
KENDARI, TEGAS.CO โ Anggota Komisi I DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), H. Fajar Ishak, DJ., SE., MH, menyayangkan sikap staf Humas PT Vale Indonesia Blok Pomalaa yang mengeluarkan (remove) wartawan Tegas.co dari grup kemitraan WhatsApp pada Jumat (13/3/2026).
Tindakan tersebut diduga merupakan reaksi emosional dan tidak etis pihak perusahaan terhadap pemberitaan terkait kericuhan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Sultra beberapa waktu lalu.
Sikap Reaktif yang Tidak Profesional
Menurut Fajar Ishak, tindakan mengeluarkan jurnalis dari grup komunikasi resmi karena pemberitaan yang kritis adalah langkah yang tidak elegan dan terkesan anti kritik.
Ia menegaskan, jika perusahaan merasa ada pemberitaan yang tidak sesuai fakta, seharusnya mereka menempuh jalur klarifikasi atau memberikan bantahan secara resmi, bukan dengan memutus saluran komunikasi.
Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐๐๐๐
“Harusnya jika pemberitaan dianggap tidak sesuai fakta, mestinya itu dibantah oleh pihak PT Vale, dalam hal ini Humasnya. Jangan langsung me-delete anggota grup akibat pemberitaan itu. Ini cara-cara yang tidak elegan,” tegas Fajar Ishak dalam pernyataannya.
Fajar juga menyoroti akar permasalahan yang muncul saat RDP Selasa (10/3/2026) lalu.
Ia menilai Senior Manager External Relations PT Vale, Hasmir, seharusnya memberikan penjelasan yang lebih jernih mengenai duduk perkara lahan, bukannya mengeluarkan pernyataan yang justru memicu emosi keluarga pemilik lahan.
Dalam RDP tersebut, Hasmir menyebut pemilik lahan, Ibu Hanuria, merasa kaget dengan adanya RDP.
Pernyataan ini dibantah keras oleh anak kandung Ibu Hanuria yang hadir dalam rapat hingga sempat terjadi aksi gebrak meja karena merasa orang tuanya dipolitisasi oleh narasi perusahaan.
“Seharusnya Pak Hasmir sebagai Humas Senior membuat pernyataan tersendiri yang menjelaskan persoalannya, mengapa dia berucap seperti itu. Bukan malah menghindar dari kritik dengan mengeluarkan wartawan,” tambah Fajar.
Desakan Evaluasi Manajemen Humas
Tindakan staf Humas PT Vale, Suwarni, yang mengeluarkan wartawan atas perintah atasan, memicu desakan dari berbagai pihak agar manajemen PT Vale Indonesia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran komunikasinya di Blok Pomalaa.
Sikap defensif dan tertutup ini dinilai mencederai semangat keterbukaan informasi dan kemitraan antara korporasi dengan media massa di Sulawesi Tenggara.
Hingga saat ini, persoalan dugaan penyerobotan lahan dan pencemaran lingkungan oleh PT Vale di Kolaka masih terus bergulir tanpa kesepakatan konkret antara warga dan perusahaan.
PUBLISHER: MAS’UD