
tegas.co., YOGYAKARTA – Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Jum’at (7/7/2017) menggelar Syawalan. Ketua PMI, GBPH Parbukusumo atau Gusti Prabu, dalam kesempatan tersebut menekankan arti pentingnya keberagaman dan kebhinekaan dirajuk dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kondisi bangsa kita saat ini sangatlah rentan, sehingga saya melihat bagaimana tokoh-tokoh nasional kita selalu mengajak semua elemen masyarakat untuk saling bertoleransi sesama suku, ras, dan agama dalam bingkai keberagaman dan kebhinekaan,” paparnya.
Gusti Prabu menerangkan, dalam kehidupan didunia ini manusia tidak bisa memilih untuk dilahirkan dimana dan dalam keadaan bagaimana. Ketentuan tersebut telah diatur oleh sang Maha Pencipta, maka dari itu saling menghormati bersama dalam keberagamanlah solusinya.
“Kita tidak bisa memilih lahir dari mana, seperti apa, dalam agama dan kepercayaan apa, lahir dikota mana, apakah Jogja atau Amerika, itu semua tidak bisa kita pilih,” terangnya.
Keberagaman yang Tuhan ciptakan, lanjut Gusti Prabu, pasti memiliki tujuan tersendiri yang tidak manusia ketahui jika tidak dipelajari dan dialami. Maka dari itu, sebagai bangsa Indonesia, sejak dini harus mulai mempelajari dan menyerap hal-hal tersebut yang Tuhan telah berikan.
“Jadi Allah menciptakan keberagaman bangsa kita itu untuk satu kebersamaan, karena tidak mungkin Allah menciptakan keberagaman untuk mencaci, mengejek, apalagi membunuh, maka dari itu harus kita jaga bersama antar umat bergama, adat istiadat, tradisi, dan budaya,” ujarnya
Gusti Prabu menjelaskan, Sultan atau pemimpin jika didalam Kraton ada gelar Sayidin Panatagama yang artinya seorang pemimpin Islam yang menata agama. Filosofinya adalah seorang Sultan, pemimpin ataupun masyarakat, kelakuan yang baik seperti arti dari Sayidin Panatagama harus bisa sampai kemasyarakatnya.
“Jadi manusia itu didalam bersikap baik itu berupa ucapan dan tindakan tidak boleh bertentangan dengan kitab suci agama apapun,” paparnya.
Maka dari itu, Gusti Prabu berharap, seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan baik berupa ucapan ataupun tindakan harus bisa mengerti, memahami, dan menghargai antar suku, ras, agama, tradisi budaya.
“Itu semua harus bisa kita pegang teguh sebagai pedoman hidup seorang pemimpin,” pungkasnya.
NADHIR ATTAMIMI
PUBLISHER : MAS’UD