
TEGAS.CO, BAUBAU – Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menggelar Rapat Koordinasi Peningkatan Ketahanan Pangan dalam Upaya Pengendalian Inflasi Daerah serta Workshop Pemenuhan Kebutuhan Masyarakat melalui Penyusunan Neraca Pangan Daerah dan Neraca Bahan Makanan, Senin (8/12/2025) di Gedung Arsalana.
Kegiatan resmi dibuka oleh Asisten II Setda Kota Baubau, Muhammad Abduh. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi kesejahteraan dan kedaulatan bangsa, sekaligus hak konstitusional masyarakat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
“Ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan makanan, tetapi juga menjamin akses, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan yang aman, bergizi, serta sesuai budaya masyarakat. Ini menjadi prioritas pemerintah dalam mendukung visi besar Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI periode 2024–2029,” ujarnya.
Lebih lanjut,Asisten II menjelaskan bahwa ketahanan pangan dibangun melalui tiga pilar utama:
- Ketersediaan pangan, yang diwujudkan melalui peningkatan produksi domestik, penguatan cadangan pangan daerah, dan kelancaran rantai pasok.
- Keterjangkauan pangan, yang erat kaitannya dengan daya beli masyarakat, stabilitas harga, distribusi, dan pengendalian inflasi.
- Pemanfaatan pangan, yang berfokus pada pemenuhan gizi, keamanan pangan, serta kesehatan masyarakat.
Ia menekankan bahwa ketiga pilar tersebut hanya dapat berjalan optimal melalui kolaborasi lintas sektor, mencakup pemerintah daerah, lembaga teknis, sektor swasta, petani, lembaga pendidikan, dan layanan kesehatan.
Dalam kesempatan tersebut, Asisten II memaparkan perkembangan positif produksi pangan daerah, khususnya padi. Pada 2024, produksi padi sawah mencapai 10.353 ton GKG atau setara 5.945 ton beras. Pada 2025, terjadi peningkatan signifikan dengan estimasi produksi 12.307 ton GKG atau sekitar 7.000 ton beras.
Peningkatan ini didukung perbaikan produktivitas dari 4,31 ton/ha menjadi 5,05 ton/ha serta perluasan luas tanam oleh kelompok tani, termasuk inisiatif tanam tiga musim di Palabusa dan Ngkari-Ngkari.
“Tahun ini luas tanam musim ketiga baru mencapai 23 hektare dan diharapkan meningkat menjadi 50–100 hektare tahun depan. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk pupuk tambahan, dan kami memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi untuk musim tanam ketiga tahun 2026,” jelasnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para petani Kota Baubau yang telah meningkatkan kapasitas budidaya dan manajemen usaha tani, serta jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan yang terus mendampingi program pembangunan pertanian.
Pentingnya Data Neraca Pangan untuk Pengendalian Inflasi
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan workshop penyusunan neraca pangan daerah. Menurut Asisten II, proyeksi neraca pangan merupakan instrumen vital untuk menentukan kondisi surplus atau defisit pangan, sekaligus menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam perencanaan kebijakan.
Ia meminta agar para petugas penyusun data bekerja cermat, melakukan analisis tepat, serta mampu memprediksi potensi ancaman kekurangan stok pangan.
“Kami berharap seluruh pemangku kepentingan Bulog, Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan, distributor pangan, dan instansi terkait dapat memberikan data riil. Tanpa data yang akurat, neraca pangan tidak bisa disusun dengan baik,” tegasnya.
Kegiatan ini diikuti oleh berbagai instansi lingkup Pemkot Baubau dan stakeholder ketahanan pangan, termasuk:
- Bappeda
- Dinas Perhubungan
- Dinas Kominfo
- Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sultra
- Dinas Perindag
- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan
- Analisis PSP dan Ketapang
- Stakeholder BKHIT
- PMHP
- Dinas Keuangan
- Dinas Peternakan
- Hypermart
- PPL se-Kota Baubau
Dengan pelaksanaan Rakor dan workshop ini, Pemkot Baubau berharap ketahanan pangan daerah dapat diperkuat secara terukur dan berkelanjutan, sekaligus mendukung pengendalian inflasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Laporan: JSR