Opini

Pelarangan Hijab di India, Umat Muslim Butuh Perisai

200
×

Pelarangan Hijab di India, Umat Muslim Butuh Perisai

Sebarkan artikel ini
Hamsina Halik (Pegiat Literasi)

TEGAS.CO,. NUSANTARA – Kembali kaum muslim di negeri minoritas menjadi sasaran kebencian dan permusuhan oleh orang-orang kafir. Hanya gara-gara keislaman dan simbol-simbol Islam yang mereka kenakan, kaum mendapatkan perlakuan semena-mena dari penduduk non Muslim. Orang-orang kafir itu tak ingin kaum Muslim menampakkan identitas mereka.

Sebagaimana yang tengah terjadi di India saat ini. Adanya larangan gadis muslim berhijab untuk masuk ke dalam ruang kelas di beberapa sekolah di negara bagian Karnataka, India selatan, di Kolkata. Kebijakan diskriminatif ini menyebabkan protes dan kekerasan yang meluas.

Dilansir dari suara.com (10/02/2022), disebutkan bahwa ratusan dari siswa dan siswi, termasuk orang tua mereka, turun ke jalan menentang larangan penggunaan hijab di sekolah. Mereka menuntut agar siswi diizinkan menghadiri kelas meski mereka memakai jilbab.

“Apa yang kita lihat adalah bentuk apartheid agama. Keputusan itu diskriminatif dan secara tidak proporsional memengaruhi perempuan Muslim,” kata AH Almas, seorang pelajarberusia 18 tahun yang sudah mengikutiprotes selama beberapa pekan.

Sungguh ini merupakan tindakan Islamophobia. Sebagaimana yang dikatakan oleh Wakil Ketua Umum (Waketum) MUI Anwar Abbas yang menyesalkan larangan penggunaan hijab di beberapa lembaga pendidikan di India.

“Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat menyesalkan adanya larangan memakai hijab di sejumlah sekolah di India terutama di negara bagian Karnataka. Hal ini jelas-jelas mencerminkan islamophobia, permusuhan dan kebencian dari pihak pemerintah terhadap rakyatnya sendiri yang beragama islam,”kata Anwar dalam keterangan tertulisnya. (okezone.com, 9/2/2022)

Kebencian yang Nyata

Bukan kali ini saja kaum Hindu di India menampakkan kebencian mereka terhadap kaum muslim. Sebelumnya pernah viral video tentang konferensi Partai Politik Mahasabha di India pada Desember 2021. Dalam video tersebut, pembicara menyeru pada jemaahnya untuk melakukan genosida terhadap umat muslim.

“Jika 100 dari kita menjadi tentara dan siap untuk membunuh dua juta muslim, maka kita akan menang … melindungi India dan menjadikan negara Hindu,” kata Anggota Senior Sayap Kanan Hindu, Partai Politik Mahasabha. (CNN Internasional, 15/1/2022)

Alhasil, video tersebut mendapatkan kecaman dari banyak warga India dan masyarakat seluruh dunia karena telah memperburuk konflik agama yang memang sudah mengakar. Sementara, Pemerintah India dinilai kurang menanggapi dengan membiarkan pelakunya. Namun, atas desakan warga, akhirnya kepolisian setempat menangkap seorang pria yang berbicara pada acara itu, walau tidak langsung mendakwanya. (CNN Indonesia, 16//1/2022)

Sungguh, Islamophobia itu telah membuat mereka memusuhi apa yang mereka nilai sebagai bagian dari manifestasi Islam. Adanya larangan hijab ini menambah bukti kekejaman rezim Islamophobia India terhadap muslim. Begitu takutnya terhadap Islam hingga mereka berupaya untuk menyingkirkan agama yang bertentangan dengan agama mereka. Hal ini semakin menguatkan bahwa sistem kapitalisme saat ini tak mampu menghadirkan kedamaian antar umat beragama.

