
KENDARI, TEGAS.CO – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ir. Hugua, menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) DPP GUPPI yang dirangkaikan dengan Ummusshabri International Expo & International Congress 2026.
Acara yang mengusung tema “United The World By Giving Insight Through Education in Digital Era” ini berlangsung di Hotel Plaza Inn Kendari, Sabtu (10/1/2026).
Kegiatan berskala internasional ini turut dihadiri langsung oleh Menteri Pendidikan RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Ketua Umum DPP GUPPI Prof. dr. Faisal Jalal, Sekretaris Daerah Provinsi Sultra, jajaran Kepala OPD, rektor perguruan tinggi se-Kota Kendari, serta delegasi internasional dari Turki, Filipina, Malaysia, Tiongkok, dan Australia.
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Prof. Abdul Mu’ti memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas pendidikan yang diterapkan oleh Ummusshabri.
“Apabila seluruh sekolah di Indonesia memiliki kualitas seperti Ummusshabri, maka tugas Menteri Pendidikan akan jauh lebih ringan,” ujarnya.
Meski mengapresiasi kemajuan yang ada, Menteri Mu’ti menekankan bahwa Indonesia masih menghadapi tiga persoalan mendasar yang harus segera dituntaskan.
Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini 👇👇👇👍
Pertama, masalah akses dan mutu pendidikan. Kendati Pasal 31 UUD 1945 menjamin hak pendidikan, masih banyak anak Indonesia yang terkendala fasilitas minim atau belum mendapatkan haknya karena faktor ekonomi, geografis, hingga keamanan.
“Kementerian Pendidikan mengusung visi ‘Pendidikan Bermutu untuk Semua’ sebagai komitmen menjalankan Asta Cita Presiden,” tegasnya.
Kedua, krisis karakter generasi muda. Menteri menyoroti fenomena “Generasi Strawberry”—generasi yang fisik tampak kuat namun rapuh secara mental. Hal ini tercermin dari meningkatnya gangguan kesehatan mental dan kasus bunuh diri di kalangan Gen Z.
Ketiga, dampak negatif teknologi digital. Masalah seperti kecanduan gawai, cyberbullying, hingga kekerasan akibat pengaruh media sosial menjadi perhatian serius.
Pemerintah bahkan tengah mengkaji evaluasi terhadap platform digital tertentu yang memuat konten kekerasan dan penyimpangan.
“Penguasaan AI dan coding adalah keharusan, namun harus dibarengi dengan digital civility (keadaban digital) dan tanggung jawab moral,” tambah Mu’ti.
Menteri juga memaparkan konsep Deep Learning yang tidak hanya mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi, tetapi juga mencakup deep reading dan deep thinking (tafakkur dan tadabbur).
Ia menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman sebagai “rumah kedua” bagi siswa.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sultra, Ir. Hugua, menyambut hangat kehadiran Menteri Pendidikan sebagai bentuk kepercayaan pemerintah pusat kepada daerah.
Menanggapi konsep Deep Learning, Hugua mengaitkannya dengan Theory U yang dikembangkan Otto Scharmer dan Peter Senge dari MIT.
Menurutnya, pendidikan masa depan harus holistik, menghubungkan manusia dengan dirinya sendiri, sesama, Tuhan, dan alam semesta.
“Esensi pendidikan adalah membantu peserta didik memahami jati dirinya dan berkontribusi bagi ekosistem. Jika ini terwujud, kita tidak hanya mencetak individu cerdas, tetapi manusia yang berkarakter dan berempati,” jelas Hugua.
Acara ini diharapkan dapat melahirkan gagasan strategis untuk mendorong kemajuan pendidikan Indonesia di kancah global.
PUBLISHER: MAS’UD