Berita UtamaMuna

Festival Liangkabori 2025, Wagub Sebut Cerminan Identitas Pulau Muna

999
×

Festival Liangkabori 2025, Wagub Sebut Cerminan Identitas Pulau Muna

Sebarkan artikel ini
Wagub Sultra hadiri Festival Liangkabori 2025 di Penataran Goa Liangkabori,

TEGAS.CO., MUNA – Wakil Gubernur (Wagub) Sulawesi Tenggara (Sultra), Ir. Hugua menghadiri pembukaan Festival Liangkabori 2025 yang digelar pada 11 hingga 18 Juli 2025 di Desa Liangkobori, Kabupaten Muna.

Mengusung tema “Lestarikan Budaya Leluhur, Daseise Lalo Damowanu Liwu”, festival ini dilaksanakan di kawasan bersejarah Penataran Goa Liangkabori, salah satu situs prasejarah terpenting di Sulawesi Tenggara.

Turut hadir dalam kegiatan ini Bupati Muna, Wakil Bupati Muna, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sultra, perwakilan LIPI dan BRIN, Bupati Buton Tengah, Sekda Muna Barat dan sejumlah pejabat terkait lainnya, serta masyarakat lokal, komunitas budaya, hingga wisatawan yang mengikuti berbagai rangkaian acara

Dalam sambutannya, Wagub menekankan bahwa Festival Liangkabori bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga cerminan identitas mendalam masyarakat Pulau Muna dan Sulawesi Tenggara secara keseluruhan.

Festival Liangkabori bagi Sultra, khususnya Pulau Muna, merupakan sebuah identitas budaya yang sangat penting.

“Liangkabori adalah salah satu situs peradaban kuno yang diyakini telah ada sejak 60 ribu tahun sebelum masehi. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian dari Gravity University,” kata Hugua

Di dalam Goa Liangkabori terdapat berbagai gambar dan lukisan dinding yang merepresentasikan kehidupan masa lampau, seperti bentuk flora, fauna, telapak tangan, dan perahu.

Temuan-temuan ini menjadi bukti bahwa peradaban di wilayah Muna sudah ada sejak zaman prasejarah.

Oleh karena itu, menurutnya, keberadaan Festival Liangkabori tidak hanya menjadi upaya pelestarian budaya leluhur, tetapi juga penegasan jati diri dan kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara.

Tidak hanya itu, keberadaan layang-layang tradisional Kaghati Kolope yang berasal dari daun dan telah menjadi warisan budaya turun-temurun masyarakat Muna.

Dalam Festival Liangkabori, lomba layang-layang kuno menjadi salah satu daya tarik utama yang bahkan diikuti oleh peserta dari luar negeri.

“Festival ini pasti akan mempromosikan tata nilai lokal. Selain situs budaya di dalam Liangkabori, ada juga Kaghati Kolope — layang-layang kuno yang masih lestari sampai hari ini. Menariknya, ada juga orang asing yang datang untuk ikut serta dalam perlombaan layang-layang ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Hugua berharap agar Festival Liangkabori dapat menjadi event tetap dalam kalender pariwisata tahunan Sultra.

Menurutnya, festival semacam ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis budaya dan pariwisata, serta memperkuat integrasi antara warisan leluhur dan kehidupan masyarakat masa kini.

“Budaya lama dan budaya sekarang sudah menyatu menjadi hasanah yang bukan sekadar kenangan masa lalu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan dan ekonomi masyarakat,” ucapnya

“Jika ini berjalan secara simultan, saya percaya Sulawesi Tenggara bisa menjadi sokoguru ekonomi penting di sektor pariwisata nasional,” lanjutnya.

Ia juga menegaskan bahwa sektor jasa, khususnya pariwisata, berpotensi memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan daerah hingga menyumbang devisa negara.

“Selamat kepada Pemda Muna atas penyelenggaraan Festival Liangkabori. Semoga Liangkabori semakin mantap, Kabupaten Muna semakin sejahtera, dan seluruh masyarakatnya semakin maju, aman, sejahtera, dan religius sebagaimana visi ASR-HUGUA,” ujarnya

Festival Liangkabori 2025 diproyeksikan menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya daerah, menggerakkan ekonomi kreatif, serta menjadikan Sultra sebagai destinasi unggulan wisata berbasis sejarah dan budaya di Indonesia.

Festival Liangkabori: Lebih dari Sekadar Perayaan Budaya

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, H. Belli Tombili, menegaskan bahwa Festival Liangkabori bukan sekadar perayaan budaya semata, melainkan juga cerminan identitas mendalam masyarakat Pulau Muna dan Sulawesi Tenggara.

Beliau menekankan pentingnya festival ini sebagai representasi kearifan lokal yang perlu dilestarikan dan dipromosikan.

Festival Liangkabori, bagi Sulawesi Tenggara khususnya Pulau Muna, merupakan warisan budaya yang sangat berharga.

Acara tahunan ini menampilkan beragam atraksi budaya yang memukau, mulai dari tarian tradisional hingga upacara adat yang sarat makna.

“Keberadaan festival ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, sehingga berdampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat,” kata Kadis Pariwisat Sultra.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berkomitmen untuk terus mendukung penyelenggaraan Festival Liangkabori agar tetap lestari dan menjadi kebanggaan Indonesia.