Example floating
Example floating
Opini

Digitalisasi dalam Mendeteksi Penyakit Stroke

145
×

Digitalisasi dalam Mendeteksi Penyakit Stroke

Sebarkan artikel ini
Nurzaima (Mahasiswa Universitas Mandala Waluya Kendari)

TEGAS.CO,. NUSANTARA – Stroke yang saat ini merupakan penyakit yang banyak diidap oleh manusia. Saat ini saja stroke menjadi penyebab utama kematian ketiga di dunia setelah kanker dan juga penyakit jantung.

Bukan hanya itu saja stroke juga menjadi peringkat pertama penyebab kecacatan hidup. Di Indonesia, penyakit stroke ini menjadi penyebab kematian utama di Indonesia, namun hingga kini penanganannya masih belum cukup baik.

Stroke merupakan suatu penyakit neurologi yang sangat ditakuti. karena jika terkena stroke, maka banyak problem yang akan muncul pada saat serangan maupun setelah serangan stroke terjadi.

Problem yang dihadapi penderita stroke bukan hanya kematian, stroke juga dapat mengakibatkan kecacatan fisik dan mental yang berdampak pada sosio-ekonomi.

Penderita paska stroke yang menderita kecacatan menjadi tidak mampu lagi mencari nafkah seperti sebelumnya, sehingga kehilangan pendapatan untuk dirinya dan keluarga.

Hal itu menyebabkan ketergantungan pada orang lain yang pada akhirnya dapat menyebabkan depresi pada penderita stroke.

Faktor risiko untuk terjadinya stroke merupakan suatu multifaktorial dan bukan karena penyebab yang tunggal.

Stroke adalah gangguan fungsional otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda klinis fokal atau global yang berlangsung lebih dari 24 jam tanpa tanda-tanda penyebab non vaskuler, termasuk didalamnya tanda-tanda perdarahan subarakhnoid, perdarahan intraserebral, iskemik atau infark serebri (Mutiarasari, 2019).

Sedangkan menurut (Hariyanti et al., 2020) stroke atau sering disebut CVA (Cerebro-Vascular Accident) merupakan penyakit/gangguan fungsi saraf yang terjadi secara mendadak yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah dalam otak.

Jadi stroke adalah gangguan fungsi saraf pada otak yang terjadi secara mendadak dengan tanda klinis yang berkembang secara cepat yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah dalam otak.

Klasifikasi dari penyakit stroke diantaranya yaitu (Yueniwati, 2016):

Stroke Iskemik

Stroke iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti.

Stroke iskemik secara umum diakibatkan oleh aterotrombosis pembuluh darah serebral, baik yang besar maupun yang kecil.

Pada stroke iskemik penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang menuju ke otak. Darah ke otak disuplai oleh dua arteri karotis interna dan dua arteri vertebralis.

Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung. Suatu ateroma (endapan lemak) bisa terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah.

Keadaan ini sangat serius karena setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari dinding arteri dan mengalir di dalam darah kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.

Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik disebabkan oleh perdarahan di dalam jaringan otak (disebut hemoragia intraserebrum atau hematon intraserebrum) atau perdarahan kedalam ruang subarachnoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak (disebut hemoragia subarachnoid).

Stroke hemoragik merupakan jenis stroke yang paling mematikan yang merupakan sebagian kecil dari keseluruhanstroke yaitu sebesar 10-15% untuk perdarahan intraserebrum dan sekitar 5% untuk perdarahan subarachnoid.

Stroke hemoragik dapat terjadiapabila lesi vaskular intraserebrum mengalami rupture sehingga terjadi perdarahan ke dalam ruang subarachnoid atau langsung ke dalam jaringan otak.

Sebagian dari lesi vaskular yang dapat menyebabkan perdarahan subarachnoid adalah aneurisma sakular dan malformasi arteriovena.

Tanda dan gejala neurologis yang timbul pada stroke tergantung berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasinya, diantaranya yaitu (Gofir, 2021) :

  • Kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya hemiparesis) yang timbul mendadak.
  • Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan (gangguan hemisensorik).
  • Perubahan mendadak status mental (konvusi, delirium. Letargi, stupor, atau koma).
  • Afisia (bicara tidak lancar, kurangnya ucapan, atau kesulitan memahami ucapan).
  • Disartria (bicara pelo atau cadel)
  • Gangguan penglihatan (hemianopia atau monokuler) atau diplopia.
  • Ataksia (trunkal atau anggota badan).
  • Vertigo, mual dan muntah, atau nyeri kepala.

Faktor Risiko Stroke

Faktor risiko dari penyakit stroke yaitu terdiri dari (Mutiarasari, 2019):

  1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga.
  2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi adalah hipertensi, merokok, dislipidemia, diabetes melitus, obesitas, alkohol dan atrial fibrillation.

Stroke merupakan penyakit yang mempunyai risiko tinggi terjadinya komplikasi medis, adanya kerusakan jaringan saraf pusat yang terjadi secara dini pada stroke, sering diperlihatkan adanya gangguan kognitif, fungsional, dan defisit sensorik.

Pada umumnya pasien pasca stroke memiliki komorbiditas yang dapat meningkatkan risiko komplikasi medis sistemik selama pemulihan stroke. Komplikasi medis sering terjadi dalam beberapaminggu pertama serangan stroke.

Pencegahan, pengenalan dini, dan pengobatan terhadap komplikasi pasca stroke merupakan aspek penting. Beberapa komplikasi stroke dapat terjadi akibat langsung stroke itu sendiri, imobilisasi atau perawatan stroke.

Hal ini memiliki pengaruh besar pada luaran pasien stroke sehingga dapat menghambat proses pemulihan neurologis dan meningkatkan lama hari rawat inap di rumah sakit.

Komplikasi jantung, pneumonia, tromboemboli vena, demam, nyeri pasca stroke, disfagia, inkontinensia, dan depresi adalah komplikasi sangat umum pada pasien stroke (Mutiarasari, 2019).

Menurut Dr. Rasyid Guna mendeteksi dini gejala stroke akibat peningkatan kekentalan darah, sejak 2011, Dr. Rasyid mengembangkan alat berupa mikrokapiler digital yang lebih praktis.

Alat ini dapat mengukur kekentalan darah seseorang sehingga deteksi dini stroke lebih cepat dan pada akhirnya diharapkan dapat menekan angka kasus maupun kematian akibat stroke.

Saat masih dalam tahap pengembangan awal, alat ini masih sangat sederhana dengan satu tombol untuk menghidupkan dan mematikan. Beberapa komponen lainnya, seperti penunjuk hasil dan suhu, masih berbahan konvensional.

Sementara pada pengembangan terbaru, desain alat ini lebih modern dan terdapat penambahan tombol dengan empat warna. Tombol hijau berfungsi sebagai pemanas, merah untuk menghidupkan/mematikan (on/off) laser, oranye untuk on/off layar atau LCD, dan biru untuk memuat ulang (reset). Daya alat ini berasal dari baterai berkapasitas 9 volt.

Penulis: Nurzaima (Mahasiswa Universitas Mandala Waluya Kendari)

Publisher: Redaksi

Terima kasih

error: Jangan copy kerjamu bos