Gerak Pancasila Yogyakarta Gelar Harlah Pancasila Secara Sederhana

tegas.co, YOGYAKARTA – Berbagai komponen masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Pancasila (Gerak Pancasila) Yogyakarta akan menggelar peringatan Hari Lahir Pancasila pada Kamis 1 Juni 2017 sore, pukul 15.00-17.00 WIB, yang bertempat di Kagungan Dalem Pagelaran Kraton Yogyakarta.

Kepatihan Gubernur DIY bersama awak media dan instansi terkait. FOTO : NADHIR
Ketua Gerakan Rakyat Pancasila Daerah Istimewa Yogyakarta, Widihasto Wasana Putra saat menggelar Jumpa Pers di Kepatihan Gubernur DIY bersama awak media dan instansi terkait.
FOTO : NADHIR

Ketua Gerakan Rakyat Pancasila DIY, Widihasto Wasana Putra, menerangkan konsep kegiatan tersebut dirancang sederhana dengan menghadirkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwana X dengan didampingi Wakil Gubernur DIY, Unsur-unsur Forkominda DIY, Bupati Walikota serta Ketua DPRD Kabupaten Kota.

Iklan Antam HBA

“Konsep acara hari lahir Pancasila kami rancang sangat sederhana, singkat namun sarat makna. Seluruh hadirin termasuk Gubernur dan Jajarannya akan duduk lesehan bersama di Pagelaran,” terang Hasto saat menggelar Jumpa Pers Peringatan Hari Lahir Pancasila, di Kepatihan Gubernur Yogyakarta, Senin (29/5/2017) sore.

Hasto mengatakan, setiap matra Tentara Nasional, mulai Angkatan Udara, Laut dan Udara serta Kepolisian perwakilannya hadir menggenakan uniform masing-masing berbaur lesehan dengan rakyat, sebagai wujud kemanunggalan Rakyat, TNI dan Polri.

“Pesan yang ingin disampaikan adalah memperkokoh hubungan yang egaliter, nyawiji, dan golong gilig antara pemimpin dan rakyat,” katanya.

Selain itu, Hasto menuturkan, akan diikuti sedikitnya 700 siswa-siswi Sekolah Menengah Atas di DI Yogyakarta yang akan melakukan Aubade atau Paduan Suata lagu-lagu kebangsaan. Juga, Sri Sultan Hamengkubuwana X akan melakukan orasi Kebangsaan.

Keikutsertaan pelajar SMA memiliki arti penting sebagai upaya penanaman semangat nasionalisme dan patriotisme serta membangun wawasan kebangsaan terhadap generasi muda. Sekaligus sebagai upaya untuk merajut rasa kebersamaan antar pelajar.

“Melalui wadah kegiatan bersama ini diharapkan menjadi terapi positif untuk mencegah potensi konflik antar pelajar,” tuturnya.

Hal menarik pula, pembaca teks Pancasila adalah siswa pelajar dari kawaaan Lereng Merapi, sementara pembaca pembukaan UUD 1945 adalah siswa pelajar dari kawasan Pantai Selatan. Keduanya, menurut Hasto, merepresentasi garis sumbu imaginer antara Gunung Merapi dan Laut Selatan diatas cakrawala bumi Yogyakarta.

Peringatan hari lahir pancasila diselenggarakan secara gotong royong, Hasto mengharapkan partisipasi publik dalam bentuk donasi inatura dalam bentuk nasi bungkus atau takjil untuk keperluan berbuka puasa dan bisa diberikan langsug pada hari pelaksanaanya.

“Nasi bungkus selain berguna menjadi santapan, juga sebagai gerakan merawat nilai-nilai gotong royong yang telah dilakukan warga Jogja ketika terjadi gempa bumi tahun 2006 dan 2010 silam, yang mana warga yang tidak terdampak saling berbagi nasi bungkus hingga berlangsung beberap bulan,” paparnya.

Hasto menghimbau, agar seluruh elemen masyarakat bisa ikut hadir dan andil dalam peringatan hari yang sakral tersebut dengan menggunakan pakaian rapi dan sopan. Ia berharap, masyarakat hadir menggunakan pita merah putih dikepala atau dilengan.

“Saya harapkan semua masyarakat Jogja bisa ikut hadir merayakan bersama Hari Lahir Pancasila, saya harap juga jangan membawa bendera selain bendera Merah Putih,” pungkasnya.

NADHIR ATTAMIMI / HERMAN

Komentar