
TEGAS.CO., NUSANTARA – Bagaimana Anda melihat dunia saat ini? Penuh intrik, kesombongan dan keserakahan negara adidaya? Ataukah aman dan berkeadilan?
Saya pastikan, jika Anda merasa dunia ini aman dan berkeadilan, Anda bukanlah warga bumi. Atau bisa jadi, Anda tinggal di bumi, namun tak terkoneksi dengan lingkungan. Alias anti sosial.
Ketidakadilan ini telah berlangsung lama. Dan selama itu pula kita hanya menjadi penonton. Akibatnya, keserakahan semakin merajalela. Kesombongan menemui jalannya. Tak ada satu pun tempat yang aman dari kepongahan negara adidaya, bahkan di ujung lembah sekalipun. Terlalu banyak luka, dan tak terhitung nestapa melanda dunia, selama Khilafah, sang Penjaga dunia dari ketidakadilan dihabisi di tahun 1924.
Yang paling mengemuka di hari ini, tentu saja pengkhianatan para pemimpin Arab. Bertopeng “perjanjian Ibrahim”, Uni Emirat Arab menyetujui normalisasi hubungan dengan sang agresor, Israel. Dengan pongahnya, Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS) mengatakan, kelak ada 7 negara yang mengikuti jejak UEA.
Sebagai Inisiator dari apa yang mereka sebut sebagai “Fajar Baru Timur Tengah”, Trump tentu ingin meraup banyak hal dari keberhasilannya. Elektabilitasnya yang menurun, karena kegagalan penanganan wabah Covid-19, membuatnya harus melakukan terobosan baru agar tidak kehilangan basis pendukung. Hantaman badai resesi, juga membuatnya harus memutar otak mengatasi perekonomian dengan cara menuntaskan problem pengangguran. Normalisasi pun dibuat dengan persyaratan yang menguntungkan sang negara adikuasa. Penjualan pesawat siluman F-53 yang kelak akan mendongkrak Pendapatan Negara dan merekrut ribuan tenaga kerja di dalam negeri. (Republika online)
Begitu pun Netanyahu. Perdana Menteri (PM) Israel ini juga dihujani kritik atas keterlibatannya dalam kasus korupsi dan ketidakmampuannya menangani pandemi covid-19. Dua kepentingan itupun menyatu dalam Perjanjian Ibrahim atau Abraham Agreement.
Di Pihak Palestina, normalisasi ini disebut sebagai Selasa hitam. Ibarat musuh dalam selimut, Bangsa Arab yang dijadikan tumpuan harapan pendukung perjuangan rakyat Palestina, justru menjadi yang pertama menikam mereka. Kemana harus mengadu? Kepada siapa harapan kemerdekaan Palestina digantungkan? Jika diplomasi yang dianggap sebagai satu-satunya jalan menemui kebuntuan. Haruskah asa berakhir? Relakah kaum muslimin jika kelak, Masjdil Aqsa dimiliki Israel? Atau setidaknya dibagi dua, separuh untuk kaum muslimin dan separuh untuk entitas Yahudi? Sementara saat ini saja, akses untuk masuk ke kompleks kiblat pertama Kaum muslimin itu sudah ketat dan dijaga tentara bersenjata.
Dua Negara Bukan Solusi
Sejak awal, design tata dunia baru di timur Tengah sudah menyisakan begitu banyak lubang. Dengan membagi Palestina menjadi dua negara alias two country Sollution, secara tidak langsung membenarkan tindakan Israel mencaplok wilayah Palestina.
Wajar jika Warga Muslim Palestina menolak. Begitu pun mayoritas kaum muslimin. Tak sejengkal pun tanah Palestina diserahkan kepada Israel.
Dalam catatan sejarah, tanah Palestina tak pernah berhenti bergolak. Sejak pertama kali dibebaskan di zaman Khalifah Umar bin Khothob hingga Sejarah Panjang Perang Salib. Berbagai catatan sejarah, berupa 171.306 akta yang tersimpan di arsip Ottoman (Kesultanan Utsmaniyah) menunjukan bangsa Arab pemilik asli tanah Palestina. Israel tak bergeming.
Pasca Tragedi Halakous, yang menewaskan kurang lebih 4000 warga Yahudi, terjadi eksodus besar-besaran warga Yahudi ke pemukiman Palestina. Bangsa Arab yang menerima pendatang Yahudi ke wilayah mereka, justru mendapatkan balasan menyakitkan.
Peristiwa Al-Nakba (bencana) tahun 1948, menjadi bukti keserakahan Israel. 3/4 dari sejuta warga Palestina melarikan diri atau terusir dari rumahnya. Sejak itu berbagai perjanjian dibuat untuk menyelesaikan konflik antara Palestina dan Israel. Meski tak satu pun perjanjian itu menguntungkan warga Palestina. Hingga hari ini, mereka tetap hidup dalam penjara terbuka.
Khilafah Is The Only Hope
Makin hari, Israel makin mempertontonkan kebengisannya. Sementara kaum muslimin, tetap sabar berjuang dan menjaga tanah yang diberkati itu dengan aliran darah para syuhada. Hingga kapan?
Dalam sebuah perbincangan di Masjid Jogokariyan, Seorang Perwakilan Ulama Rabithoh Palestina, Syaikh Dr. Abu Bakar Al-‘Awawidah mengatakan, konflik masalah Palestina tak akan selesai meski bangsa arab bersatu. Kisah yang dituliskan dengan apik oleh Ust. Salim A. Fillah itu menceritakan tentang harapan besar kaum muslimin Palestina akan datangnya para pemuda membawa Bendera Hitam yang kelak akan membebaskan Palestina. Yang datang dari arah timur.
Harapan itu lahir dari keyakinan. Bahwa hanya Khilafah yang mampu membebaskan Palestina. Khilafah satu-satunya harapan yang mampu merespon Kebijakan Global yang selama ini selalu merugikan umat Islam. Dengan seruan Jihad yang Agung, semua potensi umat akan digenggam dan digelorakan dengan satu komando.
Sebagaimana Komando Jihad yang digelorakan Sultan Abdul Hamid II terhadap penghinaan pagelaran seni di Perancis terhadap Sosok Nabi Muhammad SAW. Atau ketegasan Sang Benteng Terakhir Palestina ini terhadap tawaran menggiurkan Theodore Hertz untuk membeli tanah Palestina.
Sungguh, hanya itu yang ditunggu oleh kaum Muslimin. Menunggu kembalinya Sang Komando Janniseri. Yang setiap seruannya kelak akan menggetarkan hati orang-orang kafir dan munafik. Menjungkalkan kesombongan Amerika dan Negara Kafir penjajah lainnya. Mengembalikan kemuliaan di tangan Islam dan Kaum Muslimin. Sebagaimana Firman Allah dalam QS An-Nur ayat 55
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55) }
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
Wallahu’alam bi showab
Penulis: Ari Nurainun, SE (Pengamat Ekonomi dan Politik)
Editor: H5P