
TEGAS.CO, BAUBAU — Di tengah geliat ekonomi kreatif Sulawesi Tenggara, Ade Mardiya Muslim memilih kain sebagai bahasa perlawanan sunyi sekaligus media pelestarian budaya. Berangkat dari pengalaman sebagai dosen bahasa Inggris dan ASN di bidang pariwisata, ia menapaki jalan panjang yang akhirnya bermuara pada pengembangan tenun Buton sebagai identitas budaya sekaligus kekuatan ekonomi lokal.
Kedekatan Ade dengan tenun Buton berawal dari hampir satu dekade mendampingi wisatawan, mengunjungi kampung penenun, dan menyaksikan bagaimana selembar kain menyimpan narasi sejarah, struktur sosial, serta filosofi hidup masyarakat Wolio. Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa tenun bukan sekadar produk, melainkan bahasa leluhur, jejak kemandirian sandang, dan alat pelestarian identitas budaya.
Dalam perjalanannya, Ade menekankan pentingnya aspek wellness dan mindfulness dalam pekerjaan penenun. “Proses menenun menjaga kesehatan mental, karena melalui kesadaran penuh dan inspirasi alam — warna-warni motif dari tumbuhan yang punya khasiat — penenun mendapatkan ketenangan dan energi positif,” ujarnya. Cita-citanya, bahkan, adalah menghidupkan kembali praktik leluhur dengan menanam bahan tenun sendiri, sehingga kemandirian sandang berkelanjutan (sustainability) bisa terjaga.
Motif-motif Wolio pun diperlakukan sebagai arsip hidup: dari bulamalaka (jambu biji), kahawa, dalima, tombo, hingga manggopa, semuanya merupakan penanda jejak leluhur, menunjukkan tanaman dan kehidupan sekitar rumah mereka di masa lampau. Dari kesadaran ini lahirlah Hello Buton, yang mengubah motif-motif itu menjadi produk modern dengan cerita dan nilai budaya yang tetap melekat.
Kesuksesan awal AdeButon dalam desain kampurui modern membuka jalan diversifikasi produk, termasuk outer, tas, dan aksesori, sehingga satu kain bisa diakses oleh lebih banyak konsumen sekaligus meningkatkan permintaan bahan baku lokal. Pengakuan yang cukup membanggakan pun diraih ketika syal Hello Buton dikenakan Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana pada 2022, menegaskan pengakuan terhadap kekayaan budaya Buton.
Dalam menghadapi tantangan kualitas, ketersediaan waktu penenun, dan ketertarikan generasi muda, Ade menegaskan bahwa tenun harus memiliki fungsi ganda: estetika dan edukasi. Produk-produk tenun dirancang agar mampu menyampaikan sejarah, identitas, dan nilai-nilai budaya Buton, sekaligus menjadi medium mindfulness bagi penenun dan konsumen.
Dengan integrasi antara riset budaya, kolaborasi desain, dan pemasaran yang strategis, Ade berharap dukungan pemerintah dapat lebih berkelanjutan dan nyata, agar penenun lokal dan pelaku kreatif dapat tumbuh sambil menjaga akar sejarah mereka.
Laporan: JSR