
TEGAS. CO, BUTON- Mahasiswa Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah (APD) Semester V Universitas Muslim Buton melaksanakan praktikum Mata Kuliah Administrasi Pemerintahan Desa di Desa Banabungi, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, pada Sabtu, 22 November 2025. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–14.00 WITA ini diikuti 22 mahasiswa dengan didampingi dua dosen pengampu, Darmin Hasirun, S.Sos., M.Si. dan Nurdin, S.Sos., M.A.P.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Desa Banabungi, La Ode Mursalim Patu, yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran dosen dan mahasiswa UMB. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Desa Banabungi terus mendorong program yang berdampak langsung kepada masyarakat. Salah satu inovasi tersebut adalah pembangunan pemakaman umum desa yang sebelumnya masih bergabung dengan desa lain. Fasilitas ini kini telah memudahkan warga dalam penyelenggaraan layanan pemakaman.
Selain itu, Desa Banabungi mengembangkan BUMDes yang bergerak di bidang penyediaan jasa air bersih. Layanan ini telah menjangkau sekitar 400 kepala keluarga dengan tarif yang relatif lebih murah dibandingkan PDAM Kabupaten Buton. Keberhasilan ini ditopang oleh keberadaan mata air alami yang terjaga serta dukungan swadaya pemerintah desa dalam pengadaan peralatan operasional.
Dosen pengampu mata kuliah, Darmin Hasirun, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat pemerintah desa. Ia menjelaskan bahwa praktikum pemerintahan desa tahun ini telah dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Desa Lampanairi dan Desa Kamama Mekar di Kabupaten Buton Selatan, serta Desa Banabungi di Kabupaten Buton. Banabungi dipilih karena berbagai pertimbangan strategis, termasuk rekam jejaknya sebagai salah satu desa wisata nasional dengan ikon Kali Biru.
Darmin juga menyoroti nilai historis desa ini sebagai salah satu kadie pada masa Kesultanan Buton dan lokasinya yang menjadi area pelabuhan Aspal Buton hingga saat ini. Ia menilai pengelolaan mata air oleh BUMDes Banabungi sebagai bentuk inovasi yang layak menjadi contoh, mengingat banyak BUMDes di daerah lain tidak berjalan optimal karena rendahnya keuntungan.
Sesi diskusi interaktif antara mahasiswa dan Kepala Desa berlangsung dinamis. Mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan terkait kondisi pemerintahan sebelum inovasi diterapkan, dampak program terhadap masyarakat, serta kontribusi perusahaan aspal bagi desa. Antusiasme mahasiswa dalam menggali informasi lapangan menjadi salah satu poin penting dalam kegiatan ini.
Setelah diskusi, peserta mengunjungi lokasi-lokasi inovasi desa. Kunjungan dimulai dari sumber mata air utama yang menjadi basis layanan air bersih. Mahasiswa meninjau rumah mesin penyedot air yang baru, yang ditempatkan tepat di area mata air untuk mengatasi kendala pasokan dan meningkatkan efektivitas distribusi air ke rumah-rumah warga. Hasil kunjungan menunjukkan bahwa pemindahan rumah mesin dari lokasi sebelumnya memberikan dampak signifikan pada kelancaran layanan air bersih.
Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke destinasi wisata Kali Biru, ikon Desa Banabungi yang pernah mendapat dukungan pembangunan dari berbagai tingkatan pemerintah. Namun demikian, mahasiswa menemukan sejumlah tantangan dalam pengelolaannya, seperti bangunan yang belum tertata dan ketidakjelasan status pengelolaan antara pemerintah desa, pemerintah kabupaten, dan pihak perusahaan. Kondisi ini menjadi salah satu hambatan dalam revitalisasi optimal kawasan wisata tersebut.
Pada sesi penutup di kawasan Kali Biru, Kepala Desa Banabungi mengharapkan agar Universitas Muslim Buton dapat memberikan rekomendasi akademis terkait pengembangan potensi wisata desa. Ia juga mendorong pemerintah kabupaten untuk mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan Kali Biru sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Kegiatan praktikum ditutup dengan pesan bahwa pembelajaran berbasis lapangan seperti ini penting untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa sekaligus memberi kontribusi nyata bagi pengembangan desa.
Penulis: JSR