oleh

Hewan Endemik Icon Sultra Muncul Dipermukiman Warga, Ardianto: Hutan Kian Dijadikan Lahan Pertambangan

Hewan Endemik Icon Sultra Muncul Dipermukiman Warga, Ardianto: Hutan Kian Dijadikan Lahan Pertambangan
Kader DPD IMM Sulawesi Tenggara (Sultra), Ardianto

TEGAS.CO., KENDARI – Kader DPD IMM Sulawesi Tenggara (Sultra), Ardianto menilai pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) Sultra saat ini sudah tidak lagi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Hal ini, kata dia, dapat terlihat dengan bermunculannya hewan endemik Anoa dipermukiman warga. Kawasan hutan kian dijadikan lahan pertambangan, menjadikan satwa endemik yang menjadi icon daerah Sultra (Bumi Anoa) yang kita sama-sama cintai ini terancam punah.

“Munculnya hewan endemik Anoa diperkampungan warga menandakan bahwa kawasan hutan di Sultra sudah di jarah dan di rusak,” jelas Ardianto. Senin (6/6/2022).

Olehnya itu, sambung Ardianto, melalui momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati pada 5 Juni setiap tahunnya, kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

“Mulai dari berpikir kritis, bertindak ramah terhadap lingkungan, serta bersama–sama mewujudkan keadilan ekologi dan memastikan pengakuan dan perlindungan wilayah yang dikelola rakyat dari ancaman penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam yang tidak berpihak pada lingkungan. Terutama bagi pihak yang berperan menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebagaimana amanat UUD 1945 Pasal 28 H Ayat 1 berbunyi : “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

“Kerusakan sistem ekologi yang mengancam kepunahan hewan endemik Sultra. Juga tidak terlepas dari lemahnya keberpihakan kebijakan pemerintah dalam konteks pengelolaan sumber daya alam,” pungkasnya.

Ketimpangan penguasaan SDA, tambah dia, mengakibatkan rentetan bencana ekologi sepanjang tahun. Seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, pencemaran air dan sungai, rusaknya daerah aliran sungai, perubahan fungsi kawasan dan hilangnya wilayah tangkapan air, dan konflik sumber daya alam.

“Sehingga populasi hewan endemik Sulawesi Tenggara, yakni Anoa (Baubalus depressicornis) mengalami penurunan drastis, hal ini akibat perburuan liar, perluasan pemukiman manusia yang diikuti oleh aktivitas penebangan pohon, pengeringan sungai dan rawa, serta perambahan kawasan hutan,” tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, Anoa adalah mamalia terbesar dan endemik yang hidup di daratan Pulau Sulawesi dan Pulau Buton, banyak yang menyebut anoa sebagai kerbau kecil, Anoa juga merupakan hewan yang tergolong fauna.

Baru baru ini, beredar sebuah vidio di Media Sosial (Medsos) Whats App, Vidio yang berdurasi 1.30 menit itu memperlihatkan se ekor Anoa betina bersama anaknya yang sedang mencari makan.

Munculnya se ekor anoa tersebut spontan membuat beberapa orang yang melihat langsung mengabadikannya, sebab hal itu menjadi sebuah moment langkah yang saat ini jarang untuk di jumpai, Minggu (05/06/2022).

Baca
Hewan Endemik Icon Sultra Muncul Dipermukiman Warga, Ardianto: Hutan Kian Dijadikan Lahan Pertambangan

LAPORAN: MAHIDIN

PUBLISHER: REDAKSI

Komentar

DMCA.com Protection Status