Example floating
Example floating
Tegas.co Nusantara

Budidaya Pohon Gaharu yang Dilindungi

3337
×

Budidaya Pohon Gaharu yang Dilindungi

Sebarkan artikel ini

tegas.co,. JEPARA, JATENG – Belum semua orang tahu, pohon Gaharu merupakan pohon langka yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dari daun, biji, ranting dan batang pohon, jika dibudidayakan dengan benar, mampu menghasilkan uang, karena jika diolah lebih lanjut banyak manfaat, seperti bahan pembuat obat, minyak parfum, pengganti minuman teh dan kopi.

Budidaya Pohon Gaharu yang Dilindungi
Hari Bagus Susanto, koordinator GLC Jateng saat melakukan penyuluhan kepada petani Gaharu FOTO: D S W

Komunitas pecinta pohon langka Gaharu lumajang mommunity  (GLC), Minggu (19/11/2017) berkunjung ke Jepara, Jawa Tengah (Jateng), untuk memberikan penyuluhan tentang budidaya Gaharu kepada masyarakat petani.

Di Jepara sendiri, tanaman Gaharu sudah lama ditanam warga, hanya saja karena tak mengetahui cara perawatan yang benar, hasil jual tanaman Gaharu pun tak jauh beda dengan harga jual kayu lainnya.

Menurut Hari Bagus Susanto, koordinator GLC Jateng menyatakan, tak kurang dari dua puluh spesies Gaharu tumbuh tersebar di asia, termasuk indonesia dengan enam spesies yang dimiliki.

Dari berbagai jenis spesies tersebut, yang paling dikenal luas adalah spesies dengan nama latin Aquilaria Malaccensis.

Pohon Gaharu menjadi tenar dan mahal, lantaran mengandung resin atau getah yang memiliki bau harum dan banyak digunakan dalam industri kosmetik serta obat-obatan.

Tak heran, jika kayu Gaharu menjadi salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia.

Mahalnya harga kayu Gaharu berimbas pada semakin langkanya pohon ini, sehingga masuk dalam pohon yang dilindungi.

Kayu dengan kualitas terbaik, harga jualnya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah perkilogramnya.

Sebagai komunitas pecinta Gaharu, GLC akan bersedia mendampingi petani dalam budidaya Gaharu, dari penyediaan bibit, Penyuluhan, hingga pemasaran, dengan harapan, tanaman Gaharu bisa terus dilestarikan dan bermanfaat bagi masyarakat.

REPORTER: D S W

PUBLISHER: MAS’UD

Terima kasih

error: Jangan copy kerjamu bos