Berita UtamaEkobishotelKendari

Digital Pelabuhan Petikemas Pelindo Kendari: Merajut Efisiensi Lewat Laporan Antarpulau

981
×

Digital Pelabuhan Petikemas Pelindo Kendari: Merajut Efisiensi Lewat Laporan Antarpulau

Sebarkan artikel ini
Digital Pelabuhan Petikemas Pelindo Kendari: Merajut Efisiensi Lewat Laporan Antarpulau
Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Sri Sugy Atmanto (kiri) di Kendari pada Kamis 24 Juli 2025 bersama General Manager Pelindo Kendari, Harianto (Kanan) saat berdialog Foto: MAS’UD

TEGAS.CO., KENDARI – Di bawah langit Kendari yang benderang, secercah asa baru menyelinap di antara riuhnya aktivitas pelabuhan petikemas Kendari Newport. Bukan sekadar deru mesin dan hiruk-pikuk bongkar muat, melainkan sebentuk transformasi digital yang tengah merajut efisiensi dalam setiap jengkal perdagangan antarpulau.

Kementerian Perdagangan, melalui Direktorat Sarana Perdagangan dan Logistik Perdagangan Dalam Negeri, kini tengah mengukir jejaknya, membimbing para pelaku usaha khususnya kargo dan PJPT menuju gerbang pelaporan perdagangan antarpulau barang (PAB).

“Kami datang ke sini untuk membimbing para pelaku usaha, khususnya mereka yang beraktivitas di Pelabuhan Newport Kendari dan Konawe Selatan, agar fasih dalam pelaporan PAP,” ujar Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Sri Sugy Atmanto di Kendari pada Kamis 24 Juli 2025.

Uji coba yang telah bergulir setahun silam di kota ini nyatanya membuahkan hasil yang memukau. Antusiasme di pelabuhan petikemaa Newport Kendari (Pelabuhan Pelindo Kendari) jauh melampaui pelabuhan-pelabuhan lain, sebuah penanda optimisme yang menyala.

Tahap Kedua Implementasi: Kendari Bersemi

Bimbingan teknis yang digelar di Pelabuhan petikemas Newport Kendari (Pelabuhan Pelindo) ini bukanlah babak baru, melainkan kelanjutan dari implementasi tahap kedua. Lima pelabuhan telah terlebih dahulu menjadi panggung uji coba di tahap pertama, merangkum beragam tingkat kesibukan.

Kini, di tahap kedua yang menyertakan sepuluh pelabuhan, Kendari menjadi salah satu titik terakhir yang disinggahi. “Ini adalah implementasi tahap kedua, dan Kendari termasuk pelabuhan terakhir untuk tahap ini,” jelas sang Direktur.

Seiring berjalannya waktu, pada bulan Agustus nanti, pelaporan elektronik akan diberlakukan sepenuhnya. Sebuah terobosan yang meruntuhkan sekat-sekat lama. “Nantinya, setiap pelaku usaha atau kargo yang belum melaporkan barangnya tidak akan bisa masuk ke area pelabuhan,” tegasnya.

Sistem ini, yang terintegrasi antara Kementerian Perdagangan, Pelindo, dan INSW di bawah naungan Kementerian Keuangan, diharapkan menjadi penawar bagi duplikasi laporan yang kerap membelit para pelaku usaha. Cukup satu laporan, segala urusan perizinan dan pengiriman barang akan terpangkas, efisiensi pun bersemi.

Kolaborasi Tiga Pilar: Membangun Fondasi Kokoh

Bimbingan teknis ini adalah buah manis dari kolaborasi apik tiga kementerian: Perdagangan, Keuangan, dan Perhubungan melalui KSOP Kendari serta dukungan tak ternilai dari Pelindo. “Terima kasih kepada Pelindo Kendari yang telah meminjamkan ruangannya, sehingga bimbingan teknis ini berjalan lancar,” ucapnya.

Salah satu harapan terbesar dari sistem ini adalah pemangkasan durasi waktu dalam setiap proses operasional barang, baik yang masuk maupun keluar pelabuhan. “Dengan pelaporan terintegrasi, proses bongkar muat hingga barang keluar dari pelabuhan akan jauh lebih cepat. Tidak ada lagi ‘dua lingkar waktu’ di Indonesia, itulah harapan kita semua,” ujarnya penuh harap.

Digital Pelabuhan Petikemas Pelindo Kendari: Merajut Efisiensi Lewat Laporan Antarpulau
Bimtek Permberitahuan Antarpulau Barang (PAB) pada Kamis 24 Juli 2025 Foto: MAS’UD

Menuju Pelabuhan Ideal: Kolaborasi Lintas Sektor

Meski antusiasme tinggi, tantangan tak luput dari penglihatan. Kondisi jalan yang masih membutuhkan perhatian menjadi sorotan. “Saya sudah sampaikan dalam sambutan saya tadi, perlu ada koordinasi lebih lanjut antara Pelindo, Pemerintah Kota Kendari, dan KSOP Kendari. Mungkin kami akan sampaikan ke Kementerian Perhubungan di Jakarta,” ujarnya, menandaskan pentingnya sinergi lintas sektor demi terciptanya infrastruktur pelabuhan yang ideal.

