
KENDARI., TEGAS.CO — Matahari pagi di Kendari seakan bersinar lebih terang, menyinari riuh rendah suara celoteh dan tawa yang memecah kesunyian. Mereka adalah masa depan itu sendiri, berkumpul dalam satu ruang, dengan sorot mata yang masih polos namun penuh dengan mimpi tentang sebuah Indonesia Emas yang masih dua puluh tahun lagi akan diwujudkan.
Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 di Sulawesi Tenggara bukan sekadar seremoni; ia adalah sebuah narasi yang dirajut dari harapan, kekhawatiran, dan tekad.
Di hadapan mereka, duduk para pembimbingnya. Drs. H. Asrun Lio., M.Hum., Ph.D., sang Sekretaris Daerah, hadir membawa suara dan semangat Gubernur Andi Sumangerukka yang tak hadir fisik.
Di sampingnya, kehadiran Ny. Arinta Nila Hapsari Andi Sumangerukka, sebagai Ketua TP PKK, Bunda PAUD, dan Bunda Literasi, bagai penyeimbang sebuah perlambang bahwa pendidikan dan kasih sayang adalah dua sisi mata uang yang sama.
Suara Asrun Lio lantang menggema, membacakan titah sang Gubernur. Namun, lebih dari sekadar membacakan, ia seakan sedang menanamkan benih-benih nilai ke dalam relung hati setiap anak yang hadir.
“Rajin beribadah, belajar, berolahraga,” katanya. Kalimat itu bukan klise, melainkan sebuah mantra sederhana yang sering terlupa di tengah gemuruh zaman. “Berbakti pada orang tua, hormat pada guru,” tambahnya, mengingatkan pada akar yang harus tetap menghujam kuat meski dahan-dahan muda itu kelak menjulang tinggi.
Tema besar “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” menggantung megah di atas panggung. Tapi di balik gemerlapnya, Asrun Lio dengan jujur membentangkan bayang-bayang yang mengintai: ancaman stunting yang membungkam potensi fisik, jerat narkoba yang merusak akal budi, kekerasan yang melukai jiwa, serta gelombang budaya asing yang perlahan bisa mengikis jati diri. Ini adalah medan perang yang tak kasat mata, dimana anak-anak adalah benteng terdepan yang harus dilindungi.
Lalu, ia memaparkan dua senjata ampuh dalam medan perang itu: Perlindungan dan Pemberdayaan. Yang pertama adalah perisai sebuah upaya kolektif orang tua, keluarga, dan negara untuk memastikan gizi terpenuhi dan melindungi dari segala bentuk kejahatan.
“Kita harus melindungi mereka dari pergaulan yang tidak baik,” serunya, sebuah pesan yang terasa sangat personal di telinga setiap orang tua yang hadir.
Namun, perisai saja tidak cukup. Anak-anak juga perlu diasah menjadi pedang yang tajam dan tepat arah. Di sinilah pemberdayaan bermain. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan “komunikasi dan empati” untuk memahami setiap bakat, minat, dan cerita cita-cita yang berbeda yang tersimpan dalam dada masing-masing anak.
Pemerintah Provinsi Sultra pun tidak tinggal diam. Narasi kebijakan diterjemahkan menjadi aksi nyata: dari intervensi gizi yang memerangi stunting, pelukan rehabilitasi bagi yang terlantar, hingga bantuan pendidikan yang memastikan tidak ada anak yang terpinggirkan karena biaya.
Enam daerah, Kolaka, Kolaka Utara, Buton, Konawe Utara, Kota Kendari, dan Kota Baubau telah menyandang gelar “Layak Anak,” menjadi oase pertama yang diharapkan segera menjadi sebuah hamparan luas menuju Idola (Indonesia Layak Anak) 2030.
Sebelum suara itu berakhir, sebuah pesan terakhir disampaikan, sebuah peringatan sekaligus doa untuk menghadapi dunia modern: “Jauhi narkoba… Hindarkan diri dari kegiatan menyimpang.” Dan yang paling relevan: “Gunakanlah teknologi informasi secara bijak.”
Sebuah pengakuan bahwa pedang bermata dua teknologi bisa menjadi jendela ilmu atau jurang kehancuran, tergantung pada tangan yang mengayunnya.
Acara pun berakhir. Suara riuh rendah anak-anak kembali memenuhi angkasa. Mereka bubar, membawa pulang bukan hanya kenangan seremonial, tetapi sebuah peta dengan segala tanda bahaya dan petunjuk arah untuk mengarungi masa depan mereka dan masa depan bangsanya.
PUBLISHER: MAS’UD