Berita UtamaSulawesi Tenggara

Korem 143 Halu Oleo Kawal Aspirasi Rakyat

322
×

Korem 143 Halu Oleo Kawal Aspirasi Rakyat

Sebarkan artikel ini
Korem 147 Halu Oleo Kawal Aspirasi Rakyat
Komandan Korem 143 Halu Oleo Kendari, Brigjen TNI R. Wahyu Sugiarto, S.I.P., M.Han Foto: MAS’UD

KENDARI, TEGAS.CO – Di bawah langit yang menggumpal kelabu, mereka datang. Bukan sebagai panglima perang, melainkan sebagai penjaga mimpi dan kata-kata. Brigjen TNI R. Wahyu Sugiarto, S.I.P., M.Han, Komandan Korem 143/HO, memimpin sendiri pengamanan ini, bagai nahkoda yang mengarahkan biduknya di tengah gelombang demokrasi yang kadang beriak, kadang bergulung-gulung.

Senin, 1 September 2025, menjadi saksi. Di depan Gedung DPRD Sultra, sekitar 120 personel TNI berdiri tegak. Seratus dua puluh pasang mata yang waspada, seratus dua puluh hati yang berdetak untuk satu tujuan: menjamin bahwa setiap suara, setiap keluh, setiap tuntutan yang terlontar dari kerumunan, dapat sampai ke telinga para pemangku kebijakan, tanpa setetes darah pun tumpah.

“Kami hadir untuk memastikan situasi kondusif,” lirik Danrem, suaranya berat bak besi tua, namun teduh seperti hujan pertama. “Masyarakat boleh menyampaikan aspirasinya, tetapi harus tetap dalam koridor hukum dan tidak anarkis.”ucapnya.

Tidak hanya di sana. Di depan DPRD Kota Kendari, 40 personel Kodim juga siaga. Mereka bagai akar pohon beringin yang menahan tanah dari erosi, tidak mencolok, tetapi sangat penting.

Sementara itu, para Babinsa, ujung tombak TNI yang paling dekat dengan denyut nadi rakyat, menyebar di berbagai titik.

Mereka adalah penjaga yang tak terlihat, mengawal dari balik layar, memastikan tidak ada yang terluka, tidak ada yang tertindas.

Ini bukan sekadar tugas. Ini adalah janji. Janji TNI untuk tetap setia pada sumpahnya: melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, termasuk melindungi hak mereka untuk bersuara.

Dan hari itu, di bawah langit Kendari yang tak pasti, mereka berhasil. Aksi unjuk rasa berjalan lancar.

Aspirasi mengalir deras, tapi damai. Tidak ada pecahan kaca, tidak ada air mata. Yang ada hanyalah harapan, yang disampaikan dengan keberanian, dan dikawal dengan kehormatan.

Seperti kata Danrem, “Ini adalah komitmen kami.” Komitmen untuk menjadi jembatan, bukan tembok. Untuk mendengar, bukan menghakimi. Untuk melindungi, bukan menakuti.

Publisher: Mas’ud