
TEGAS.CO., MUNA – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi yang kian kencang, Kabupaten Muna di Sulawesi Tenggara seakan memiliki cara tersendiri untuk menjaga detak jantung budayanya.
Salah satu pesona yang tak lekang oleh waktu adalah Tari Linda. Lebih dari sekadar gerak tubuh, Linda adalah sebuah narasi tentang kedewasaan, kehormatan, dan identitas perempuan Muna yang telah diwariskan turun-temurun sejak zaman Kerajaan Muna.
Nama “Linda” sendiri secara harfiah berarti “menari sambil berkeliling”. Namun, jangan terkecoh dengan kesederhanaan namanya. Tari ini merupakan ritual sakral yang dulunya wajib dilakukan oleh para gadis remaja (Kalambe) dalam rangkaian upacara Karia.
Karia adalah prosesi pingitan tradisional bagi perempuan Muna yang menandakan transisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Di sinilah Tari Linda memegang peran krusial.
Gerakannya yang tenang dan penuh kontrol melambangkan pengendalian diri, kesabaran, dan ketenangan batin yang harus dimiliki oleh seorang perempuan dewasa dalam mengarungi bahtera kehidupan.
Saat menyembul di panggung atau pelataran istana, penari Linda biasanya mengenakan busana khas Muna yang mencolok namun elegan:
- Bhadu: Baju atasan dengan warna-warna cerah.
- Kaboruko: Sarung tenun khas Muna yang melilit pinggang dengan motif yang kaya akan makna.
- Palu: Hiasan kepala yang menyerupai mahkota, melambangkan kehormatan.
- Kamba: Perhiasan emas yang menjuntai di telinga dan leher.
Iringan musiknya pun unik. Bunyi Kanda-kanda (gendang) yang bertalu-talu berpadu dengan melodi Gong menciptakan atmosfer yang magis. Uniknya, gerakan tangan penari yang mengikuti irama musik sering kali terlihat seperti sayap burung yang mengepak perlahan, sebuah simbol kebebasan yang tetap terikat pada etika dan norma adat.
Seiring berjalannya waktu, fungsi Tari Linda mengalami perluasan. Jika dulu hanya dipentaskan dalam ruang-ruang sakral upacara Karia, kini Linda sering muncul sebagai tarian penyambutan tamu kehormatan (Momae) atau dalam festival budaya berskala internasional.
Pemerintah Kabupaten Muna terus berupaya agar tarian ini tidak sekadar menjadi artefak sejarah. Melalui sanggar-sanggar seni dan ekstrakurikuler di sekolah, generasi muda Muna diajak untuk tidak hanya menghafal gerak, tetapi juga meresapi nilai-nilai luhur di dalamnya.
“Menari Linda bukan hanya soal kaki yang melangkah atau tangan yang meliuk,” ujar salah satu maestro tari di Raha.
Ini adalah soal menjaga martabat. Saat seorang gadis menari Linda, ia sedang menunjukkan pada dunia bahwa ia siap menjadi pilar bagi keluarganya kelak.
Menyaksikan Tari Linda adalah sebuah perjalanan spiritual. Ada rasa haru melihat bagaimana tradisi yang lahir dari rahim kerajaan kuno masih tetap tegak berdiri di era artificial intelligence.
Ia adalah pengingat bahwa seberapa jauh pun kita melangkah ke masa depan, akar adalah tempat kita kembali untuk memahami siapa diri kita sebenarnya.
Bagi Anda yang berkesempatan mengunjungi Bumi Muna, jangan lewatkan momen ketika para penari Linda mulai melangkah. Di sana, dalam setiap putaran dan kerlingan mata, Anda akan menemukan jiwa masyarakat Muna yang lembut namun kokoh, persis seperti anyaman serat alam yang menjadi kebanggaan mereka.
Penulis: Yusrif