Berita UtamaKendariNasional

Komdigi RI dan Dewan Pers Gelar Insight Talks di Kendari, Jurnalis Beri ‘Makan’ AI

390
×

Komdigi RI dan Dewan Pers Gelar Insight Talks di Kendari, Jurnalis Beri ‘Makan’ AI

Sebarkan artikel ini

 

Komdigi dan Dewan Pers Gelar Insight Talks di Kendari, Jurnalis Beri 'Makan' AI
Foto bersama sebelum menggelar kegiatan Insight Talks Volume 4 bertema “Literasi Media: Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial” di Swiss-Belhotel Kendari, Rabu, 13 Mei 2026. Dari kanan, Yogi Hadi Ismanto, Ketua Komisi Penelitian, Pendataan & Ratifikasi Pers, Dewan Pers, Iis Zatnika, Asisten Kepala Divisi Pemberitaan, Media Indonesia, Farida Dewi Maharani, Direktur Ekosistem Media, Komdigi (Keynote Speech) dan Ricky Ramadhan R, Dosen FISIP Universitas Halu Oleo & Certified AI Trainer. Foto: MAS’UD

KENDARI, TEGAS.CO – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Dewan Pers menggelar kegiatan Insight Talks Volume 4 bertema “Literasi Media: Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial” di Swiss-Belhotel Kendari, Rabu, 13 Mei 2026.

Kegiatan itu menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidang media dan teknologi digital.

Hadir sebagai Keynote Speech, Direktur Ekosistem Media Komdigi Farida Dewi Maharani serta dua narasumber utama yakni Ketua Komisi Penelitian, Pendataan dan Ratifikasi Pers Dewan Pers Yogi Hadi Ismanto dan Asisten Kepala Divisi Pemberitaan Media Indonesia Iis Zatnika.

Turut hadir sebagai pemateri workshop Ricky Ramadhan R,  Dosen FISIP Universitas Halu Oleo sekaligus Certified AI Trainer.

Kegiatan ini juga disertai Workshop Produksi Konten bertajuk “Digitalisasi Perlinsos”.

Dalam pemaparannya, Yogi Hadi Ismanto menekankan, data yang diproduksi para jurnalis selama ini menjadi bahan baku utama mesin kecerdasan buatan.

Ia mengingatkan agar insan pers tidak hanya menjadi penyuplai data tanpa mendapat manfaat ekonomi yang sepadan.

“Bahan baku AI itu adalah data. Data yang diproduksi oleh teman-teman sendiri. Kalau jurnalis, dia beritanya. Kita sudah capek ngeliput, jangan sampai dimanfaatkan oleh AI dan itu dikomersilkan, teman-teman tidak dapat apa-apa, padahal kita yang beri makan AI,” tegas Yogi.

Ia menganalogikan kondisi industri pers saat ini dengan transformasi industri musik, mulai dari era piringan hitam, kaset, CD, hingga platform streaming seperti Spotify.

Menurutnya, pers Indonesia tengah berada di fase yang sama dengan industri musik saat bertransisi ke era digital sedang mencari bentuk dan model bisnis baru.

“Media ini sedang mengalami pemurnian. Seperti hasil tambang yang dimurnikan untuk menjadi sesuatu yang indah. Memang menyakitkan, tapi akan menghasilkan sesuatu yang bagus berikutnya,” ujar Yogi yang juga menyebut bahwa Dewan Pers telah menerbitkan Peraturan Dewan Pers Nomor 1 Tahun 2025 sebagai pedoman penggunaan AI dalam jurnalisme.

Yogi juga menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti nurani jurnalis.

“Jangan alergi sama AI. Pelajari, gunakan sebagai asisten untuk mempercepat kerja, tapi tetap jaga etik karena AI tidak punya nurani, AI tidak punya kode etik jurnalistik. Yang punya itu adalah manusia, adalah teman-teman semua,” pungkasnya.

Narasumber lainnya, Iis Zatnika, menyoroti pemanfaatan teknologi AI dalam praktik jurnalisme sehari-hari, salah satunya aplikasi transkripsi berbasis AI, TurboScribe.

Ia menilai aplikasi tersebut sudah teruji dan memiliki keunggulan dibanding aplikasi voice-to-text biasa karena mampu menangkap suara dengan baik meski perangkat diletakkan di atas meja.

Iis juga mengangkat isu hak cipta konten jurnalistik di era AI, merujuk pada langkah New York Times di Amerika Serikat yang tengah bernegosiasi dengan perusahaan AI agar mendapat kompensasi ketika konten berita mereka digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan.

“Meskipun di Indonesia negosiasi semacam itu belum terjadi secara formal, ini menjadi harapan besar agar karya jurnalistik tidak hanya diambil sebagai bahan data mesin tanpa kompensasi,” ungkap Iis.

Ia juga menekankan, meski proses jurnalisme dapat dibantu AI, peliputan tetap harus dilakukan reporter secara langsung.

Seluruh konten yang melibatkan AI wajib melewati tahap penyuntingan, verifikasi data, dan penilaian editorial redaksi sebelum dipublikasikan.

Iis Zatnika yang sebelumnya mengikuti sesi pertama Insight Talks di Banda Aceh mengaku terkesan dengan antusiasme peserta media di Kendari.

Ia pun berpesan agar seluruh peserta mengikuti sesi hingga tuntas, termasuk materi dari Ricky Ramadhan selaku expert dan trainer AI.

Kegiatan Insight Talks Vol. 4 Kendari ini terbuka gratis bagi seluruh peserta dengan sejumlah fasilitas menarik berupa free lunch, e-sertifikat dan doorprize menarik. (- + ai)

PUBLISHER: MAS’UD