Berita UtamaKendari

Urgensi Normalisasi, Langkah Strategis Pemkot Kendari Pulihkan Fungsi Sungai

96
×

Urgensi Normalisasi, Langkah Strategis Pemkot Kendari Pulihkan Fungsi Sungai

Sebarkan artikel ini
Urgensi Normalisasi, Langkah Strategis Pemkot Kendari Pulihkan Fungsi Sungai

TEGAS.CO, KENDARI – Persoalan banjir di Kota Kendari bukan lagi sekadar tamu tahunan, melainkan tantangan struktural yang telah mengakar selama puluhan tahun. Pada Senin (13/4/2026), Wali Kota Kendari, dr. Hj. Siska Karina Imran, melakukan inspeksi mendalam terhadap proyek normalisasi sungai yang tengah digarap oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV.

Langkah ini menandai upaya serius pemerintah daerah dalam membedah “penyakit” drainase kota yang selama ini luput dari penanganan komprehensif.

Fokus utama peninjauan dimulai dari kawasan Eks MTQ, jantung aktivitas publik yang ironisnya menjadi pelanggan setia genangan air. Temuan di lapangan mengungkap fakta krusial: penyempitan aliran sungai (bottleneck) di ruas Kali Korumba.

Penyempitan ini mengakibatkan kapasitas tampung sungai menurun drastis saat curah hujan tinggi. Air yang seharusnya mengalir ke hilir justru terhambat, menciptakan tekanan balik yang memicu luapan ke area pemukiman dan pusat bisnis di sekitarnya.

“Penyempitan aliran membuat air tidak mengalir optimal. Ini salah satu titik yang memang perlu segera ditangani secara permanen,” tegas Siska di lokasi.

Masalah tidak berhenti pada penyempitan fisik. Di sepanjang jalan Edisabara By Pass, pemandangan alat berat ekskavator amfibi yang tengah mengeruk lumpur menjadi bukti nyata pembiaran infrastruktur selama bertahun-tahun.

Tiga kendala utama yang teridentifikasi:

  • Sedimentasi Masif: Endapan lumpur di Kali Korumba telah menumpuk tebal akibat absennya pengerukan berkala dalam jangka waktu lama.
  • Vegetasi Liar: Di Kali Mandonga (depan Hotel Kubra), bantaran sungai justru beralih fungsi menjadi kebun pisang dan ditumbuhi semak belukar yang menghambat akses pemeliharaan.
  • Konektivitas Aliran: Tersumbatnya aliran di Kali Korumba berdampak langsung pada debit air di Kali Mandonga, menciptakan efek domino banjir di sepanjang jalur tersebut.

Upaya normalisasi kali ini menonjolkan aspek kolaborasi lintas instansi. Libatnya Sekda, Bappeda, PUPR, hingga Satpol PP menunjukkan bahwa normalisasi bukan sekadar masalah teknis pengerukan, tapi juga terkait tata ruang dan penegakan aturan di bantaran sungai.

Pemkot memiliki rencana aksi jangka pendek dan panjang:

  1. Pelebaran Ruas: Memperluas titik-titik sungai yang menyempit untuk mengembalikan fungsi hidrologis alami.
  2. Pengerukan Intensif: Pembersihan sedimen hingga ke dasar sungai asli menggunakan armada alat berat BWS.
  3. Restorasi Bantaran: Membersihkan tanaman liar dan aktivitas pertanian ilegal di pinggiran sungai guna memperlancar arus.

Apresiasi Wali Kota terhadap gerak cepat BWS Sulawesi IV menjadi sinyal positif. Namun, tantangan sesungguhnya adalah keberlanjutan. Normalisasi yang dilakukan saat ini diproyeksikan dapat menekan risiko genangan di kawasan Eks MTQ secara signifikan.

Masyarakat Kendari kini menanti apakah langkah ini akan menjadi awal dari sistem drainase kota yang benar-benar berkelanjutan, atau sekadar solusi sementara sebelum sedimen kembali menutup aliran di musim penghujan mendatang.

Transformasi Kendari menuju kota bebas banjir kini bergantung pada konsistensi pemeliharaan pasca-pengerukan ini selesai dilakukan.

Publisher: Redaksi