Pemberlakuan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) 27 Tahun 2024 menjadi landasan bagi sosialisasi dan bimbingan teknis ini. Sistem baru ini, yang harus dikuasai oleh para pelaku usaha, menjadi jembatan menuju masa depan perdagangan yang lebih efisien. “Ke depannya, para pengusaha tidak perlu lagi laporan berkali-kali, cukup sekali saja,” tegasnya.

Selain Kendari dan Konawe Selatan, program ini telah menyentuh banyak pelabuhan di Nusantara: Belawan (Medan), Gresik, Kariangau (Balikpapan), Bitung, Banjarmasin, dan Padang telah menjadi saksi bisu transformasi ini di tahap pertama dan kedua.

Tahap berikutnya akan menyasar pelabuhan-pelabuhan besar seperti Tanjung Perak (Surabaya), Tanjung Mas (Semarang), Tanjung Priok (Jakarta), dan Soekarno-Hatta (Makassar).

Apresiasi tinggi dilayangkan kepada Pelabuhan Kendari. “Saya sudah melihat langsung di komputer, semuanya hijau! Proses operasional berjalan baik, semua sesuai standar. Saya sangat mengapresiasi Pelabuhan Kendari yang semua proses operasionalnya, dari bongkar muat hingga pengeluaran barang, berjalan dengan baik dan sesuai standar operasional yang ditetapkan,” pungkasnya, diiringi keyakinan bahwa masa depan perdagangan antarpulau akan semakin cerah, ditopang oleh teknologi dan kolaborasi yang harmonis.

Senada, General Manager Pelindo Kendari, Harrrynto, menyampaikan bahwa Pelabuhan Kendari berkesempatan istimewa menjadi salah satu lokasi terpilih untuk pelaksanaan Bimtek Tahap II. “Ini merupakan salah satu dari beberapa daerah lokasi yang dipilih untuk Bimtek, dan kami beruntung di Kendari terpilih sebagai lokasi Bimtek untuk Tahap II,” ujar Harrtanto.

Kegiatan ini selaras dengan arahan Kementerian Perdagangan, khususnya Permendag Nomor 21 Tahun 2024 tentang Perdagangan Antarpulau dan Permendag Nomor 41 Tahun 2025 terkait penerapan PAP di seluruh Indonesia.

Dengan adanya Bimtek ini, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) berharap dapat semakin memantapkan implementasi PAP, yang nantinya akan terintegrasi dengan sistem aplikasi Pelindo.

“Harapannya, barang-barang yang keluar dan masuk melalui Pelabuhan Kendari bisa terdata dengan baik,” tambah Harryanto.

Ia juga mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya Bimtek ini, yang memungkinkan para pengguna jasa seperti JPT (Jasa Pengurusan Transportasi), pihak pelayaran, dan asosiasi untuk mengunggah laporan secara mandiri. “Dengan satu sistem saja, semua laporan terkait pemberitahuan antarpulau barang dapat terakomodasi dengan jelas,” tegasnya.

Dampak Bimtek ini diyakini akan signifikan terhadap peningkatan perekonomian nasional, khususnya di Sulawesi Tenggara dan Kendari. Peningkatan kinerja traffic barang dan peti kemas melalui Pelabuhan Kendari diharapkan menjadi kenyataan.

Selain itu, Harianto juga berharap Bimtek ini terus dikawal secara berkesinambungan oleh Kementerian Perdagangan dan unsur maritim terkait, demi kelancaran pelaporan yang terintegrasi.

Layanan 24/7 di Tengah Tantangan Logistik

Menanggapi pertanyaan terkait implementasi sistem pelaporan terintegrasi di Pelindo, Harianto menjelaskan bahwa sistem ini sebenarnya sudah berjalan melalui Sistem Terminal Petikemas (STID). “Sistem kami sudah berjalan. Harapannya, STID tidak bisa masuk pelabuhan jika barangnya tidak teridentifikasi dengan jelas,” katanya.

Sebelumnya, data masih terpisah antara input dari pelayaran dan Pelindo. Kini, dengan sistem terintegrasi, pengguna jasa cukup menginput data satu kali, dan informasi akan terdistribusi secara menyeluruh.

Mengenai pelayanan kontainer, Pelabungan Kendari melayani rata-rata 150 hingga 250 kontainer setiap harinya, baik untuk pengambilan maupun pengiriman. Layanan ini beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Harrryanto merinci bahwa tanggung jawab Pelindo dimulai sejak truk masuk gate, melakukan tap, hingga proses delivery dan keluarnya truk dari pelabuhan. “Saat ini, kami melayani rata-rata di bawah 15 menit untuk layanan delivery, bahkan ada yang di bawah 10 menit,” ungkapnya, menegaskan bahwa standar layanan (SLG) mereka adalah 45 menit.

Namun, tantangan masih membayangi. Harianto menyoroti perbedaan jam operasional antara pelabuhan dan gudang kargo di luar. “Kesulitan kami adalah pengguna jasa atau cargo owner tidak bekerja 24/7, sementara pelabuhan buka nonstop,” jelas Harryanto.

Banyak gudang tutup pada pukul 18.00 WIB atau lebih awal pada hari Sabtu. “Harapannya ke depan, gudang-gudang di luar juga bisa buka 24 jam, sama seperti pelabuhan,” pungkas Harianto, mengakhiri pembicaraan dengan optimisme akan masa depan logistik yang lebih terpadu.

PUBLISHER: MAS’UD