Berita UtamaKendari

Wawali Kendari Tekankan Kolaborasi Atasi Masalah Gizi di Sultra

238
×

Wawali Kendari Tekankan Kolaborasi Atasi Masalah Gizi di Sultra

Sebarkan artikel ini
Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, menghadiri sosialisasi dan evaluasi SPPG di Aula Merah Putih Rumah Jabatan Gubernur Sultra, Selasa (2/9/2025). Dok. Foto Istimewa

TEGAS.CO., KENDARI – Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, menghadiri sosialisasi dan evaluasi pelaksanaan, pemantauan, serta pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Aula Merah Putih Rumah Jabatan Gubernur Sultra, Selasa (2/9/2025) malam.

Sekretaris Satgas Percepatan Pelaksanaan Multisektor Pemberdayaan Gizi (MBG) Sultra, Ari Sismanto, menegaskan bahwa permasalahan gizi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi daerah ini.

Data terbaru mencatat angka stunting di Sultra masih 10,5 persen, atau lebih dari satu dari sepuluh anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat kurang gizi kronis.

“Selain itu, remaja putri juga menghadapi persoalan serius dengan angka anemia mencapai 16,4 persen. Ini bukan sekadar persoalan kesehatan, melainkan berpengaruh pada kualitas generasi penerus,” ujarnya.

Ia juga menyoroti skor Pola Pangan Harapan (PPH) Sultra yang baru menyentuh angka 82,2, jauh di bawah rata-rata nasional 94,1. Kondisi ini menandakan masyarakat lebih fokus pada kenyang, bukan pada pola konsumsi gizi seimbang.

Menurut Ari, dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, dinas kesehatan, pendidikan, dan masyarakat agar program SPPG berjalan efektif.

“Program ini bukan hanya tugas satu instansi, melainkan tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Kegiatan ini juga dihadiri Direktur SPPG Badan Gizi Nasional RI, Kolonel Artileri Medan Rudi Setiawan.

Persoalan gizi di Sultra tidak boleh dipandang sepele. Angka stunting yang masih tinggi dan anemia remaja putri harus dijadikan alarm bagi semua pihak.

Sebab, masalah ini tidak hanya menghambat kualitas hidup individu, tetapi juga melemahkan daya saing daerah ke depan.

Pemerintah daerah dituntut untuk tidak hanya fokus pada program jangka pendek, melainkan mendorong pola konsumsi sehat di setiap rumah tangga.

Edukasi gizi harus masuk hingga ke sekolah-sekolah, posyandu, dan kelompok masyarakat, agar kesadaran tumbuh sejak dini.

Selain itu, ketersediaan bahan pangan bergizi dengan harga terjangkau juga menjadi kunci. Kolaborasi dengan sektor pertanian, UMKM, dan dunia usaha perlu diperkuat sehingga masyarakat tidak hanya tahu pentingnya gizi, tetapi juga mampu mengaksesnya.

Masyarakat pun diharapkan tidak pasif. Perubahan pola konsumsi tidak akan berhasil tanpa komitmen keluarga untuk mulai membiasakan makanan sehat dan seimbang.

Dengan langkah konkret bersama, Sultra berpeluang keluar dari jerat masalah gizi dan melahirkan generasi unggul yang sehat, cerdas, serta produktif.