantor 61 unit.

Dari total 978 bencana alam, sebaran paling banyak kejadian di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bencana alam di Jawa Barat sejak Januari hingga 18 Maret tercatat sebanyak 239 kejadian, Jawa Tengah 181 dan Jawa Timur 155.

Sebaran kejadian bencana alam, 1 Januari hingga 18 Maret 2022

Kemudian Aceh 44 kejadian, Riau 28, Lampung 27, Sulawesi Selatan 25, Sumatera Selatan 24, Sumatera Utara 22 dan Kepulauan Bangka Belitung 22.

Sebaran paling sedikit kejadian bencana alam hingga 18 Maret di Provinsi Jambi 1, DKI Jakarta 2, Maluku 4, Papua 4, Papua Barat 4, Sulawesi Tenggara 5, Gorontalo 6 dan Kalimantan Utara 6. []

Untuk diketahui, dalam Apel Siaga Penanggulangan Bencana terdebut turut hadir Kepala Kejaksaan Tinggi Sultra Raimel Jesaja, SH., MH., Perwakilan Kapolda, Komandan Korem 143/HO Brigjen TNI Yufti Senjaya, SE., M.Si. Hadir pula Direktur Kesiapsiagaan BNPB Pusat Drs. Pangarso Suryotomo, dan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sultra Muhammad Yusup, SE., M.Si.

Ikut hadir Bupati Buton Drs. La Bakri, M.Si., Bupati Buton Selatan H. Arusani, Bupati Buton Tengah H. Samahuddin, SE., Wakil Bupati Konawe Selatan Rasyid, S.Sos., M.Si., dan Kepala Pelaksana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) se-Kabupaten/Kota di Sulawesi Tenggara.

Selain itu juga dihadiri Plt. Wali Kota Baubau La Ode Ahmad Monianse, S.Pd., Sekretaris Daerah Kota Baubau Dr. Roni Muhtar, M.Pd., Ketua DPRD Kota Baubau H. Zahari, SE., Komandan Kodim 1413 Buton Letkol ARM. Muhammad Faozan, S.Pd., M.I.Pol., Kepala Kepolisian Resort Kota Baubau AKBP Erwin Pratomo, S.I.K., Kepala Kejaksaan Negeri Kota Baubau Jaya Putra, SH., Komandan Pos TNI AL Letda Laut (T) Pungky Pradita, Ketua Pengadilan Negeri Kota Baubau Kelas 1B Baubau Dr. Nur Kholis, SH., MH., dan Ketua Pengadilan Agama Kota Baubau Sholihin, S.Ag, MA.

SUMBER: Siaran Pers Jurnal Gubernur Sultra

REDAKSI

Terima kasih

error: Jangan copy kerjamu bos