Berita UtamaFeature

Jejak Pejuang Politik La Isra

369
×

Jejak Pejuang Politik La Isra

Sebarkan artikel ini

Jejak Pejuang Politik La Isra

Di antara deru kunjungan reses dan tumpukan dokumen legislasi, politik kerap hadir sebagai panggung bisu yang menunggu suara-suara sunyi untuk diangkat.

Di Dapil 3 Sulawesi Tenggara bentangan kepulauan Muna, Muna Barat, dan Buton Utara, suara-suara itu menemukan corongnya pada sosok La Isra, seorang politisi yang memilih bersembunyi di balik kerja nyata ketimbang riuh pencitraan.

Sebagai wakil rakyat, La Isra tak hanya berdiam di gedung dewan. Ia memilih menjejakkan kaki di lumpur peternakan dan lorong birokrasi, mengikat janji untuk menjadi jembatan bagi setiap helai keluhan konstituennya.

Udara di Muna Barat membawa aroma rumput dan harapan yang terkadang layu. Di sana, La Isra duduk bersama para peternak rakyat, bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai pendengar yang saksama.

Keluhan mereka adalah sebuah narasi tentang perjuangan melawan keterbatasan. akses permodalan yang menjerat, kesehatan hewan yang rentan, hingga infrastruktur pendukung yang belum memadai. Kunjungan reses itu bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah deklarasi komitmen.

La Isra berjanji untuk membawa ‘suara lapangan’ ini ke meja pemerintah daerah, mengubah desahan lelah peternak menjadi butir-butir kebijakan yang solutif. Ia memahami, kemakmuran daerahnya tak terlepas dari denyut nadi ekonomi kerakyatan ini.

Namun, jejak langkah La Isra tak melulu tentang ekonomi. Ia adalah sosok yang bergerak cepat saat keadilan terancam. Kisah 426 tenaga honorer kesehatan (nakes) di Kabupaten Muna menjadi bukti nyata. Data mereka tiba-tiba hilang bak ditelan bumi, merenggut hak mereka untuk mendaftar seleksi PPPK, sebuah mimpi yang telah lama mereka rawat.

Dalam drama birokrasi yang nyaris putus asa itu, La Isra hadir sebagai pendamping senyap. Ia mengawal kasus ini dengan serius. Dengan koordinasi yang intensif dan pendekatan persuasif, ia berhasil mengurai benang kusut masalah data ini, memastikan hak para pejuang kesehatan itu terakomodir. Ia membuktikan, seorang wakil rakyat adalah juga seorang advokat bagi mereka yang terpinggirkan.

Sebagai Ketua Komisi I DPRD Sultra, pandangan La Isra tidak hanya terpatri pada Dapilnya. Ia juga seorang penjaga gawang kelembagaan, terutama yang bersentuhan dengan hak publik atas informasi. Sorotan tajamnya kini mengarah pada mitra kerjanya, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID), yang kerap terganjal isu penganggaran dan kelembagaan pasca terbitnya PP No. 18/2016.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘

La Isra menyadari, KPID adalah benteng etika penyiaran, dan melemahnya lembaga ini berarti melemahnya kontrol atas informasi yang diterima masyarakat.

Komitmennya jelas, mendorong pembahasan kebijakan di tingkat daerah, menyelaraskan dengan usulan KPI Pusat untuk revisi UU Pemda. Bagi La Isra, mendukung kelembagaan KPID adalah bagian dari visi yang lebih besar, memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang sehat dan bertanggung jawab.

Di luar gedung parlemen, komitmen La Isra mengalir deras ke pembinaan generasi muda. Dengan rela, ia mengeluarkan dana pribadi untuk mengongkosi tim Sepak Bola Satria Wakumoro FC hingga ke even nasional.

Tak hanya sepak bola, bantuan peralatan olahraga karate pun ia turunkan, sebuah investasi sunyi untuk membangun karakter dan prestasi anak-anak daerah.

Jauh sebelum menjadi anggota dewan, nama La Isra telah dikenal sebagai pejuang pendidikan dan olahraga. Ribuan siswa telah merasakan manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) yang disalurkannya. Komitmen ini menunjukkan konsistensi, baginya, politik yang baik adalah perpanjangan dari kepedulian yang tulus.

Sejak dilantik, tekad La Isra bukanlah sekadar menempati kursi, melainkan menjadi politisi yang negarawan. Visinya terpahat kuat, integritas, transparansi, dan yang terpenting, pendekatan partisipatif. Ia percaya, keputusan terbaik lahir dari perpaduan kearifan dewan dan denyut nadi masyarakat.

La Isra memilih jalur yang lebih sunyi, jalur yang dihiasi oleh hasil kerja nyata ketimbang tepuk tangan massa. Di tengah badai politik yang serba cepat, ia adalah pengingat bahwa negarawan sejati diukur dari seberapa banyak suara sunyi yang berhasil ia ubah menjadi simfoni kebijakan yang berpihak pada rakyat. Ia adalah pembaca yang saksama atas naskah kehidupan konstituennya, dan ia berkomitmen untuk menuliskan babak terbaik bagi daerahnya.

PENULIS: MAS’UD