Berita UtamaSulawesi Selatan

PT Vale Menjawab dengan Hijau Pesisir Pasi-Pasi

432
×

PT Vale Menjawab dengan Hijau Pesisir Pasi-Pasi

Sebarkan artikel ini
PT Vale Menjawab dengan Hijau Pesisir Pasi-Pasi
Penanaman bibit mangrove di pesisir Pali-pali di SulSel

TEGAS.CO., SOROWAKO, 26 Juli 2025 – Di tengah desah napas bumi yang kian sesak oleh ulah manusia, dan bisikan gelombang laut yang tak henti merintih akibat abrasi serta keheningan keanekaragaman hayati yang memudar, Hari Mangrove Sedunia bukan lagi sekadar penanda kalender.

Ia adalah seruan, panggilan jiwa untuk merajut kembali benang-benang kehidupan yang nyaris putus. Mangrove, sang penjaga pesisir yang gagah, kini berdiri di ambang batas, menghadapi ancaman krisis yang mendalam. Namun, di antara kekhawatiran itu, sebuah harapan menyeruak dari jantung bumi Sulawesi.

PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian tak terpisahkan dari MIND ID, tak tinggal diam. Dengan langkah nyata, mereka merangkai janji di pesisir Pasi-Pasi, Malili, Sulawesi Selatan.

Sebanyak 2.000 bibit mangrove ditanam, bukan sekadar menancapkan pohon, melainkan menanam asa. Tak hanya itu, restorasi lamun dan terumbu karang turut digalakkan, merajut kembali permadani bawah laut yang rusak, demi masa depan yang lebih hijau dan biru.

Aksi mulia ini bukanlah kembang api sesaat, melainkan simfoni panjang dari strategi restorasi PT Vale yang berkelanjutan. Bergandengan tangan dengan TNI Angkatan Laut (Danlantamal VI Makassar), Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, serta berbagai organisasi konservasi dan masyarakat setempat,

PT Vale menegaskan komitmennya terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab. “Kami tidak hanya menanam pohon, kami sedang menanam ketahanan untuk masa depan,” tutur Abu Ashar, Wakil Presiden Direktur dan Chief Operations & Infrastructure Officer PT Vale, didampingi oleh Chief Human Capital Officer PT Vale Adriansyah Chaniago.

“Ini adalah bagian dari komitmen kami membangun pertambangan yang tidak hanya produktif, tetapi juga peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.”tambahnya.

Indonesia, dengan karunia hutan mangrove terluas di dunia, kini menyaksikan lebih dari separuh permata hijaunya telah usang, tergerus degradasi. Di kawasan pesisir Malili, kajian ekologis PT Vale pada tahun 2022 mengungkap fakta pahit:

Dari 111 hektar terumbu karang, hanya 30,96 hektar yang tersisa dalam kondisi sehat. Ekosistem lamun, bantal laut bagi berbagai biota, kini hanya terhampar 0,88 hektar. Hutan mangrove, meski masih membentang sekitar 647 hektar, namun telah kehilangan kepadatan dan fungsi ekologisnya, bagai tubuh tanpa jiwa.

Padahal, mangrove adalah paru-paru pesisir, mampu menyerap karbon 3 hingga 5 kali lipat dari hutan darat tropis. Ia adalah benteng alami, perisai dari ganasnya abrasi dan badai. Hilangnya fungsi ini tak hanya merenggut keindahan alam, tetapi juga mencabut perlindungan bagi masyarakat pesisir yang hidupnya bergantung pada lautan, dari sandang pangan hingga ketahanan hidup.

“Kondisi ini adalah alarm,” tegas Endra Kusuma, Direktur Hubungan Eksternal PT Vale. “Jika ekosistem pesisir rusak, maka bukan hanya lingkungan yang terdampak, tapi juga ekonomi masyarakat dan harapan untuk pertumbuhan inklusif.” ucapnya.

Tak berhenti pada hutan bakau, PT Vale turut menyelam lebih dalam, meregenerasi kehidupan di bawah permukaan air. Lima puluh struktur transplantasi terumbu karang (spider) diturunkan, bersama dengan pembangunan 20 rumah karang (nursery) di titik kritis Mangkasa Point.

Kolaborasi apik ini melibatkan Sorowako Diving Club (SDC), TNI AL Lantamal VI Makassar, Perwakilan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Yayasan Konservasi Cinta Laut Indonesia (YKCLI), dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar.

Secara simbolis, Abu Ashar menyerahkan struktur restorasi kepada tim lapangan, sebuah isyarat dimulainya babak baru dalam pengawasan dan perawatan jangka panjang.

Aksi penanaman mangrove ini bukanlah yang pertama bagi PT Vale. Ia adalah bagian dari helaan napas yang konsisten, sebuah manifestasi komitmen terhadap praktik pertambangan berkelanjutan yang selaras dengan prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (LST) atau Environment, Social, and Governance (ESG).

Sebelumnya, 1.000 bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora aviculata telah ditanam sebagai bagian dari Aksi Iklim Hari Ozon Sedunia, dirangkai dengan pelepasan kepiting bakau di Desa Pasi-Pasi, Malili, pada 28 September lalu.

Apresiasi mengalir deras dari berbagai pihak. Bupati Luwu Timur, H Irwan Bachri Syam, melalui perwakilannya, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Morowali, Masdin, menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya.

“Kami berterima kasih kepada PT Vale. Mereka hadir bukan hanya sebagai pelaku industri, tapi juga sebagai mitra strategis yang menjaga lingkungan. Langkah ini sekaligus menjadi motivasi untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, utamanya di area pesisir,” ungkap Masdin.

Senada, Danlantamal VI Makassar, Brigjen TNI (Mar) Dr. Wahyudi, S.E., M.Tr.Hanla., M.M., M. Han, menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bagian tak terpisahkan dari pertahanan negara di laut. “TNI Angkatan Laut memiliki tanggung jawab moral dan strategis dalam menjaga wilayah perairan termasuk ekosistem pesisir,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektoral antara TNI, pemerintah, dunia usaha seperti PT Vale, dan masyarakat sipil, sebagai kunci untuk memastikan warisan laut dan pesisir dapat dinikmati generasi mendatang.

Kepala Desa Pasi-Pasi, Sofian Ibnu Hasim SE, pun tak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah hari ini merupakan kegiatan yang baik bagi desa dan harapannya bisa kami lanjutkan dan memperbanyak penanaman,” pungkasnya.

Di tengah tantangan perubahan iklim yang membayangi dunia, PT Vale meyakini bahwa praktik pertambangan yang baik tak dapat dilepaskan dari nilai-nilai ESG. Restorasi ini bukan sekadar insiden, melainkan awal dari strategi jangka panjang untuk menyeimbangkan produktivitas industri dengan tanggung jawab terhadap bumi dan masyarakat. Melibatkan masyarakat lokal, PT Vale juga membuka cakrawala baru bagi ekonomi kreatif dan penghidupan alternatif bagi kelompok rentan di wilayah pesisir.

“Restorasi ini bukan akhir, melainkan awal,” tutup Abu Ashar, dengan sorot mata penuh harap. “Setiap mangrove yang tumbuh dan setiap terumbu yang pulih, adalah bukti bahwa industri bisa menjadi bagian dari solusi iklim.”tandasnya.

PUBLISHER: MAS’UD