Wakatobi, Kota Film? Gilang Ramadan : Ada Potensi

Wakatobi, Kota Film? Gilang Ramadan : Ada Potensi
Sisi kiri, Direktur GJ Corp Gilang Ramadan, Anggota DPR RI Hugua dan General Manajer AMI Awards Shatria Dharma bersama anggota

TEGAS.CO.,WAKATOBI – Musisi Gilang Ramadan menuturkan Wakatobi ke depan bisa saja menjadi sentral perfilman. Menyusul daerah yang dikenal dengan keindahan bawah lautnya itu telah memiliki brand.

“Saya berpikir kita dorong bersama untuk supaya Wakatobi ini mungkin akan menjadi Sentral Perfilman,” ucap Gilang Ramadan saat ditemui di patuno resort, Wangi-Wangi, Senin (20/5/2024).

Bahkan hal itu, kata dia, jika dimungkinkan akan berkesinambungan dengan negara-negara lain.

“Mungkin (berkesinambungan) dengan perfilman eropa, perfilman America atau Hollywood,” ungkapnya.

Suami Shahnaz Haque ini mengatakan mimpi besar itu mungkin saja terjadi -menjadikan Wakatobi sebagai kota film.

Apalagi, menurut dia, Wakatobi sudah memiliki sarana yang memadai seperti air port, hotel dan fasilitas lainnya.

“Kita harus mempunyai mimpi yang besar. Dan saya rasa mimpi yang besar akan terealisasi ketimbang mimpi yang kecil,” tuturnya.

Gilang Ramadan, yang merupakan Direktur GR Corp yang bergerak di dunia entertainment ini mengungkapkan kehadirannya di Wakatobi, Sulawesi Tenggara ingin mengembangkan kebudayaan daerah itu, dalam seni musik tradisional.

Kendati, melalui kerjasama pihaknya, Gilang Ramadan Corporation (GJ Corp) bersama Kadin Sultra dan Patuno Resort by Sahid memiliki misi merancang sebuah film.

“Wakatobi miliki potensi untuk diselenggarakan sebuah acara. Bukan hanya acara sekali namun bisa berkesinambungan,” katanya.

“Dan kehadiran kami ini ingin mengembangkan dan mempertahankan kebudayaan yang ada di Wakatobi, utamanya musik tradisionalnya,” tambahnya.

*Dukungan Pemda*

Mantan Bupati Wakatobi sekaligus Anggota DPR RI Hugua berharap langkah pihak swasta tersebut dapat direspons Pemerintah daerah (Pemda) Wakatobi sebagai peluang.

“Rupanya Pemda begitu respons. Sekali lagi terima kasih kepada Bupati dan seluruh jajarannya,” ungkapnya.

Dikatakan Hugua, jika sebelumnya Wakatobi dikenal dengan keanekaragaman bawah laut. Kali ini, dirinya mencoba mengekspos seni musik budaya dengan mengandeng GJ Corp dan AMI (Anugerah Musik Indonesia).

“Ide ini lahir lewat diskusi di Los Angeles, Amerika. Saat itu, bersama ketua Kadin Sultra, Anton Timbang turut menampilkan para panari Balumpa mewakili Sultra di negara itu,” katanya.

Lanjut dia, dengan kekhasan tarian Balumpa yang unik, tak lain warisan budaya Wakatobi, dianggapnya cukup menyakinkan untuk ditampilkan secara internasional.

“Nah, dari situ berkembang ide-ide. Misi budaya salah satunya. Dan muncul lah teman-teman ini. Pak Gilang Ramadhan dan Pak Aden,” ujar Hugua.

Sementara itu, General Manajer AMI Awards, Shatria Darma mengungkapkan bahwa dirinya yakin potensi sumberdaya manusia(SDM) Wakatobi.

Di mana yang telah ditunjukkan Raim La Ode, putra asli Wakatobi yang mampu meraih AMI Awards sebagai pengakuan tertinggi di bidang musik.

“Mungkin teman-teman tahu tahun lalu untuk penyanyi Pop laki-laki AMI Awards diraih Raim La Ode,” ucapnya.

Sehingga kata dia, putra – putri daerah ini memiliki peluang yang sama dengan yang lainnya.

“Mereka harus menciptakan peluang sendiri dalam arti mereka harus percaya atas kemampuan mereka untuk bisa berbuat sesuatu,” ucapnya.

Laporan: Rusdin

Publisher : Redaksi

Komentar