
KENDARI, TEGAS.CO – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tengah menyusun strategi untuk mengatasi defisit produksi telur di wilayah Sultra.
Salah satu langkah yang diambil adalah mendorong masyarakat untuk menjadi peternak mandiri guna memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distannak Sultra, Abdul Rahim Indu mengungkapkan, ketergantungan pasokan telur dari luar daerah masih cukup tinggi.
Hal ini disebabkan oleh jumlah populasi peternak ayam petelur di Sultra yang masih belum memadai untuk mencapai swasembada.
“Kita mendorong masyarakat untuk melahirkan peternak-peternak baru. Memang budidaya ini memerlukan waktu, tapi kita mulai dari skala kecil dulu agar masyarakat paham cara beternak yang baik,” ujar Abdul Rahim saat ditemui di Kendari, Selasa (12/5/2026).
Untuk mendukung para peternak, pemerintah telah mengupayakan ketersediaan bahan baku pakan, salah satunya melalui kuota jagung SPHP.
“Alhamdulillah, tahun ini kita mendapatkan kuota 1.500 ton jagung SPHP untuk mendukung kebutuhan pakan peternak kita,” tambahnya.
Terkait usulan pembangunan pabrik pakan mini dari berbagai pihak, Abdul Rahim memberikan catatan kritis.
Menurutnya, pengelolaan pabrik pakan tidak semudah yang dibayangkan karena terbentur aturan regulasi, sertifikasi, serta analisis bisnis yang ketat.
“Pakan itu menyumbang 70-80 persen biaya produksi. Potensinya besar, tapi kita punya pengalaman pabrik pakan mini sering berakhir menjadi rongsokan karena tidak matang dalam analisis pasar dan ketersediaan bahan baku yang berkesinambungan,” jelasnya.
Abdul Rahim juga menyoroti adanya anomali harga di lapangan, di mana harga jagung tinggi namun harga telur justru jatuh.
Hal ini disinyalir terjadi akibat adanya gangguan mekanisme pasar atau masuknya pasokan telur dalam jumlah besar dari luar daerah.
Ia mengimbau kepada masyarakat yang ingin terjun ke dunia peternakan agar tidak hanya tergiur oleh keuntungan semata, tetapi juga siap menghadapi risiko tinggi seperti serangan penyakit.
“Peternakan itu usaha modal besar, risiko tinggi. Harus belajar dulu, mulai dari skala kecil. Jika sudah punya pengalaman dan keterampilan yang bagus, barulah usahanya diperbesar secara bertahap,” pungkasnya.
Saat ini, Distannak Sultra terus melakukan pengawasan ketat terhadap lalu lintas perdagangan telur antar daerah guna memastikan kesehatan dan kelayakan konsumsi bagi masyarakat Sultra.
PUBLISHER: MAS’UD