
KENDARI, TEGAS.CO. โ Unit Pelaksana Teknis Daerah Penanganan Siswa Berkebutuhan Khusus (UPTD PSBK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) gencar mensosialisasikan layanan terapi bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Layanan ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh orang tua untuk deteksi dini dan penanganan ABK, khususnya autisme.
Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐๐๐๐
Kepala UPTD PSBK Sultra, Nurhaerani Haeba, S. P., Si., M. Si., M.P.Si, Psikolog, menjelaskan bahwa sosialisasi ini bertujuan mengkampanyekan keberadaan pusat layanan yang dimiliki pemerintah provinsi, yang berada di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
“Kita mengkampanyekan bahwa kita memiliki pusat layanan anak kebutuhan khusus. Sehingga, orang tua yang memiliki anak dengan ABK bisa membawa anaknya untuk melakukan terapi di tempat layanan yang dimiliki oleh pemerintah,” ujar Nurhaerani, Minggu (27/10/2025).
Menurutnya, sosialisasi ini merupakan salah satu bentuk kegiatan rutin yang seharusnya dilaksanakan setiap tahun. Meski Hari Peduli Autis Sedunia diperingati setiap 2 April, pelaksanaan tahun ini baru bisa terlaksana di bulan Oktober karena adanya kegiatan efisiensi dan pergantian, namun hal tersebut tidak mengurangi semangat dan tujuan utama.
“Ini tidak mengurangi semangat, tidak mengurangi tujuan kita mengapa melakukan sosialisasi ini,” tegasnya.

Kegiatan sosialisasi ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari orang tua dengan anak-anak berkebutuhan khusus, Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kota Kendari, hingga stakeholder terkait seperti Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, serta lembaga-lembaga layanan autis swasta.
Sebagai upaya peningkatan kualitas penanganan, UPTD PSBK juga menghadirkan narasumber utama dari kalangan akademisi yang berkecimpung di anak berkebutuhan khusus, yang didatangkan dari Universitas Airlangga Surabaya.
Nurhaerani berharap, melalui kegiatan ini, masyarakat Sultra, khususnya di Kendari, dapat segera melakukan deteksi dini saat anak-anak masih berusia dini atau masih bulanan. “Agar bisa penanganannya lebih cepat dan perkembangannya bisa seperti anak normal lainnya,” tutupnya.
PUBLISHER: MAS’UD