
BUKAN pesimistis. Tapi melihat peta sebaran Covid-19 terasa merinding juga. Peta sebaran virus Covid-19 versi kompas.com menunjukkan Pulau Jawa merupakan episentrum Corona di Indonesia. Episentrum di luar Jawa adalah Sulawesi Selatan. Ini yang membuat kita semakin prihatin.
Pasalnya, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara tempat lahir beta adalah satu tarikan napas dari banyak sisi kehidupan. Secara kultural pun sulit dibedakan antara orang Kendari dan orang Makassar. Simak saja dialek ketika kedua komunitas ini berbicara. Oplet saja mereka sebut pete-pete. Aneka ragam kue atau makanan olahan, racikan Makassar. Tak perlu ke Pantai Losari untuk menikmati pisang epe, pallu butung, atau pisang ijo, semua ada di Kendari Beach. Pantai ini merupakan salah satu sisi dari bibir Teluk Kendari, sebuah laguna besar di tepian Laut Banda.
Dari sisi ekonomi, Sultra masih ada sedikit ketergantungan pada Sulsel. Sayur seperti kol, kemudian telur, pakan ternak dll masih diimpor dari Sulsel. Disparitas harga tidak terlalu miring karena kedua provinsi terintegrasi dalam satu sistem perhubungan darat melalui penyeberangan kapal feri Kolaka-Bajoe.
Seperti dijelaskan Kadis Perhubungan Sultra, Hado Hasina, lintas penyeberangan kapal feri terpadat di Indonesia setelah Merak-Bakahuni dan Ketapang-Gilimanuk adalah lintas Kolaka-Bajoe. Ia menambahkan selain jalur darat, konektivitas udara juga sangat lancar. Sebelum perang Corona, Kendari-Makassar terkoneksi sekitar 12-14 kali penerbangan setiap hari.
Kedekatan tersebut cukup beralasan orang berpikir atau berspekulasi bahwa episentrum bukan tidak mungkin bakal melebar ke Sultra. Ini yang harus diwaspadai disertai tindakan nyata masing-masing individu kedua komunitas untuk mencegah penularan virus Covid-19. Memutus rantai penyebaran.
Pemerintah pusat maupun lokal telah menyampaikan berbagai petunjuk praktis kepada setiap warga masyarakat untuk menghindari penularan. Virus Covid-19 menular melalui kontak person. Percikan dahak atau semburan orang bersin adalah proses penularan paling efektif.
Para ahli menyebut, jangkauan virus tersebut melalui kontraksi tadi sekitar 1,8 meter. Makanya pemerintah menyuruh kita menjaga jarak satu sama lain. Di tempat publik sepeti rumah sakit, kereta api, terminal, bus, pesawat dan kapal laut sudah diatur tentang jarak itu.

Hado Hasina setiap kali mengingatkan warga masyarakat agar membatasi bepergian, termasuk keluar dari rumah sendiri jika keperluannya tidak sangat mendesak. Di rumah saja. Kalau pun terpaksa harus bepergian atau keluar rumah, maka kita harus menggunakan alat pengaman diri (APD) seumpama masker, sarung tangan. Kemudian setiap melakukan pergeseran tempat, kita wajib mencuci tangan dengan sabun pada kran atau pada air mengalir.
Pergi ke bank membayar tagihan atau menarik uang belanja rumah tangga atau ke pasar bagi ibu-ibu, adalah contoh pergeseran tempat atau aktivitas pribadi. Kenapa pakai sabun? Para ahli mengatakan, virus Covid-19 yang struktur tubuhnya didominasi unsur lemak, mati jika terkena busa sabun.
Udara panas atau panas matahari juga disebut anti virus Covid-19. Maka jangan heran jika mendadak ada warga yang suka berjemur di halaman rumahnya. Berarti, boleh jadi petani atau buruh pelabuhan, pekerja bangunan memiliki imunitas tubuh melawan virus Corona.
Namun lebih aman dan praktis jika kita ikuti aturan dan petunjuk pemerintah. Di lain pihak, pemerintah juga harus konsisten dengan kebijakannya terkait penanganan dan pencegahan Covid-19. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), misalnya, harus dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Pergerakan semua alat transportasi harus dikontrol agar tidak mengakut penumpang selain kru atau ABK. Dalam jumlah tertentu, alat transportasi harus dioperasikan untuk mengangkut logistik bahan pangan, alat kesehatan dan obat-obatan tidak terkecuali sarana produksi pertanian dan industri.
Bila semua protokol Corona diikuti dan dilaksanakan dengan baik, maka besar harapan virus tersebut dapat diputus rantai penyebarannya. Kuncinya di rumah saja tidak terkecuali orang perantau. Mudik Lebaran harus ditunda hingga Lebaran berikutnya.
Imbauan ini lebih ditujukan kepada warga Sultra yang ber-KTP Sulsel, dan sebaliknya warga Sulsel yang ber-KTP Sultra.
Bukan hanya kita Indonesia yang sedang berperang melawan virus Covid-19, tetapi juga seluruh negara di dunia tak terkecuali negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa. Catatan terkini menyebutkan, Covid-19 telah menewaskan 3,4 juta lebih penduduk dunia. Di AS sendiri, negara super power dalam segala hal termasuk kekuatan militer, tercatat 49.963 lebih pasien Corona meninggal. Versi WHO pasien Corona di AS yang meninggal 40.074 (CNN, 24 April 2020). Pada tahun 2019 penduduk AS tercatat 328, 2 juta.
Indonesia dengan penduduk 260 juta, update Covid-19 per hari ini 4 Mei 2020 hingga pukul 12.00 WIB mencatat 11.192 terinfeksi ditambah 349 pasien baru, 845 meninggal, dan 1.876 sembuh. Sulsel terinfeksi positif 601 pasien, meninggal 40 orang dan sembuh 151 pasien. Sultra 64 terinfeksi positif, meninggal 2, dan sembuh 11 pasien. ***
YAMIN INDAS
PUBLISHER MASUD