
MANUSIA terus bergerak kendati ada pembatasan sosial berskala besar atau pembatasan apapun namanya. Begitu pula warga Sulawesi Tenggara. Mobilitas sosial sulit dihindari karena terkait upaya memenuhi keperluan hidup.
Namun, menurut Kadis Perhubungan Sultra Hado Hasina, sejak merebaknya kasus Corona pergerakan warga melalui angkutan lokal terasa menurun. Sebab warga juga menyadari adanya ancaman maut tak terbantahkan dari wabah Covid-19 (Coronavirus Desease-19) yang bersumber dari Wuhan, China.
Ia mengatakan, transmisi virus Corona melalui sarana transportasi adalah keniscayaan. Sarana transportasi berperan mengangkut orang yang terinfeksi atau orang dalam pengawasan (ODP). Orang-orang dalam kategori inilah yang akan menularkan virus tersebut dalam proses transmisi lokal.
Angkutan lokal di Sultra terdiri dari kapal cepat antar kota seperti super-jet, dan angkutan kapal penyeberangan yang menghubungkan pulau demi pulau dan selat di wilayah Sultra Kepulauan. Ada sekitar 10 lintasan penyeberangan di wilayah tersebut yang terintegrasi dalam satu sistem perhubungan darat melalui kapal feri untuk menciptakan kelancaran mobilitas orang dan barang.
Masih banyak lintasan di Sultra yang juga membutuhkan penyediaan infrastruktur transportasi berupa dermaga pelabuhan kapal feri. Antara lain beberapa selat di gugusan Kepulauan Wakatobi. Pembangunan infrastruktur di gugusan itu menjadi skala prioritas dalam rangka mendukung program pariwisata. Sebab Wakatobi merupakan salah satu dari 10 Bali baru dan dikemas dalam paket pembangunan KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional).
Ada pula angkutan lokal dengan penerbangan ke beberapa kota yang memiliki bandar udara seperti Baubau, Wanci, Muna Barat, dan Kolaka. Tetapi belakangan ini dibatasi mengangkut penumpang kecuali barang penting terkait keperluan kesehatan.

Bandara Haluoleo pun dalam dua pekan terakhir ditutup untuk angkutan penumpang kecuali logistik kebutuhan sarana kesehatan. Haluoleo merupakan pintu gerbang utama Provinsi Sultra melalui udara.
Dalam keterangan lebih lanjut, Kadis Perhubungan Sultra menyatakan, pergerakan warga melalui angkutan lokal seumpama kapal fari maupun kapal cepat, belakangan ini menurun hingga di bawah 50 persen.
Selain kesadaran warga kian membaik untuk tidak bepergian, para operator angkutan juga telah bertindak ekstra ketat dalam memberlakukan protocol pencegahan virus Covid-19. Setiap calon penumpang tidak diizinkan naik sarana angkutan tanpa clear kondisi kesehatannya.
Para operator angkutan bersinergi dengan pihak terkait penanganan Covid-19, seperti jajaran kepolisian dan pemda setempat. Masyarakat pun diharapkan tidak lalai menggunakan alat pengaman diri, serta menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan dengan sabun setiap kali melakukan pergeseran tempat. ***
YAMIN INDAS
PUBLISHER: MASUD