
TEGAS.CO, BAUBAU – Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kota Baubau memaparkan hasil kajian bertajuk “Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat” dalam seminar resmi yang digelar di Baubau.
Kajian tersebut menegaskan bahwa budaya lokal Buton memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara sistematis, inovatif, dan berkelanjutan.
Plt Kabid Sosial budaya ekonomi dan pemberdayaan masyarakat Azlim mengatakan, kajian dilakukan oleh beberapa tim ahli itu menggunakan dengan metode penelitian kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan FGD.
Dalam paparan, Balitbangda mengidentifikasi berbagai keunggulan budaya Baubau, mulai dari situs sejarah seperti Benteng Keraton Buton yang tercatat sebagai benteng terluas di dunia hingga warisan budaya takbenda berupa folklor, bahasa lokal, upacara adat, seni pertunjukan, hingga kuliner tradisional.
Tim menegaskan bahwa kekayaan budaya tersebut dapat menjadi fondasi kuat ekonomi kreatif, mulai dari kerajinan tangan, musik tradisional, kuliner lokal, hingga konten digital berbasis narasi budaya.
Kajian juga menyoroti berbagai kesenjangan, seperti minimnya data terintegrasi pelaku ekonomi kreatif, belum optimalnya perlindungan HAKI, ketiadaan creative hub yang memadai, keterbatasan pendampingan digital marketing, dan lemahnya regenerasi pelaku usaha budaya.
“Kondisi ini menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih terarah serta kolaborasi lintas sektor agar potensi budaya benar-benar dapat menjadi motor penggerak ekonomi daerah,” demikian salah satu poin paparan tim ahli.
Balitbangda Kota Baubau menyampaikan sejumlah rekomendasi prioritas, antara lain:
Pendirian Rumah Kreatif Baubau sebagai pusat integrasi seluruh sektor industri kreatif.
Penguatan digitalisasi, branding kolektif, dan narasi budaya melalui pelibatan content creator lokal.
Pembentukan koperasi kreatif serta skema produksi kolektif.
Penyediaan pembiayaan mikro inklusif tanpa agunan untuk pelaku kreatif.
Perlindungan Indikasi Geografis (IG) terhadap motif, teknik, dan produk unggulan budaya.
Integrasi produk lokal dalam kebijakan pariwisata dan event pemerintah.
Penguatan riset desain serta partisipasi pelaku budaya dalam pameran nasional.
Sementara itu, Kepala Balitbangda Kota Baubau, Dr. H. Rahmat Tuta, menegaskan bahwa hasil kajian ini akan menjadi pijakan strategis pemerintah daerah dalam memajukan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
“Baubau tidak hanya kaya budaya, tetapi memiliki identitas peradaban yang kuat. Tugas kita adalah memastikan nilai-nilai ini menjadi kekuatan ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Hasil kajian ini bukan sekadar rekomendasi; ini adalah peta jalan bagi pemerintah, komunitas, dan pelaku ekonomi kreatif untuk bergerak bersama,” ujar Dr. Rahmat Tuta.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi lintas OPD dan dukungan masyarakat akan menjadi kunci keberhasilan.
“Balitbangda siap mengawal tindak lanjut rekomendasi ini agar implementasinya terukur dan memberi dampak langsung bagi kesejahteraan warga,” tegasnya.
Melalui kajian ini, Pemerintah Kota Baubau menunjukkan komitmennya untuk menguatkan identitas budaya sebagai modal utama pembangunan ekonomi.
Pendekatan budaya tidak hanya melindungi warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang inovasi dan lapangan kerja baru bagi generasi muda.
Laporan: JSR