Sosper di Baubau, Fajar Ishak Paparkan Pelestarian dan Pemajuan Warisan Tak Benda

Anggota DPRD Sultra, Fajar Ishak saat melaksanakan sosialisasi perda nomor 3 tahun 2023 tentang pelestarian dan pemajuan warisan tak benda di Kelurahan Batulo, Kota Baubau, Rabu (8/5). foto: jsr/tegas.co

TEGAS.CO,. BAUBAU – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tenggara (Sultra), Fajar Ishak mensosialisasikan peraturan daerah (perda) nomor 3 tahun 2023, Rabu (8/5).

Di hadapan masyarakat Kelurahan Batulo, Fajar Ishak mensosialisasikan perda tentanh pelestarian dan pemajuan warisan budaya tak benda

Fajar menjelaskan, warisan budaya tersebut meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat­ istiadat, situs, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa daerah, permainan rakyat, olahraga tradisional, tenunan tradisional, dan kuliner tradisional.

Disebutkannya bahwa perda itu digagas sejak 2022. Selanjutnya di tahun yang sama masuk dalam program pembentukan perda.

Namun di 2023 baru dilaksanakan yang didahului dengan pembuatan naskah akademik oleh dua ahli dari Universitas Dayanu Ikhsanuddin, Andi Tenri dan La Ode Abdul Munafi.

“Kami pun membahasnya bersama dengan Kemenkum HAM terkait dengan naskahnya, materi muatannya dan kemudian saat ini sudah ditetapkan menjadi perda,” kata Fajar Ishak menjelaskan.

Selain itu, ungkap Ishak, ada lagi Perda  Sultra nomor 4 tahun 2023 tentang pelestarian cagar budaya.

Fajar mengatakan kedua perda ini dibahas secara paralel dan dilahirkan bersama.

Foto bersama usai pelaksanaan sosialisasi perda

Keduanya pun dibuat terpisah karena secara substansi berbeda. Satu perda berbicara terkait warisan budaya tak benda dan satunya lagi berbicara mengenai cagar budaya.

“Ini adalah sosialisasi perdana setelah perda ini resmi ditetapkan. Dalam kapasitas saya sebagai anggota DPRD sekaligus Wakil Ketua Badan Pembentukan Perda. Sehingga ini adalah tanggungjawab saya untuk mensosialisasikannya,” ujarnya.

Dengan lahirnya Perda ini lanjut Fajar, diharapkan 17 Kabupaten/Kota di Sultra juga segera dapat melahirkan Perda yang sama.

Sebab, sambungnya, perda yang dibentuk ditingkat provinsi lebih pada adanya persamaan warisan budaya tak benda antara daerah yang satu dengan lainnya.

“Misalnya seperti kita di Sultra ini, warisan budaya tak benda yang dimiliki Kota Baubau ada kesamaan dengan yang dimiliki daerah eks Kesultanan Buton lainnya, seperti Buton, Buton Selatan, Buton Tengah, Buton Utara dan Wakatobi,” imbuhnya.

Politisi Partai Hanura ini menjelaskan perda itu membahas tentang perlindungan warisan budaya tak benda, pembinaannya, dan pemanfaatannya.

Terkait perlindungan, maka harus segera menginventarisir seluruh warisan budaya tak benda untuk dilindungi dengan cara menetapkannya sebagai warisan budaya tak benda.

“Pelibatan masyarakat juga kita butuhkan. Sebab warisan leluhur kita ini bukan hanya ada pada Badan Kepurbakalaan atau lembaga-lembaga pemerintah yang menangani soal itu, namun ada juga di masyarakat,” harapnya.

Diketahui, Perda Sultra nomor 3 tahun 2023 tentang pelestarian dan pemajuan warisan budaya tak benda yang ditetapkan di Kendari pada 5 April 2023 oleh Gubernur Sultra, Ali Mazi itu terdiri dari 16 bab dan 18 pasal.

Penulis: JSR

Editor: Yusrif

Komentar