OLEH: MAS’UD ( Wartawan senior )
Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Konawe membawa pesan penting mengenai bagaimana sebuah investasi besar seharusnya bekerja.
Di tengah deru mesin tambang Kecamatan Routa, muncul sebuah narasi baru yang menyegarkan: bahwa kekayaan alam yang dikelola tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga memicu transformasi sumber daya manusia (SDM).
Langkah PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang menggelontorkan miliaran rupiah untuk sektor pendidikan di wilayah lingkar tambang adalah sebuah oase.
Angka Rp4,1 miliar untuk renovasi SDN Lalomerui dan SDN Wiwirano Atas, serta alokasi beasiswa yang menyentuh angka Rp1,5 miliar, bukanlah sekadar angka statistik dalam laporan Corporate Social Responsibility (CSR).
Ini adalah investasi jangka panjang untuk memutus rantai ketertinggalan di wilayah pelosok. Selama ini, persoalan klasik di wilayah lingkar tambang adalah ketimpangan.

Infrastruktur fisik perusahaan seringkali berbanding terbalik dengan kualitas fasilitas publik di sekitarnya.
Namun, pembangunan rumah dinas guru, ruang komputer, hingga kantin sehat oleh PT SCM menunjukkan adanya pergeseran paradigma.
Perusahaan tampaknya sadar bahwa operasional yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika masyarakat lokal sebagai pemangku kepentingan utama tumbuh bersama kemajuan perusahaan.
“Kehadiran investasi bukan lagi soal berapa ton material yang digali, melainkan seberapa banyak anak bangsa yang bisa kembali ke bangku sekolah.”
Keberhasilan menjaring 136 mahasiswa penerima beasiswa hingga tahun 2026 adalah bukti bahwa antusiasme pendidikan di Routa sangatlah tinggi.
Jika dahulu tokoh masyarakat seperti Darmon harus puas hanya dengan ijazah SD karena keterbatasan akses, kini generasi penerusnya memiliki tiket untuk bermimpi hingga ke perguruan tinggi di Makassar maupun wilayah lain di Indonesia.
Namun, tantangan terbesar dari program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) seperti ini adalah keberlanjutan.


Insentif bagi 45 guru honorer dengan anggaran Rp737 juta adalah bantuan yang sangat krusial, mengingat guru adalah garda terdepan pendidikan.
Pertanyaannya, bagaimana sinergi ini dapat terus dipertahankan agar tidak terjadi ketergantungan mutlak pada korporasi?
Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi vital. Dukungan Bupati Konawe dan jajaran Forkopimda dalam seremoni Hardiknas lalu harus dibaca sebagai komitmen kolaboratif.
Pemerintah perlu memastikan bahwa bantuan fisik dari sektor swasta ini dibarengi dengan peningkatan kurikulum dan penempatan tenaga pendidik yang berkualitas secara merata.
Kita harus mengapresiasi keberanian PT SCM untuk memprioritaskan pendidikan di atas sekadar bantuan konsumtif.
Apa yang dilakukan di Routa adalah sebuah preseden baik. Bahwa tambang boleh saja mengeruk nikel dari bumi, tetapi secara bersamaan, mereka juga harus “menanam” ilmu pengetahuan di dalam pikiran generasi mudanya.
Jika investasi pendidikan ini dikawal dengan konsisten, maka beberapa tahun ke depan, kita tidak akan lagi melihat warga Routa hanya sebagai penonton di tanah sendiri.
Mereka akan kembali sebagai sarjana, teknisi, dan pemimpin yang siap mengelola daerahnya dengan tangan mereka sendiri. Itulah sejatinya makna kemerdekaan belajar di lingkar tambang.
