
TEGAS.CO., SULAWESI TENGGARA – Pulau Kabaena, permata tersembunyi di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, menyimpan paradoks yang menyayat hati. Keindahan alamnya yang memesona berselimut ancaman serius dari eksploitasi tambang nikel yang tak terkendali.
Tahun 2025 menjadi saksi bisu bagaimana demam nikel, yang didorong oleh kebutuhan global akan baterai kendaraan listrik, telah meninggalkan jejak kerusakan yang mendalam bagi pulau kecil nan indah ini.
Ancaman yang Membayangi
Eksploitasi nikel di Kabaena bukan cerita baru. Protes masyarakat telah bergema sejak bertahun-tahun silam, menyuarakan keprihatinan akan kerusakan lingkungan dan ketidakadilan dalam pembagian keuntungan.
Namun, tahun 2025 menandai titik kritis. Pencemaran laut akibat limbah pertambangan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.
Laporan-laporan menyebutkan kerusakan terumbu karang yang parah, kematian biota laut, dan ancaman serius terhadap mata pencaharian masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada hasil laut.
Suara yang Tertutup
Ironisnya, di tengah kerusakan lingkungan yang semakin meluas, suara masyarakat Kabaena seakan teredam. Akses informasi yang terbatas, lemahnya penegakan hukum, dan dominasi perusahaan tambang besar membuat perjuangan mereka menghadapi tantangan yang berat.
Banyak laporan tentang pelanggaran lingkungan yang tak ditindaklanjuti, janji-janji kompensasi yang tak ditepati, dan ketidakadilan yang terus berulang.
Kasus Kabaena bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan juga soal keadilan sosial dan ekonomi. Analisis mendalam diperlukan untuk mengungkap jaringan kompleks yang terlibat, mulai dari perusahaan tambang, pemerintah daerah, hingga pihak-pihak yang mungkin mendapat keuntungan dari eksploitasi sumber daya alam ini.
Seberapa transparan proses perizinan dan operasional pertambangan di Kabaena? Siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan kerugian yang dialami masyarakat? Bagaimana memastikan pembagian keuntungan yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat lokal? Bagaimana menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat?
Harapan di Tengah Krisis
Meskipun situasi tampak suram, harapan masih ada. Pentingnya kesadaran publik, tekanan dari organisasi masyarakat sipil, dan pengawasan yang ketat dari pemerintah pusat menjadi kunci untuk menyelamatkan Kabaena dari ancaman kehancuran.
Kasus Kabaena menjadi pengingat penting bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Perlu ada perubahan paradigma, yang menempatkan keberlanjutan dan keadilan sebagai prioritas utama dalam pengelolaan sumber daya alam.
Kabaena harus diselamatkan, bukan hanya untuk keindahan alamnya, tetapi juga untuk masa depan generasi mendatang.

Dalam sebuah forum resmi Anggota Komisi III DPRD Sultra, H. Abd Halik menggaungkan, penambang mesti memiliki 3 prinsip sukses, “Sukses ekonomi, sukses ekologi dan sukses sosial,” tegasnya.
Pegiat
Kisran Makati, Direktur PUSPAHAM, Rabu 12 Februari 2025 lalu mengungkapkan keprihatinan yang mendalam, dengan menyatakan, “Masyarakat lokal kehilangan cara hidup tradisional mereka yang sudah lama ada karena penambangan nikel.
Dahulu, mereka menanam makanan mereka sendiri dan mencari ikan untuk mendapatkan makanan, namun sekarang mereka bergantung pada pedagang dari luar untuk mendapatkan kebutuhan pokok.
Hanya segelintir orang yang memperoleh penghasilan dari bekerja di pertambangan, dan ketika pertambangan ditutup, hutan mereka hancur dan lingkungannya tercemar. Represi secara fisik terhadap warga yang menolak tambang juga merupakan masalah serius.
PUBLISHER: MAS’UD