Berita UtamaWakatobi

Ironi di Perairan Kabaena, Mengapa Laporan “Lost Contact” Selalu Terlambat?

×

Ironi di Perairan Kabaena, Mengapa Laporan “Lost Contact” Selalu Terlambat?

Sebarkan artikel ini
Ironi di Perairan Kabaena, Mengapa Laporan "Lost Contact" Selalu Terlambat?
Ironi di Perairan Kabaena, Mengapa Laporan “Lost Contact” Selalu Terlambat?

BOMBANA, TEGAS.CO โ€“ Kasus hilangnya nelayan di perairan Sulawesi Tenggara kembali berulang, mengungkap pola klasik yang mengkhawatirkan: keterlambatan laporan dan minimnya standar keselamatan pelayaran mandiri.

Dua warga Desa Napa, La Angga (50) dan Renal (20), dilaporkan hilang kontak setelah bertolak dari Pelabuhan Rakyat Dongkala menuju Mawasangka sejak Sabtu (14/02).

Iklan NasDem Sultra

Mirisnya, informasi ini baru sampai ke meja Comm Centre KPP Kendari pada Minggu malam (15/02) pukul 18.50 WITA, hampir 29 jam sejak keduanya dinyatakan berangkat.

Berdasarkan data kronologis, korban seharusnya tiba di tujuan dalam waktu tiga jam.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘

Namun, upaya pencarian mandiri oleh keluarga dan masyarakat yang berlangsung selama satu hari penuh berakhir nihil, sebelum akhirnya memutuskan menghubungi Basarnas.

Keterlambatan laporan ini menjadi kritik keras bagi pola mitigasi bencana di tingkat akar rumput.

Dalam operasi Search and Rescue (SAR), setiap menit sangat berharga.

Jeda waktu satu hari bukan sekadar angka; itu adalah risiko pergeseran posisi korban akibat arus yang semakin jauh dari titik perkiraan awal (LKP).

Kondisi Cuaca dan Respons Tim
Padahal, merujuk data BMKG, kondisi cuaca di lokasi tergolong bersahabat, Cuaca, Cerah. Tinggi Gelombang, 0,75 meter, Kecepatan Angin 9 km/jam.

Dengan kondisi laut yang tenang, muncul pertanyaan besar: apakah longboat yang digunakan telah memenuhi standar kelaikan? Ataukah edukasi mengenai pentingnya alat komunikasi satelit atau minimal life jacket masih menjadi barang mewah bagi pelayar antar-pulau kita?

Operasi Penyelamatan Dimulai
Kepala KPP Kendari, Amiruddin A.S, mengonfirmasi bahwa Tim Rescue Pos SAR Baubau telah diberangkatkan pada pukul 19.05 WITA menggunakan kapal RB 210.

“Jarak tempuh ke LKP duga sekitar 28 NM. Kami mengerahkan personel dari Pos SAR Baubau didukung peralatan evakuasi dan medis lengkap,” ujar Amiruddin.

Meski tim SAR kini tengah berpacu dengan waktu, kejadian ini harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan otoritas pelabuhan rakyat.

Pengetatan manifes keberangkatan dan kewajiban alat keselamatan pada kapal-kapal kecil bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar laut kita tidak terus-menerus memakan korban akibat kelalaian sistematis.

PUBLISHER: MAS’UD