oleh

Selamatkan Palestina, dengan Hadirnya Penjaga Kaum Muslim

Logo tegas.coDireksi & Redaksi tegas.co mengucapkan Selamat & Sukses Konferensi PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PW)I Sulawesi Tenggara pada 9 - 11 Juli 2021 “Tingkatkan Profesionalisme Wartawan Di tengah Pandemi Covid19 Menyongsong HPN 2022 di Kendari””
Farah Sari, A.Md (Aktivis Dakwah Islam)

TEGAS.CO.,NUSANTARA – Palestina kembali membara. Duka dan darah mengalir di negeri kaum muslim itu. Kapankah ini semua berakhir? Hanya ketika Palestina dan kaum muslim memiliki penjaga yaitu hadirnya khalifah. Selayaknya Rasulullah Saw dan khalifah setelahnya mampu menjaga harta, jiwa, bahkan aqidah yang mereka yakini baik warga muslim maupun non muslim. Sebuah analogi untuk konflik Palestina dan Israel. Seorang perampok  akan membunuh tuan rumah dan memaksa membagi dua rumahnya. Palestina adalah tuan rumah sedangkan Israel adalah orang asing yang datang. Bantuan seperti apa yang tepat kita berikan agar konflik ini  selesai? Tentu kita harus membantu tuan rumah mengusir perampok. Tidak cukup hanya memberikan obat-obatan dan makanan untuk menyembuhkan luka dan memperpanjang nafas tuan rumah. Tapi perampok masih terus menyakiti mereka. Usir perampok dari rumah tersebut maka akan menyelamatkan tuan rumah dan hartanya.

Sejarah Konflik Palestina dan Israel

Sejarah konflik Palestina dan Israel  terjadi sejak Inggris mendirikan ‘rumah nasional’ bagi minoritas Yahudi di Palestina. Saat itu, Inggris diketahui mengambil alih wilayah Palestina dari kekuasaan Kesultanan Utsmaniyyah yang kalah dalam Perang Dunia I. Warga Yahudi terus menerus bertambah ke wilayah Palestina antara tahun 1920-1940an. Sementara itu, kekerasan antara Yahudi dan Arab juga meningkat hingga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) membagi wilayah Palestina menjadi dua, untuk bangsa Yahudi dan Arab Palestina pada 1947. Keputusan PBB disambut oleh para pemimpin Yahudi, namun ditolak oleh bangsa Arab. Pembagian pun tidak pernah diterapkan hingga kini. Sejarah Palestina dan Israel yang berkonflik bermula pada 15 Mei 1948, saat para pemuka Yahudi mendeklarasikan pembentukan negara Israel. Hal ini memicu penolakan Bangsa Arab Palestina dan perang pecah. (detik.com, 18/5/21)

Perkara penting yang seharusnya dipahami dari penjelasan di atas, Pertama wilayah Palestina pada hakikatnya adalah milik kaum muslim karena bagian dari Daulah Islam Utsmaniyyah. Kedua, Yahudi Israel berupaya merebut wilayah tersebut dari kaum muslim Palestina. Ketiga, Lembaga PBB secara tidak langsung telah membenarkan perampasan wilayah kaum muslim oleh Yahudi Israel. Sikap PBB yang pro Israel terlihat dari solusi membagi wilayah Palestina menjadi dua, untuk bangsa Yahudi dan Arab Palestina. Padahal yang berhak atas tanah tersebut adalah kaum muslim saja.

Kepentingan Ekonomi dan Ideologi Negeri Barat

Negara Barat begitu berambisi untuk menguasai negeri-negeri kaum muslim. Hal ini masuk akal jika melihat besarnya potensi kekayaan alam yang tersimpan di negeri kaum muslim. Dalam mewujudkan keinginan tersebut Barat melakukan eksploitasi dan penjajahan. Baik penjajahan fisik maupun penjajahan secara pemikiran.

Alasan mendasar pendirian “Negara” Israel oleh Inggris, lalu dibesarkan oleh AS semata untuk menjamin kepentingan mereka di Timur tengah ‘kepentingan ekonomi dan ideologinya. Aspek ekonomi berkaitan dengan besarnya SDA yang terkandung di negeri kaum muslim termasuk tanah Palestina. Kekayaan alam ini akan menopang roda perekonomian mereka. Sedangkan kepentingan terbesar mereka adalah menghalangi kebangkitan Islam yang memberikan kebaikan bagi seluruh alam. Yang telah terbukti dimasa lalu.

Allah Swt. berfirman: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS Al Baqarah: 120)

Sikap Muslim Seharusnya

Begitu eratnya kesatuan  kaum Muslim, Rasulullah Saw bersabda, ”Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Hudzaifah ra. bahwa Nabi  saw. Bersabda: “Barang siapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslim semuanya, maka dia bukan golongan mereka.” (HR Al-Hakim)

Muslim Palestina adalah saudara kita. Penderitaan mereka adalah penderitaan kita. Sudah seharusnya kita terlibat dalam upaya pembebasan muslim Palestina dari cengkeraman Yahudi Israel. Pertanyaannya sudahkah kita mengambil peran itu? Atau malah berdiam diri saja karena merasa muslim Indonesia, bukan muslim Palestina. Selanjutnya, sudahkah upaya kita berhasil membebaskan mereka atau kah belum? Karena solusi akan berhubungan dengan cara pandang melihat akar masalah dan dari mana solusi itu diambil. Dari Islamkah atau yang lain.

