BeritaBerita UtamaKonawe SelatanMahasiswaPendidikanSulawesi Tenggara

Mahasiswa dan Dosen UHO Selamatkan Warisan Bagan Tancap di Tinanggea

977
×

Mahasiswa dan Dosen UHO Selamatkan Warisan Bagan Tancap di Tinanggea

Sebarkan artikel ini
Dr. Agustan bersama Kepala Desa Akuni, Ruslan, dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat Prodi Teknik Kelautan UHO di Desa Akuni, Tinanggea.
Dr. Agustan bersama Kepala Desa Akuni, Ruslan, dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat Prodi Teknik Kelautan UHO di Desa Akuni, Tinanggea.

TEGAS.CO., KONAWE SELATAN — Di tengah ancaman kepunahan alat tangkap tradisional, lima nelayan Desa Akuni, Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, masih gigih mempertahankan bagan tancap, warisan leluhur yang menjadi sumber penghidupan sekaligus identitas budaya maritim. Namun, keterbatasan material, biaya, serta regulasi membuat keberlangsungan bagan tancap kian terancam.

Menjawab tantangan tersebut, tim dosen dan mahasiswa Program Studi Teknik Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemilihan, Implementasi, dan Perawatan Material Struktur Bagan Nelayan” pada Senin (29/9/2025) di Desa Akuni.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Agustan, ST., M.Si., selaku Ketua Tim sekaligus Koordinator Prodi Teknik Kelautan UHO. Tim dosen terdiri dari Ir. Uniadi Mangidi, ST., MT; Fikri Aris Munandar, ST., MT; Dr. Ir. Muammar Makmur, ST., MT; dan Riyan Abdillah Takdir, ST., MT. Mereka didampingi dua mahasiswa Teknik Kelautan, Saldam Said dan Ifdal Parawansyah. Kehadiran mereka disambut oleh Kepala Desa Akuni, Ruslan, serta nelayan bagan tancap setempat: Ambo Tuo, Muslim P, Antong, Anwar, dan Erwing.

Sosialisasi Teknis dan Alternatif Material

Dalam forum diskusi, para nelayan menyampaikan keluhan terkait keterbatasan bahan kayu untuk perbaikan tiang bagan. Kayu bakau yang biasa digunakan kini semakin sulit diperoleh karena adanya larangan penebangan. Padahal, material tersebut dibutuhkan bukan untuk dijual, melainkan untuk mempertahankan alat tangkap mereka.

Tim UHO kemudian memperkenalkan sejumlah solusi, seperti penggunaan terpal pelapis tiang, resin dengan fiberglass, serta teknik sambungan yang lebih kuat. Selain itu, perawatan rutin juga ditekankan agar umur struktur bisa mencapai dua hingga tiga tahun, jauh lebih lama dibandingkan hanya beberapa bulan jika tanpa perlakuan teknis.

“Bagan tancap bukan sekadar alat tangkap, tapi bagian dari cara hidup kami,” ujar salah satu nelayan dalam kegiatan itu.

Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Teknik Kelautan UHO bersama kelompok nelayan bagan tancap Desa Akuni, Tinanggea, Konawe Selatan.
Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Teknik Kelautan UHO bersama kelompok nelayan bagan tancap Desa Akuni, Tinanggea, Konawe Selatan.

Lahirnya Kelompok “BANG LAJANG”

Momentum pengabdian ini juga melahirkan kelompok nelayan baru yang diberi nama BANG LAJANG singkatan dari Bagan Tancap Tinanggea, Lestari, Jaya, Langgeng. Nama ini mencerminkan harapan agar tradisi bagan tetap terjaga, usaha nelayan semakin jaya, dan manfaatnya langgeng bagi generasi mendatang.

Sebagai tindak lanjut, Prodi Teknik Kelautan UHO menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Desa Akuni. Kerja sama ini membuka peluang menjadikan Desa Akuni sebagai “laboratorium hidup” bagi mahasiswa, sekaligus sarana implementasi Tridharma Perguruan Tinggi.

“Kami tidak datang untuk menggurui, tapi untuk belajar dan berjalan bersama. Warisan maritim seperti bagan tancap harus diselamatkan, bukan hanya karena nilai ekonominya, tetapi juga sebagai bagian dari jati diri masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara,” tegas Dr. Agustan.

Kini, Kelompok Nelayan BANG LAJANG siap menjadi pelopor penerapan teknologi tepat guna di wilayah pesisir Konawe Selatan. Dengan dukungan ilmu pengetahuan, kearifan lokal, dan kebijakan yang berpihak, keberlanjutan bagan tancap di Tinanggea tidak lagi sekadar mimpi, melainkan langkah nyata menuju pesisir yang tangguh dan berkelanjutan.

 

Penulis : Amran solasi