
Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah lanskap hiburan secara drastis.
Jika dahulu panggung ekspresi hanya milik segelintir orang yang lolos audisi televisi, hari ini, ruang tamu, dapur, bahkan sudut kamar tidur bisa menjelma menjadi panggung megah bagi siapa saja.
Salah satu fenomena yang paling menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir adalah menjamurnya konten lip-sync dan menari tipis-tipis yang dilakukan oleh kelompok yang sering disebut sebagai “bunda-bunda TikTok.”
Sebuah video singkat dari akun @bunda_lenny86 menjadi representasi akurat dari tren ini.
Mengenakan pakaian rumahan sejenis daster bermotif tradisional dengan aksen renda, ia tampil rapi dengan riasan wajah lengkap dan rambut yang disanggul modern.
Diiringi lagu melankolis bergenre pop-dangdut eletronik, ia memperagakan gestur tubuh, senyuman, kedipan mata, hingga gerakan tangan yang selaras dengan lirik lagu tentang ketegaran menghadapi cemoohan orang lain.
Bagi sebagian pengamat sosial yang sinis, konten seperti ini kerap dipandang sebelah mata, dianggap sebagai bentuk pencarian eksistensi yang dangkal atau sekadar pengisi waktu luang yang kurang produktif.
Namun, jika kita membedahnya dengan kacamata jurnalistik dan sosiologis yang lebih dalam, fenomena ini menyimpan narasi yang jauh lebih kompleks tentang emansipasi digital dan katarsis emosional.
Daster, secara tradisional di Indonesia, sering kali dilekatkan dengan domestifikasi perempuan—simbol kesibukan mengurus rumah tangga, memasak, dan mengasuh anak yang jauh dari kesan glamor.
Namun, lewat platform seperti TikTok, para Ibu Rumah Tangga berhasil melakukan “reklamasi” terhadap simbol tersebut.
Ketika seorang perempuan berdaster tampil percaya diri di depan kamera dengan riasan wajah yang apik, ia sedang meruntuhkan stigma bahwa IRT tidak boleh atau tidak sempat memperhatikan dirinya sendiri.
Di sinilah platform digital hadir sebagai ruang katarsis. Aktivitas pembuatan konten ini menjadi medium jeda dari rutinitas domestik yang monoton dan melelahkan.
Pilihan lagu dan gestur dalam video tersebut juga menarik untuk ditelaah.
Lirik yang mengekspresikan tentang bagaimana seseorang tetap bertahan dan mencoba bangkit meski “dicaci” dan “dihina” oleh lingkungan sekitar, sering kali beresonansi kuat dengan realitas sosial yang dihadapi perempuan di dunia nyata.
Ibu rumah tangga kerap menjadi sasaran empuk penghakiman sosial ( social judgment ), baik dari lingkungan tetangga maupun keluarga sendiri mengenai cara mereka mengurus rumah atau mendidik anak.
Dengan melakukan lip-sync pada lagu-lagu bertema ketegaran, para kreator konten ini sebenarnya sedang menyuarakan isi hati mereka secara tidak langsung.
Gestur senyuman dan lambangan tangan “bisa” atau “biarkan saja” menjadi bentuk resistensi simbolis terhadap tekanan sosial tersebut.
Panggung Validasi yang Berdaulat
Pada akhirnya, fenomena “bunda-bunda TikTok” ini bukan sekadar tentang joget digital atau mencari likes.
Ini adalah tentang perebutan ruang ekspresi. Di dunia nyata, suara mereka mungkin sering kali terabaikan atau dianggap sebagai angin lalu dalam domestifikasi.
Namun di dunia maya, mereka memegang kendali penuh atas panggung mereka sendiri.
Melalui layar gawai, mereka tidak hanya menghibur diri sendiri, melainkan juga membangun komunitas organik sesama perempuan yang saling memberikan validasi melalui kolom komentar.
Ini adalah bentuk kedaulatan baru bagi ibu rumah tangga di era digital. Sebuah panggung kecil di mana mereka bisa menjadi bintang utama, tanpa harus menanggalkan identitas mereka sebagai seorang ibu yang mengenakan daster.

Eksaminasi Kolom Komentar
Dinamika yang terjadi di panggung digital ini tidak lengkap tanpa membedah apa yang terjadi di kolom komentar.
Ruang interaksi ini menjelma menjadi mikrokosmos dari bagaimana masyarakat memandang konten para ibu rumah tangga.
Ada tiga pola interaksi menarik yang tertangkap di sana yakni, Hiper-Fokus pada Fisik (Gaze Warganet).
Komentar dari akun cinta selfi yang menuliskan, “alisnya tinggi sebelah kak,” menunjukkan bagaimana audiens media sosial sering kali melakukan kurasi visual yang sangat ketat.
Alih-alih fokus pada pesan lagu atau ekspresi secara keseluruhan, warganet cenderung mencari “celah” atau ketidaksempurnaan fisik terkecil dari sang kreator.
Ini membuktikan bahwa panggung digital, sekecil apa pun, tetap membawa beban tuntutan visual yang tinggi bagi perempuan.
Menariknya, kritik visual tersebut langsung direspons oleh warganet lain, seperti akun Rosnah Aerobic yang membalas, “yaahhh kasian dah, gk bisa bedain expresi yaa 😁…”.
Komentar defensif ini menunjukkan adanya rasa kepemilikan dan solidaritas dari sesama pengguna platform.
Mereka memahami bahwa “alis tinggi sebelah” bukanlah kecacatan dalam berdandan, melainkan bagian dari mimik muka atau akting emosional yang sengaja diperagakan mengikuti ketukan lagu.
Kolom komentar berubah menjadi ruang di mana warganet saling mengedukasi cara mengapresiasi sebuah konten.
Di sisi lain, komentar dari susan yang menanyakan, “judul lagunya apa bun,” menegaskan fungsi dasar TikTok sebagai media hiburan dan penemuan budaya baru.
Di sini, sang kreator konten berhasil bertindak sebagai influencer mikro yang memperkenalkan karya musik kepada audiens yang lebih luas, memicu interaksi positif yang berbasis pada kesamaan selera.
Komentar lain pun berseloroh serta like yang mencapai puluhan ribu. Adapun lirik lagu Lip-Sync dalam musik konten tiktok @bunda_lenny86 adalah:
“Di saat… aku terjatuh
Semua… menghilang
Di saat… ku terluka
Kamu… di mana?
Di saat… ku bahagia
Semua… mendekat
Di saat… ku berdaya
Kamu… setia
Menangis… menangis sendiri
Tak ada… yang menemani
Ku coba bangkit sendiri
Sakit pun… tetap sendiri…
Biar kan… orang tertawa
Mencaci… juga menghina
Ku akan… teruskan terbang
Sambil… tersenyum…”.
PENULIS: MAS’UD/AI