
SULAWESI TENGGARA., TEGAS.CO – Di bawah langit senja yang memerah, kediaman Dr. M. Ridwan Badallah berubah menjadi panggung kecil tempat semangat dan keringat para karateka dirayakan. Sabtu, 2 Agustus 2025, bukan sekadar tanggal di kalender melainkan momen di mana setiap medali yang tergantung di dada atlet bercerita tentang latihan yang tak kenal waktu, tentang peluh yang mengalir di atas tatami, dan tentang tekad yang lebih keras daripada batu karang di pesisir Kendari.
Acara ramah tamah ini bukan sekadar jamuan makan. Ia adalah mahligai tempat dedikasi para pelatih, keletihan para atlet, dan harapan para pengurus bertemu dalam satu tarikan napas yang sama. 4 emas, 8 perak, 10 perunggu, angka-angka itu bukan sekadar logam, melainkan saksi bisu dari pertarungan di atas arena, di mana setiap serangan dan tangkisan adalah puisi yang ditulis dengan tubuh.
Dr. Ridwan Badallah, sang Ketua Umum, berdiri di tengah mereka seperti seorang panglima yang baru saja memenangi pertempuran kecil. “Ini baru awal,” katanya, dengan mata yang berbinar seperti pantulan cahaya di permukaan samudera.
FORKI Kota Kendari masih seperti bayi yang baru belajar merangkak, beberapa bulan usianya. Tapi, seperti pepatah lama, “Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Dan nama itu mulai terukir dengan tinta emas.
“Kita belum juara satu,” ujar Ridwan, “tapi bukankah setiap pendakian dimulai dari anak tangga pertama?”

Di sudut ruangan, Sensei Indra tersenyum samar. Tiga tahun ia membina atlet tanpa imbalan, hanya berbekal cinta pada olahraga dan keyakinan bahwa suatu saat, anak-anak didikannya akan menjadi penerang bagi kota ini.
“Pelatih adalah petani yang menabur benih,” bisik Ridwan. “Mereka tak pernah menuntut hujan, tapi tetap setia menunggu tunas itu tumbuh.”
Visi ke Depan: Menjadi Burung Rajawali di Angkasa Prestasi
Ridwan tak ingin berpuas diri. Ia sudah membayangkan atlet-atlet Kendari berdiri di podium Porda, PON, bahkan di pentas dunia. “Kita akan buat event lebih banyak,” janjinya, “agar anak-anak kita tak hanya kenal tatami dojo, tapi juga kerasnya persaingan.”
Dan malam itu, di antara gemerisik daun kelapa yang tertiup angin laut, FORKI Kendari seperti menulis bab baru dalam sejarah. Bukan dengan tinta, tapi dengan keringat, darah, dan air mata, tiga unsur yang selalu menjadi bahan bakar para juara.
PUBLISHER: MAS’UD