Berita UtamaSultra

Aroma Ikan di Jantung Generasi Emas Sultra

132
×

Aroma Ikan di Jantung Generasi Emas Sultra

Sebarkan artikel ini
Aroma Ikan di Jantung Generasi Emas Sultra
Aroma Ikan di Jantung Generasi Emas Sultra

KENDARI, TEGAS.CO β€” Di bawah langit Papalimba Water Tourism Lapulu, 15 November 2025, aroma gurih ikan segar berpadu dengan riuh tawa dan irama Fun Zumba. Di tengah hiruk pikuk Festival Gemarikan (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan), Hugua, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, berdiri tegak di tepi air. Matanya memandang ke kejauhan, ke garis batas laut yang menjanjikan protein berlimpah.

“Ikan adalah sumber protein paling aman dan paling potensial dalam memerangi kekurangan gizi,” tegas Hugua, suaranya mengandung janji dan peringatan. Ia berbicara tentang Generasi Emas Tahun 2045, generasi yang akan dibangun di atas fondasi gizi seimbang, yang kritikalnya adalah asupan protein ikan dari rahim ibu hingga usia sepuluh tahun.

Di sini, di tengah ibu kota maritim ini, Gemarikan bukan sekadar festival masakan, melainkan sebuah deklarasi perang terhadap musuh senyap bernama stunting.

Adu Data di Pelabuhan Statistik
Di balik semangat membara ini, tersembunyi sebuah kontradiksi dingin yang mengancam perencanaan kebijakan.

Inilah paradoks maritim Sultra, sebuah wilayah yang hidup dan bernapas dari laut, yang angka konsumsi ikannya (AKI) konon tertinggi secara nasional, namun masih berjuang melawan angka stunting yang mengkhawatirkan.

Hugua dengan bangga mengklaim AKI Sultra mencapai 43,8 kg per kapita, menempatkan provinsi ini di urutan kedua. Namun, di meja kerja Sri Reskina, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sultra, angka yang tertulis di dokumen resmi jauh lebih fantastis: proyeksi 77,68 kg per kapita pada 2024.

“Angka kami menunjukkan budaya makan ikan yang sangat kuat,” ujar seorang staf DKP, berusaha tersenyum di balik disparitas data yang mencolok.

Perbedaan metodologi, kemungkinan besar, menjadi biang keladi. Apakah angka 77,68 kg/kapita mencakup ikan tangkapan sendiri, yang dimakan tanpa sempat menyentuh pasar komersial?

Jika angka ini benar, maka Sultra bukan lagi β€˜hanya’ nomor dua, melainkan juara tak terbantahkan dalam konsumsi ikan global. Namun, implikasinya dingin. Jika orang Sultra sudah makan ikan sebanyak itu, mengapa stunting masih bertengger di angka 26,1%?

Kontradiksi ini menciptakan konflik kebijakan. Haruskah fokus Gemarikan tetap pada ajakan “Makan Ikan Lebih Banyak”, atau beralih pada seruan “Makan Ikan yang Berkualitas dan Bervariasi”?

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘

Kisah pilu stunting di Sultra menemukan karakternya yang paling menyentuh di desa-desa pesisir.

Bayangkan anak-anak Suku Bajo, yang rumahnya terapung di atas laut, yang setiap hari hidup bersama ikan.

Mereka adalah konsumen ikan yang paling loyal rata-rata 81,9 gram per hari. Namun, sebuah studi menunjukkan 53,9% balita di komunitas ini menderita stunting.

Inilah inti dari paradoks gizi maritim. Masalahnya bukan lagi pada akses protein. ikan tersedia melimpah tetapi pada energi total dan lingkungan hidup.

Seorang ibu Bajo di Wakatobi mungkin harus menjual ikan tangkapan bernilai tinggi untuk membeli kebutuhan pokok lain yang lebih murah.

Anak-anaknya, meskipun makan ikan, kekurangan asupan karbohidrat dan lemak esensial yang menyediakan kalori total yang krusial untuk pertumbuhan otak dan fisik.

Defisit kecukupan energi (OR=6.92), bukan hanya defisit protein (OR=2.79), terbukti menjadi faktor risiko paling dominan.

Lebih parah lagi, upaya GENTING (Gerakan Penanggulangan Stunting) Pemda Sultra membongkar tabir lain: sanitasi buruk dan air bersih yang minim.

Anak yang terus-menerus sakit akibat infeksi lingkungan tidak akan mampu menyerap nutrisi dari protein ikan semahal apa pun.

Hugua benar, periode kritis adalah sejak kehamilan hingga anak berumur 10 tahun. Namun, pesan Gemarikan yang awalnya sederhana (“Makan Ikan!”) harus ditingkatkan menjadi prosa yang lebih kompleks.

“Makan ikan sebagai bagian dari gizi seimbang, padat energi, dan dalam lingkungan yang bersih.”

Di sela-sela Cooking Class bersama Chef Ody, para pelaku UMKM perikanan Sultra memamerkan produk olahan mereka, abon ikan, kerupuk, hingga terobosan hidrolisat protein. Mereka adalah prajurit ekonomi yang disokong Festival Gemarikan.

Namun, semangat ini terbentur tembok dingin logistik. Kendari memproduksi 30.000–40.000 ton ikan per tahun, namun infrastruktur rantai dingin (seperti cold storage dan Air Blast Freezer di Pelabuhan Perikanan Samudera) belum memadai.

Ketidakmampuan menyimpan hasil tangkapan dalam jumlah besar saat musim puncak berarti risiko pembusukan dan hilangnya kualitas.

Bagaimana mungkin Gemarikan menjanjikan ikan berkualitas dan aman kepada Generasi Emas jika sistem logistiknya rapuh?

Usulan pembangunan cold storage 200–500 ton dan Air Blast Freezer di Sanua/Tondonggeu kini harus naik status dari sekadar usulan menjadi Proyek Strategis Daerah Prioritas.

Inilah pertarungan terakhir yang harus dimenangkan Pemprov Sultra, pertempuran antara potensi laut yang melimpah dan infrastruktur yang beku.

Festival Gemarikan Sultra 2025 telah berlalu. Yang tersisa bukanlah hanya kenangan akan Fun Zumba atau hidangan lezat, tetapi tiga tantangan besar yang menuntut sebuah Roadmap 2026-2030 yang jujur dan tegas.

Pemprov harus segera menengahi BPS dan DKP untuk menetapkan satu angka AKI resmi agar target kebijakan tidak salah sasaran.

Program harus direvisi untuk fokus pada Kecukupan Energi Total dan sanitasi, tidak hanya protein ikan.

Alokasi anggaran khusus untuk infrastruktur logistik kritis menjadi prasyarat mutlak keberlanjutan.
Sultra, dengan lautnya yang biru pekat, menyimpan sumber daya untuk melahirkan Generasi Emas 2045.

Namun, janji itu hanya akan terwujud jika Pemprov berani melangkah melampaui seremoni, mengkonvergensi kebijakan antar-sektor, dan merangkai data yang jujur dengan hati nurani yang kuat.

Laut sudah memberi. Kini, giliran daratan untuk memastikan berkah itu tidak terbuang sia-sia.

REDAKSI