Terhalang Sekat Nasionalisme

Ide toleransi antar umat beragama yang digembor-gemborkan kapitalisme, ketika kaum muslim yang menjadi korban tirani dari rezim yang berkuasa, maka hal itu tak berlaku. Tidak hanya umat muslim di India saja, Muslim Uyghur di China, Muslim Rohingya di Myanmar, Muslim Palestina oleh Israel, dll pun mendapatkan perlakuan yang serupa.

Ditambah dengan adanya sekat nasionalisme, membuat kaum muslim di berbagai negara muslim lainnya negeri-negeri muslim kehilangan empati dan ukhuwah antar kaum muslimin. Bahkan, para penguasa muslim memilih bungkam melihat saudaranya yang ada di belahan bumi lainnya tertindas. Kalau pun ada tindakan, hanya sebatas kecaman kepada penguasa rezim bersangkutan.

Padahal, kecaman ini bukanlah jaminan bahwa kaum muslim minoritas yang tertindas ini akan bebas dan aman dari rezim yang berkuasa. Dan bukan ini yang diharapkan oleh kaum muslim India, melainkan perhatian dan bantuan dari dunia dan kaum muslim lainnya untuk membebaskan mereka dari ketertindasan ini. Maka, seharusnya penguasa di negeri-negeri muslim itu segera mengirimkan pertolongan buat saudara mereka. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya:

“Jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan.” (TQS. al Anfal: 72)

Mengakhiri Penderitaan Kaum Muslim

Sejarah telah mencatat bagaimana kejayaan dan kemuliaan kaum muslimin ketika Islam diterapkan secara Kaffah. Dijadikannya Islam sebagai pengatur kehidupan manusia. Kurang lebih 13 abad lamanya, mereka terlepas dari kungkungan perbudakan manusia dan hanya tunduk secara totalitas kepada Rabb semesta alam.

Ketika umat Islam berada di bawah satu kepemimpinan, tak ada sekat-sekat yang memisahkan mereka. Sebagaimana dalam sistem kapitalisme saat ini. Dengan kekuatan militer dan industri militer yang dimiliki, kaum muslim benar-benar terjamin keamanan dan perlindungannya oleh negara. Tak ada lagi ketakutan. Sebab, Islam dengan aturan-aturannya bukan hanya melindungi dan menjaga umat muslim saja, tetapi juga non muslim.

Pun, telah tercatat bagaimana perjalanan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW serta para Khulafaur rasyidin dan khalifah setelahnya yang terbukti tak pernah membeda-bedakan kaum muslim karena perbedaan tempat tinggal atau wilayah. Semua bersatu dalam satu ikatan yang kuat. Yaitu ikatan akidah Islam. Demikian pula, terhadap kaum minoritas di setiap wilayah kekhilafahan. Tak memandang suku, etnis atau pun agama. Semua diperlakukan adil, tak ada diskriminasi sama sekali.

Islam pun sangat menjaga kemuliaan perempuan. Seorang pemimpin tak akan tinggal diam ketika mendengar seorang perempuan dilecehkan, dihina ataupun dizalimi. Hal ini pernah dilakukan oleh Khalifah Al-Mu’tashim billah dari Kekhilafahan Abbasiyah, ketika menyelamatkan satu orang muslimah dari pelecehan yang dilakukan orang Romawi di Ammuria, Turki.

Beliau langsung mengirimkan ultimatum agar muslimah tadi dilepaskan. Beliau juga mengirimkan pasukan dengan jumlah besar. Panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana Khalifah di Baghdad hingga Ammuria. Sehingga akhirnya Ammuria mampu ditaklukkan.

Dengan demikian, penderitaan kaum muslim di berbagai belahan dunia, terutama di negeri minoritas, hanya akan berakhir manakala aturan-aturan Allah dijadikan sebagai landasan pengaturan kehidupan dalam sebuah institusi. Dan di bawah kepemimpinan seorang pemimpin yang akan menjadi perisai (pelindung) setiap umat Islam di seluruh dunia. Sebagaimana yang telah terjadi di masa lampau.

Wallahu a’lam

Penulis: Hamsina Halik (Pegiat Literasi)

Publisher: Yusrif Aryansyah