Klik 👆 dengar atau tonton video tiktonya 👇
Perjalanan Hj. Hasmawati Menuju Panggung Dewan
Oleh: MAS’UD
Pendingin ruangan di gedung DPRD Sulawesi Tenggara mungkin terasa sejuk, namun ketenangan yang terpancar dari sosok itu tidak lahir dari sana. Ketenangan itu ditempa di bawah terik matahari, di antara debu usaha, gerakan sosial, dan dalam riuh rendah percakapan di pasar-pasar rakyat.
Namanya Hj. Hasmawati. Hari ini, ia duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara periode 2024–2029. Namun, kisah di balik jas Partai Gerindra yang ia kenakan bukanlah cerita tentang politisi instan. Ini adalah elegi tentang perjalanan panjang dari dunia usaha dan aktivisme sosial.
Bagi mereka yang lama berkecimpung di dunia usaha Sultra, namanya tak asing. Hasmawati pernah menahkodai GAPENSI, bergelut dengan cetak biru, baja, dan semen. Ia juga lantang bersuara di IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia), memahami betul bahwa di balik angka-angka neraca, ada denyut nadi ekonomi keluarga yang harus terus berdetak.
Lapangan adalah universitasnya. Di sanalah ia belajar bahwa ketegasan seorang pemimpin harus diimbangi dengan ketulusan yang menyentuh. Ia melihat langsung bagaimana sebuah jembatan baru bisa memangkas jam-jam kelelahan seorang ibu yang mengantar anaknya sekolah, atau bagaimana modal usaha bisa mengubah nasib sebuah keluarga.
Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini 👇👇👇👍
Dunia usaha telah memberinya kemapanan. Namun, Hasmawati merasakan panggilan yang lebih besar. Ia melihat ada ruang-ruang kebijakan yang hanya bisa disentuh dari dalam sistem.
Politik, baginya, bukanlah tujuan untuk berkuasa, ia adalah perpanjangan tangan dari pengabdian sosial yang selama ini ia jalani.
Ia memilih Dapil Konawe Selatan–Bombana sebagai arena juangnya. Sebuah wilayah yang menyimpan potensi agung sekaligus ironi infrastruktur.
Lebih dari delapan ribu jiwa menitipkan amanah di pundaknya. Angka itu bukan sekadar statistik kemenangan, itu adalah delapan ribu harapan yang berbisik di telinganya.
Hasmawati menolak menjadi politisi yang alergi lumpur. Ia tidak hanya hadir di gedung dewan berpendingin. Kakinya ringan melangkah ke lokasi-lokasi yang jarang tersorot kamera.
Suatu hari, ia berdiri di atas jalanan rusak yang dikeluhkan warga. Di hari lain, ia duduk bersimpuh, menyerap aspirasi para petani yang resah akan masa depan panen.
Ia ikut hadir dalam program penanaman jagung nasional di Konawe Selatan, merasakan kembali aroma tanah basah, aroma kerja keras yang telah membesarkannya.
Baginya, menjadi wakil rakyat adalah kata kerja. Ia adalah telinga bagi yang tak terdengar dan suara bagi yang terbungkam.
Hasmawati sadar betul posisinya sebagai perempuan di panggung politik. Ia hadir bukan sebagai pelengkap kuota 30 persen.
Ia datang membawa perspektif seorang ibu, ketelitian seorang pengusaha, dan empati seorang pegiat sosial.
Ia ingin memastikan bahwa APBD tidak hanya diterjemahkan sebagai proyek, tetapi sebagai instrumen untuk pemberdayaan ekonomi rakyat, untuk pendidikan yang lebih baik, dan infrastruktur yang berkeadilan.
Kini, di ruang rapat besar DPRD Sultra, Hj. Hasmawati duduk dengan ketenangan yang otentik. Ia membawa memori tentang lorong-lorong penuh debu itu ke dalam ruang kebijakan yang steril.
Dalam dirinya, keteguhan seorang nakhoda usaha dan kelembutan seorang ibu berjalan berdampingan. Ia adalah bukti hidup bahwa politik, jika dipegang oleh tangan yang tepat, bisa menjelma menjadi bentuk pengabdian yang paling konkret. Ia adalah fondasi yang kokoh, sekaligus lentur menahan beban harapan pembangunan.
