Jelang HUT Probolinggo Bupati Nyekar di TMP Joyolelono

tegas.co, PROBOLINGGO, JATIM – Bupati Probolinggo, Puput. Tantriana Sari bersama sejumlah pejabat di lingkungan pemkab, melakukan serangkaian acara, salah satu diantaranya nyekar atau tabur bunga ke makan Joyolelono di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Rabu (19/4).

Bupati Probolinggo, Puput. Tantriana Sari bersama sejumlah pejabat di lingkungan pemkab Nyekar di TMP Joyolelono. FOTO : ASL
Bupati Probolinggo, Puput. Tantriana Sari bersama sejumlah pejabat di lingkungan pemkab Nyekar di TMP Joyolelono.
FOTO : ASL

Kagiatan itu dilakukan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakapro) yang ke-271. Usia ini ditung sejak penghuni makam yang diziarahi, memimpin pada 1746-1768 silam. Namun  benarkah hari jadi Kabupatem Probolinggo tahun 2017 ini yang  ke 271 ?

Dari buku Sejarah Kabupaten Probolinggo yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Probolinggo pada 2010, menyebut ada tiga Joyolelono dalam sejarah pemerintahan Probolinggo.

Joyolelono pertama dengan sebutan Mas Banger. Ia memerintah antara tahun 1679-1697 atau 338 tahun silam. Joyolelono kedua yang dikenal dengan Demang Joyolelono, memerintah antara tahun 1697-1746, serta Joyolelono ketiga dengan sebutan Joyolelono Brayung.

Joyolelono yang disebut terakhir, memerintah antara tahun 1746-1768. Dia juga yang selama ini dipercaya sebagai Bupati Probolinggo pertama, seperti yang tertuang dalam pigura jumbo berisi nama-nama bupati Probolinggo sepanjang masa, yang dipasang di pringgitan pendapa selama bertahun-tahun.

Buku itu merupakan hasil penelitian tim peneliti sejarah Kabupaten Probolinggo, yang dibentuk 2005. Penelitian melibatkan Prof. Dr. Aminuddin Kasdi, MS dan Drs. Wisnu M. Hum sebagai konsultan sejarah dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Berikut ini cuplikan dari buku sejarah Kabupaten Probolinggo tersebut:

Ketika Kerajaan Majapahit berakhir, kerajaan Demak, Mataram dan Blambangan berdiri. Saat itu, wilayah Probolinggo yang dulu disebut Banger, menjadi rebutan antara kerajaan Mataram dan kerajaan Blambangan yang disokong oleh kerajaan Buleleng di Pulau Bali, dan kompeni Belanda.
Pada 2 Januari 1680, kerajaan Mataram terlibat peperangan dengan kerajaan Blambangan di Sidopekso dan Pajarakan. Saat itu, Mataram mengirimkan 23 prajurit pilihan yang dipimpin Joyolelono. Sedangkan Blambangan mengirimkan 4000 prajurit.

Peruntungan ada di pihak Mataram. Sebanyak 23 prajurit yang dipimpin Joyolelono berhasil mengalahkan 4000 prajurit Blambangan yang disokong kerajaan Buleleng dan Belanda.

Karena keberhasilan tersebut, Raja Mataram Susuhunan Amangkurat II, memerintahkan Joyolelono dan prajuritnya tetap tinggal di Sidopekso dan Pajarakan. Sampai akhirnya, Joyolelono dilantik  sebagai bupati Banger pertama pada tahun 1680.

Belum diketahui secara pasti terkait tanggal dan bulan saat Joyolelono dilantik sebagai bupati pada 332 tahun silam. “Namun rambu-rambu untuk menentukan hari , tanggal dan bulan, tampaknya bisa dicari dari kebiasaan raja Mataram melantik para bupatinya, adalah saat menggelar Grebeg Maulud,” tulis tim peneliti dalam buku itu.

Dengan kesimpulan tim peneliti sejarah Probolinggo itu, hari jadi Kabupaten Probolinggo bisa mundur 66 tahun. Ini berakibat pada perubahan urut-urutan Bupati Probolinggo seperti yang terpampang pada pigura jumbo di pringgitan pendapa setempat.

Bila diurutkan berdasarkan hasil penelitian, Bupati Probolinggo pertama adalah Joyolelono I  yang menjabat tahun 1679-1697. Kemudian secara berurutan disusul oleh Joyolelono II (Demang) yang menjabat tahun 1697-1725; Joyolelono III (Brayung); dan seterusnya hingga Hasan Aminuddin dan P. Tantriana Sari yang kini menjabat.

Lalu, siapa Joyolelono III (Brayung)? Menurut hasil Penelitian tersebut menyebutkan bahwa dia diangkat oleh Belanda sebagai Bupati Banger pertama dengan gelar Tumenggung pada 18 April 1746. Itu dilakukan tiga tahun setelah adanya perjanjian antara Mataram dengan Belanda bahwa kawasan pesisir Jawa Timur (termasuk Banger) dikuasai oleh Belanda.

Dengan mengacu pada visi misi penulisan sejarah, peneliti condong menjadikan Joyolelono pertama sebagai tonggak hari jadi Kabupaten Probolinggo. Itu berdasarkan pada keputusan seminar sejarah nasional pada 1957 di Yogyakarta. Bahwa penulisan sejarah harus Indonesia sentris, dan bukan Belanda sentris? Agar informasi yang di berikan tidak meragukan. Ujar Drs. Wisnu M. Hum, pada media.

ASL / HERMAN

Komentar