Berita UtamaKolaka

Hari Ketiga Pencarian Para Pemancing di Pomalaa

516
×

Hari Ketiga Pencarian Para Pemancing di Pomalaa

Sebarkan artikel ini
Hari Ketiga Pencarian Para Pemancing di Pomalaa
Hari Ketiga Pencarian Para Pemancing di Pomalaa

KOLAKA, TEGAS.CO β€” Di tepian perairan Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, kabuoaten Kolaka matahari 11 November seolah terbit dengan beban. Ia menyinari lautan yang menyimpan cerita tragis dan memendam dua jiwa dalam dinginnya misteri.

Ini adalah Hari Ketiga (H3) Operasi SAR, sebuah epilog yang belum selesai dari sebuah petualangan memancing enam sahabat yang kandas dihantam gelombang.

Senja Minggu, 9 November 2025, pukul 16.30 WITA, adalah batas tipis antara tawa dan air mata. Longboat sederhana yang membawa enam pemuda itu karam, dicabik-cabik amukan ombak.

Empat dari mereka, M. Surahman Musrin (23), M. Sabrianto (22), Aswar (22), dan Pian berhasil lolos dari cengkeraman maut, menepi dengan sisa tenaga, dan membawa kabar duka kepada para pemancing di Jembatan Totobo.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘

Namun, lautan menahan dua nama: Alfito (DP) yang masih dalam pencarian, dan Andika (MD), yang kisahnya telah usai di batas ombak.

β€œMereka terjatuh dari longboat akibat hantaman gelombang dan 2 orang temannya hilang,” demikian laporan awal yang diterima Pos SAR Kolaka, diceritakan oleh Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Kendari, Amiruddin A.S.

Pukul 06.00 WITA pagi ini, Tim SAR Gabungan kembali membelah lautan dan hutan bakau. Cuaca berawan tebal seolah menjadi tirai bagi drama kemanusiaan ini, dengan tinggi gelombang antara 0,5 hingga 1 meter yang tetap mengintai.

Pencarian dibagi dalam tiga sayap, sebuah upaya besar-besaran yang mengerahkan seluruh unsur dari Staf Ops KPP Kendari hingga masyarakat setempat.

Tim 1 (Laut Bebas) menggunakan RIB (Rigid Inflatable Boat), perahu karet yang diperkuat menyisir area Last Known Position (LKP) seluas 5,48 \text{ Mil Laut}^2. Di sinilah mata-mata dilatih untuk membaca setiap anomali di permukaan air.

Tim 2 (Batas Darat-Air), menggunakan dua rubber boat, mereka menyusup ke jantung hutan bakau, dari Muara Jembatan Kali Merah hingga Magotta Empang.

Di area seluas 3,23 \text{ Mil Laut}^2 ini, teknologi modern dikerahkan: drone akan terbang rendah, mengintip dari udara ke celah-celah akar bakau yang rumit.

Tim 3 (Jalur Cepat), menggunakan speedboat, fokus pencarian mencakup area 2,46 \text{ Mil Laut}^2, memanfaatkan kecepatan untuk menjangkau titik-titik terjauh.

Operasi ini adalah potret nyata kolaborasi, di mana seragam dan pakaian sipil melebur demi satu tujuan.

Unsur-unsur dari Pos TNI AL, Polair Kolaka, ERG Antam Pomalaa, hingga PMI Kolaka dan KDC, bekerja bahu-membahu.

Alat utama mereka, mulai dari Aquaeye (peralatan pendeteksi bawah air) hingga Peralatan Selam dan PALSAR Medis, adalah perpanjangan dari tangan dan harapan yang tak pernah padam.

Di tengah deru mesin RIB dan senyapnya hutan bakau, hanya ada satu doa, membawa pulang Alfito dan memberikan penghiburan sejati bagi keluarga yang menunggu.

Ombak Pomalaa kini tak hanya membawa garam, tetapi juga kisah tentang persahabatan, musibah, dan semangat heroik yang menolak untuk menyerah.

PUBLISHER: MAS’UD