oleh

Dugaan Instruksi Pemadaman, Ini Jawaban Manager ULP PLN Raha

Logo tegas.coDireksi & Redaksi tegas.co mengucapkan Selamat & Sukses Konferensi PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PW)I Sulawesi Tenggara pada 9 - 11 Juli 2021 “Tingkatkan Profesionalisme Wartawan Di tengah Pandemi Covid19 Menyongsong HPN 2022 di Kendari””
Manager ULP PLN Raha, Sadrach

TEGAS.CO,. MUNA – Maraknya pemadaman listrik oleh perusahaan negara berlogo petir beberapa hari terakhir membuat masyarakat Muna Resah. Tudingan dan mosi tidak percaya ditujukan kepada Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Raha yang dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Berdasarkan pantauan awak media ini, beberapa histori status wa warga masyarakat Muna menunjukan protes dikala terjadi pemadaman. Bahkan ada seruan Aksi terkait “Dugaan Permainan Pemadaman Lampu Di Kecamatan Duruka Yang Dilakukan Oleh Manager PLN ULP Raha, Akibatnya Aktivitas Mayarakat Kecamatan Duruka Terganggu”.

Rencana aksi tersebut di umbar melalui Medsos @Marwin yang rencananya akan dilakukan aksi dengan Rute: perempatan mangga kuning – Kantor PLN UPL Kota Raha – Kantor DPRD Kabupaten Muna pada hari Jumat 7 Mei 2021 pukul 09.30 Wita.

Menanggapi hal tersebut, PT. PLN (Persero) melalui Manager ULP PLN Raha, Sadrach menyampaikan sejauh ini pihaknya telah bekerja secara maksimal dan memberikan kualitas pelayanan prima dengan merespon cepat setiap keluhan pelanggan.

“Kami sudah bekerja secara optimal. Jadi semua sesuai prosedur dan ketentuan. Tetapi banyak hal yang musti masyarakat juga ketahui sehingga tidak membuat kesimpulan seenaknya atas pemadaman,” ujarnya saat ditemui di ruang kerja, Rabu (5/5).

Sadrach menyebut banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya pemadaman mulai dari eksternal (faktor alam) maupun berasal dari internal PLN sendiri (terkait mesin pembangkit), tetapi pihaknya terus berupaya semaksimal mungkin menyediakan kebutuhan listrik masyarakat. Untuk kejadian pemadaman listrik di Duruka disebabkan kebutuhan listrik masyarakat mengalami kenaikan melebihi kapasitas mesin pembangkit.

“Masyarakat juga harus mengetahui pemadaman listrik disebabkan karena pohon tumbang, tiang ambruk, mesin yang tiba-tiba berhenti karena kelebihan beban. Ini yang masyarakat perlu tahu. Jadi disini tidak ada yang dengan sengaja mematikan listrik,” katanya.

“Selama saya tugas disini, wilayah Duruka itu terjadi pemadaman dari mesin pembangkit karena overload. Beban disana begitu besar, sedangkan mesinnya tidak mampu. Kebutuhan dari daya sudah hampir 2 Mega Watt atau 2 Juta Mb sedangkan kapasitas mesin yang dipunyai PLN hanya 1,7 dan ini sudah paling besar karena mesin yang lain rata-rata dibawah 1,” lanjutnya.

“Jadi kalau mesin gangguan, otomatis yang beban terbesar itu seperti duruka keatas sampai wabintingi akan lebih duluan dipadamkan. PLN pasti buang daya yang terbesar, dipadamkan daya yang terbesar. Sambil menunggu dinyalakan secara bertahap,” terangnya.

Sebagai Manager Pelayanan ia selain melakukan pengawasan juga menginisiasi segala keluhan dan kebutuhan konsumen tetapi tidak bisa mengintervensi terkait pembangkit dan bagian mesin listrik yang menyebabkan terjadi pemadaman. Kalau ada rencana mati lampu/pemadaman ia akan menyampaikan kepada para stakeholder (para Kepala Dinas, camat, lurah dan kepala desa) sehingga dari mereka akan langsung di teruskan ke masyarakat.

“Kita di PLN Raha ini punya dua Manajemen satu bagian Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang punya Kepala tersendiri dan satunya unit pelayanan yang saya pimpin. Semua punya SOP dan cara kerja tersendiri. Kita hanya saling berkoordinasi tanpa ada yang bisa memerintah dan mengintervensi,” ungkapnya.

“Tetapi patut dipahami saya setiap mengetahui adanya pemadaman langsung merespon cepat. Jika terjadinya karena alam seperti pohon tumbang dan tiang listrik ambruk tentu saja anggota langsung saya perintahkan untuk terjun melihat dan mengatasi langsung masalah dilapangan,”sambungnya.

“Kami di ULP juga sebagi pelanggan dari pihak Pembangkit. Saya disini, saya kan sebagai pelanggannya dia, dia kan yang jual listrik ke saya, baru saya jual ke masyarakat. Saya menjadi jembatan untuk menginisiasi kebutuhan masyarakat akan listrik dengan pihak pembangkit. Saya berada ditengah-tengah. Jadi ketika terjadi pemadaman saya komplain terhadap mereka di pembangkit. Kenapa kalian padamkan listrik, pelanggan saya mengeluh adanya pemadaman. Saya minta ke mereka untuk melakukan antisipasi cepat,”tegasnya.

Lebih lanjut Sadrach meminta masyarakat untuk tidak membuat spekulasi dan pemberitaan yang tidak sesuai dengan sebuah tulisan atau seruan aksi yang menyudutkannya. Ia berharap setiap keluhan dan kelemahan institusinya agar di musyawarahkan dengan baik-baik baik melalui audiensi di kantor atau menelponnya secara langsung.

“Tulisan seperti itu sangat saya sesalkan, lebih bagus menulis secara umum secara institusi, bukan manager atau kepala PLN. Tidak masalah jika ditulis PLN Raha sewenang-wenang melakukan pemadaman. Tidak masalah kalau seperti itu. Kalau sebut nama manager membuat pemadaman seolah-olah saya yang turun langsung melakukan pemadaman. Seolah-olah matinya lampu itu karena saya, padahal saya tidak mau mati lampu karena kita secara institusi merasa rugi jika itu terjadi. Mau saya itu menyala semua lampu tidak ada yang mati,”tutup mantan Manager ULP Pasar Wajo Kabupaten Buton itu.

FAISAL/YA

Komentar