Solusi Gagal Membebaskan Palestina

Dikutip dari laman tribunnews.com (23/5/21) menyatakan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) siap memfasilitasi perdamaian Palestina dan Israel, seusai keduanya sepakati gencatan senjata. Kantor berita negara UEA, Minggu 23/5/2021) melaporkan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed Bin Zayed Al-Nayhan siap mewujudkan perdamaian.

Sedangkan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Sabtu (22/5/2021) mengatakan permusuhan Palestina dan Israel telah dihentikan dengan gencatan senjata. Tetapi, untuk mencapai perdamaian abadi harus didasarkan pada solusi dua negara, dialog dan resolusi PBB yang relevan. Pembentukan negara Palestina merdeka dengan perbatasan 1967.

Melihat dari aspek solusi yang ditawarkan PBB, UEA dan OKI menunjukkan belum ada upaya sungguh-sungguh untuk mengembalikan tanah Palestina tersebut hanya kepada muslim. Karena hakikatnya tanah tersebut memang milik kaum muslim Palestina. Menurut Islam, satu-satunya solusi yang dapat diterima untuk masalah Palestina adalah pembebasan sepenuhnya dari pendudukan, yang hanya akan terjadi dengan mobilisasi tentara Islam.

Tidak ada ruang untuk membicarakan skenario lain, seperti solusi satu negara atau dua negara, sebagaimana yang didiskusikan oleh musuh umat Islam, atau mereka yang tidak memiliki identitas dan kompas, seperti para penguasa Arab dan kaum muslim sekuler, yang telah sepenuhnya melepaskan diri dari umat Islam, dan mereka sekarang berperilaku seperti tentara bayaran yang tidak bermoral yang menjual diri mereka sendiri dengan harga berapa pun, juga menerima solusi apa pun sebagai imbalan atas perlindungan takhta dan kekayaan mereka.

Islam telah menetapkan bahwa masalah Palestina adalah masalah Islam, bukan masalah yang hanya terbatas pada Palestina atau konsensus bangsa Arab. Tanahnya adalah milik umat Islam sampai hari kiamat. Sehingga membebaskan semua tanah yang diberkati adalah wajib bagi putra-putra Islam yang mampu. Haram membiarkan satu inci tanah di bawah pendudukan, apa pun keadaan atau alasannya. Umat ​​bahkan tidak perlu mempertimbangkan usulan para penjahat kafir untuk tanah yang diberkati Palestina.

Solusi Tuntas Untuk Palestina

Palestina sesungguhnya adalah milik kaum muslimin. Namun, dalam perjalanan sejarah yang panjang dan dukungan berbagai perjanjian, Barat membantu Yahudi untuk menguasai Palestina dan mengusir penduduk Palestina hingga kini. Berbagai solusi tawaran Barat untuk menyelesaikan konflik Palestina-Israel bukanlah solusi hakiki yang mampu mengembalikan Palestina ke dalam pangkuan kaum muslimin. Pembebasan tanah Palestina jelas tak mungkin bergantung pada Barat, yang sudah pasti berpihak pada Israel. Begitu juga, tidak mungkin berharap pada negeri Islam yang tunduk pada kepentingan Barat.

Satu hal yang pasti, untuk membebaskan tanah mulia ini tentu dibutuhkan kekuatan militer yang hebat yang mampu mengalahkan tentara Israel dan sekutunya. Tentu saja, kekuatan militer itu harus datang dari luar Palestina. Oleh karena itu, kebutuhan mendasar Palestina saat ini adalah bantun militer untuk mengusir tentara Israel dari bumi Palestina.

Pemimpin kaum muslim diam tak bergerak. Tak ada satu pun yang mengirimkan tentaranya. Mereka hanya mampu mengecam tindakan Israel atas Palestina, yang sama sekali tak membuat takut Israel. Mengapa ini terjadi? Karena pemimpin negeri muslim  di bawah kendali kafir  Barat. Atas nama kepentingan nasional , kerja sama  dan ekonomi mereka rela melihat saudaranya dizalimi

Seruan jihad dalam satu komando akan terwujud saat seluruh kaum muslim berada di bawah satu kepemimpinan. Yaitu hadirnya seorang khalifah.  Puluhan juta tentara muslim dari seluruh wilayah di bawah naungan Khilafah akan mampu mengusir tentara Israel. Bahkan, induk  yang memberinya makan saat ini (AS) akan dengan mudah terkalahkan.

 

Penulis: Farah Sari, A.Md (Aktivis Dakwah Islam)

Editor: H5P

 

Komentar